Halaman

Selasa, 26 Maret 2013

DUA HARI DI TOKO MIRAS Part 2




          Barat, begitulah pemilik toko tempat kini aku bekerja kerap dipanggil. Praktis nama tokonya juga dikenal Toko Barat. Barat itu sendiri kependekan dari nama marganya Hutabarat. Dari nama marga dan aksen bicaranya mudah ditebak ia seorang pemuda berdarah Batak. Tapi dikala menunggu tokonya, ia kerap memutar lagu-lagu Benyamin S. Katanya ada darah Betawi pula yang mengalir dalam tubuhnya.
          Dilihat dari posturnya, Barat adalah lelaki yang ideal sebagai lelaki juga dimata para wanita. Besar dan tinggi meski dilihat dari perutnya belumlah terbilang atletis. Tampangnya lumayan ganteng. Karena ia selalu memakai kaos singlet tanpa lengan, jelas sekujur tubuhnya dipenuhi tato dengan warna senada. Dengan berpakaian begitu barangkali ia ingin memperlihatkan keeksisannya sebagai preman dimuka umum atau mungkin sekadar memberitahu bahwa ia memiliki selera seni yang cukup tinggi.
          “Ris, tadi ada cewek datang kemari cari kamu”, katanya menghampiri kami yang tengah sibuk mengemas. “Dia bilang kontrakannya sudah ketemu juga sudah dibayarkan. Siapa cewek itu? Pacar kamu, bukan?”
          “Yang janda itu, Ris?”, tandasku sekonyong-konyong.
           “Pacar kamu janda? Mendingan cari perawan daripada janda”, sarannya.
            “Biar janda yang penting baik, Bang”, selorohku menyindir sambil melirik Aris dengan sudut mataku.
         “Sudah putusin saja”, sarannya lebih ditekankan lagi seperti orangtua yang tak setuju dengan pilihan hidup anaknya.
          “Memangnya kenapa janda, Bang?”, ujar Aris.
           “Sama janda, kamu bakal membesarkan anak orang lain. Bukan anak kamu sendiri”.
          “Sekarang cari perawan sulit, Bang. Orang yang ngaku perawan saja belum tentu benar ia perawan”, sanggah Aris.
          “Sebenarnya ia putus asa, Bang”, kataku kembali ikut nimbrung. “Pernah Aris juga pacaran sama perawan. Tapi pacarnya itu hobinya marah-marah. Sampai digoblok-goblok segala. Beda katanya sama janda----jauh lebih ramah, lebih perhatian”.
           “Janda lebih baik, Bang”, ucap Aris sambil ketawa-tawa.
          “Fajri, pacar kamu siapa?”, kata Barat mengalihkan topiknya padaku seakan-akan ia sudah kalah melawan Aris. Aku cuma mesem-mesem nggak jelas sambil pura-pura sibuk mengemas.
          Lekas perhatian Barat tertuju pada hasil kerjaan kami yang kami letakkan satu persatu didalam karton. Melihat cara kerja kami yang lambat dan cukup banyak hasilnya yang dirasa kurang rapi, kembali ia menuduhkan cara mengemas yang baik dan cepat. “Hal sekecil apapun ada ilmunya. Untuk membuka plastiknya tidak apa-apa ditiup dulu, lalu masukkan kacangnya sekepal-sekepal”, ungkapnya sambil menggenggam butir-butir kacang itu dalam kepalannya dan memasukkannya dalam kantong plastik.
           “Bang, memangnya toko ini sejak kapan berdirinya?”, tanyaku biar dapat lebih dekat bos. Kali saja dapat naik gaji.
          “Toko ini sudah berjalan kurang lebih sembilan tahun lamanya”, jawabnya.
          “Sebelum buka toko ini, memang Bang Barat kerja apa?”, tanyaku lagi seperti orang yang selalu ingin tahu segala hal.
          “Rampok. Di perempatan Cileungsi”, katanya lugas dengan dua kalimat. Jelas, sepasang matanya terbuka lebar kearahku seakan-akan ia telah siap menyanggah segala tindakan dan perkataanku apabila aku melawannya. “Modal toko ini dari hasil merampok”, terangnya melanjutkan.
          Seharusnya memang aku kaget mendengar kejujuran semacam itu, tapi entah kenapa ekspresi wajahku datar-datar saja. Aku merasa apa yang diucapkan Bang Barat barusan bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Barangkali hal demikian diluar sana, sering aku lihat dan dengar, sudah menjadi sesuatu yang biasa meski kebanyakan masih ditutup-tutupi. Bukankah berita-berita diberbagai media saja lebih cenderung menginformasikan tentang korupsi?
            Memang juga  sudah seperti seharusnya dan paling tepat uang yang diperoleh dengan cara tak halal dimodalkannya juga untuk hal-hal yang kurang baik.
          Dari luar penampilan toko ini memang terlihat seperti toko-toko lain pada umumnya. Etalasenya sendiri diisi dengan barang-barang yang umum dijual, seperti rokok dan mie. Dua kulkas yang diletakkan paling depan toko juga berisi minuman yang umum dijual dan banyak diiklankan di tv-tv. Tapi ketika melihat rak-rak yang bersandar dibalik etalase dan tingginya setinggi dinding toko itu sendiri tersimpan kaleng-kaleng bir dengan berbagai merek; Angker Bir, Bintang, Guinnes, Grand Sand, juga arak China. Dibawahnya diletakkan keranjang-keranjang minuman; anggur merah, anggur putih, kolosom, mansion, vodka, intisari, kamput, arak hitam. Daftar harganya juga dicantumkan diatas etalase. Terselip diantara rak dan etalase, ada dua lagi kulkas ukuran satu pintu. Kedua lemari es itu diisi kantong-kantong ciu yang dibuat dengan dua ukuran. Ukuran kecil seharga 10.000 rupiah dan besar 15.000 rupiah.
          Barang yang laris manis disini memang barang-barang demikian, karena memang itulah dagangan utamanya. Barang-barang diluar itu boleh dibilang sekadar topeng saja. Yang paling laku diantara minuman alkohol lainnya adalah ciu karena harganya yang paling murah. Saat ada orang bermobil membeli ciu, Bang Barat mendumel jengkel padaku seperti anak yang mengadu pada orangtuanya.
          “Barangkali ia sopirnya, Bang”, jawabku santai.
          Yang membuatku prihatin justru yang membeli ciu itu adalah anak-anak seumuran sekolah. Bahkan mereka datang kemari masih berseragam lengkap. Kalau begini, generasi masa depan bangsa tengah terancam. Bodohnya, aku adalah bagian dari rusaknya moral para generasi bangsa.
          Menuju malam makin banyak pemuda-pemuda bahkan pria berumur diatas 40 tahun datang kemari. Tepat dipuncak malam menuju dini hari lebih banyak lagi orang berdatangan. Jadilah Aris yang lebih senior tiga hari dariku menjadi bartender melayani mereka. Sementara aku disuruh memperhatikan bagaimana Aris mengoplos minuman dan melayani mereka bagai orang yang telah dipersiapkan untuk menggantikan Aris. Biasanya mereka mengoplos minuman tersebut dengan minuman penambah stamina seperti Kratingdaeng atau Torpedo. Ada juga yang mengoplosnya dengan minuman cola atau air teh dalam kemasan botol/gelas. Tak ada satupun yang minta oplosannya dengan merk atau jenis minuman alkohol lainnya.
          Menurut Aris malam ini pembeli tergolong sedikit. Kemarin, saat malam minggu, sampai pagi pula, pembeli sampai panjang mengantri ke belakang. “Aku sampai nangis, Jri. Capek banget”, keluhnya. Makin jelas saja penderitaannya sebagai anak yang jauh dari orangtua dan rumah bak seorang perantau dari luar pulau.
         Selain jadi bartender, apabila persedian miras habis di toko, ia juga ditugaskan mengambil setoknya di suatu gudang. Saat malam minggu kemarin ia sampai berkali-kali bolak-balik ke gudang miras tersebut. Jaraknya cukup jauh dari toko. Jalan menuju kesana  saat malam hari begitu gelap. Tiba di gudang pula ia masih memerlukan mencari-cari merek dan jenis miras yang diminta. Tapi tugas-tugas itu harus ia lakukan sebaik mungkin.
          Saat ia baru kembali dari gudang penyimpanan membawa dua box karton berisi setengah lusin miras ditiap box-nya, ia teriak-teriak hp-nya jatuh entah dimana. Kali ini, tanpa menggunakan sepeda motor, ia disuruh segera mencari hp-nya itu. Bang Barat sempat menggerutu agar Aris lebih berhati-hati. Tapi akhirnya ia berikan senter pada Aris. Beberapa menit setelah Aris pergi, aku disuruhnya juga menyusul Aris. Tampaknya ia agak khawatir Aris tak kunjung kembali. “Missed call hp-nya biar cepat ketemu”, perintahnya padaku. “Takutnya nanti keburu sama orang lain”.
          Jadilah aku menyusul Aris. Setelah beberpa meter berjalan, keadaan jalan didepan sana makin lengang dan sepi. Karena baru turun hujan, jalan tampak terasa becek bahkan mirip kubangan air. Tak ada lagi rumah atau lampu yang menyala. Sepenuhnya gulita. Tiba-tiba aku teringat dengan anjing-anjing itu. Tak berani lagi aku melangkah maju. Kukerahkan cahaya layar hp-ku untuk menerangi jalan. Tapi itu tak cukup membantu. Jadilah aku teriak-teriak memanggil nama Aris sebagai tanda bahwa aku menyusulnya. Pandanganku mencoba menembus kepekatan malam. Tak lama kemudian, dari balik gelap muncul sesosok bayangan. Ternyata itu Aris yang tengah berlari kearahku. Sama sepertiku, ia juga tampak ketakutan.
           Tak terbayangkan memang, ketika membawa miras dari gudang, tiba-tiba ditengah jalan muncul seorang atau komplotan kriminal. Pastilah Aris yang bertanggung jawab sepenuhnya. Dapat ditebak, mungkin gaji kami yang bakal dipotong. Apabila sudah kejadian entah berapa uang yang kami terima dan entah cukup buat apa.
           Lebih mengerikannya lagi adalah apabila yang mencegat itu adalah orang dari kepolisian. Dan suatu saat nanti aku pasti mendapatkan giliran tugas seperti Aris tersebut.
         “Bang, gudangnya dipindah kesini saja. Dibelakang toko”, usulku ketika kembali ke toko lagi. “Biar tidak capek bolak-balik. Jadi, kalau persediaan sudah habis, tinggal ambil dibelakang. Tak perlu repot-repot lagi”.
          “Tidak bisa”, sergah Barat cepat seakan ini merupakan sistem yang paling benar dan tak bisa ditawar-tawar lagi. “Kalau ada razia polisi bahaya. Lebih aman kalau gudangnya dipisah jauh”.
          “Razia,  Bang?’, ucapku penuh pikir-pikir. Dan memang seharusnya aku tak perlu merasa heran.
          “Makanya tiap hari besar keagamaan toko tutup. Itulah saatnya kita beristirahat”, terang Barat. “Sebenarnya Abang juga tiap bulan bayar ‘pajak’ sama polisi. Tapi kalau ada apa-apa kalian tenang saja. Tak bakal kalian tersentuh”.
          “Kalau mau bayar ‘pajak’, polisi yang datang kemari atau Abang yang ke kantor polisi?”
          “Jelas Abanglah yang datang. Kalau polisi datang kemari bisa ketahuan belangnya”.
          Kembali kulirik potret yang tergantung dekat jam dinding. Potret itu bergambar seorang pria dengan latar berwarna merah dibelakangnya. Pria itu mengenakan seragam polisi. Tubuhnya ditegakkan sehingga bahunya terlihat sejajar dan kukuh. Pandangan lurus kedepan menatap kamera. Pose itu tampak begitu tegang.
          “Kakak Abang kan polisi, bisa saja kan Abang memanfaatkan posisinya”, sekali lagi aku mengusul dengan pikiran nakal.
          “Jenderal saja bisa ditangkap, apalagi kakak Abang yang cuma polisi biasa”, sangggah Barat.
          Cukup ironi aku melihat kenyataan disini. Barat yang dahulunya merupakan perampok ternyata memiliki kakak seorang polisi. Tapi status kakaknya itu tak cukup mampu membuat Barat lebih berpikir manusiawi. Diotaknya barangkali hanya keuntungan-keuntungan materi belaka. Bahkan, kalender yang terpasang didepan toko juga bergambar orang-orang militer yang berpakaian seragam lengkap dengan segala atributnya. Aku tak tahu pasti apakah benar potret polisi itu adalah kakaknya atau hanya topeng semata untuk mengelabui patroli?
          Lokasi toko Barat itu sendiri terletak didalam gang yang jarang dilalui mobil patroli polisi. Bahkan mungkin mobil patroli tak pernah sama sekali melewati gang tempat toko Barat berlokasi. Alasan itulah yang mungkin membuat Barat mendirikan toko miras di kawasan Garapan. Jauh dari keramaian pasar dan perempatan Cileungsi. Tapi juga tak tersembunyi dan terpojokkan dari keadaan masyarakat sekitar.
          Toko Barat tutup pukul tiga pagi. Semua pintu ditutup rapat-rapat. Bahkan  pada salah satu daun pintu tertempel selembar kertas yang isinya peringatan akan kedatangan pencuri masuk apabila pintu tak terkunci semua. Menurut Barat, saat kali pertama aku menginjakkan kaki dilantai toko ini, sebenarnya ia masih butuh seorang pegawai lagi. Apabila sudah ada tiga orang pegawai, toko akan buka 24 jam nonstop. Sistem kerjanya akan dibagi menjadi tiga shift. Liburnya juga bergiliran seorang-seorang setiap hari minggu. Sebab itulah, Barat meminta mencarikan orang atau teman kami yang sekiranya mau kerja di toko ini.
          Aku dan Aris sudah mengantuk sedari tadi. Ketika semua pintu toko pasti sudah terkunci semua, kami menggelar tikar diatas lantai. Kami tidur dikelilingi etalase dan rak miras. Selimut kumal yang hanya ada selembar kami rebutkan. Besok kami harus kembali pada keseharian yang mesti mulai dibiasakan. Karena jam tutup toko ini dini hari dan kebanyakan pelanggan membeli malam hari, praktis kami tak perlu bangun pagi-pagi. Toko mulai buka selambat-lambatnya pukul sepuluh menjelang siang.
          Sekonyong ada teriakan dari kamar sebelah tempat Barat tidur yang juga merupakan tempat layar CCTV diletakkan. Karena kami tak mengerti dan tak mengacuhkan teriakan tersebut, Barat keluar kamar. “Tidurnya jangan begitu”, tegurnya pada kami berdua. “Balik arah. Pamali”.
          Kami terpaksa memutar tubuh kami sejauh 180 derajat. Arah kepala kami yang tadi berada di timur menjadi mengarah ke barat. Aku tak tahu kepercayaan apa yang dianutnya. Melihat potret Yesus yang ada didalam kamarnya, aku jadi berpikir apakah dalam ajaran Nasrani tidur dengan kepala mengarah timur adalah sebentuk perbuatan dosa? Atau ini hanya kepercayaan adat Batak saja? Atau mungkin ini kepercayaan lain diluar adat dan agama yang dianutnya?
          Heran juga memang, seorang yang dahulunya perampok dan kini penjual miras menyebut pamali. Aku kira ia orang yang tak kenal apa yang disebut larangan ataupun dosa.
          Saat aku memutar tubuhku mengikuti perintahnya mengatur arah tidur yang menurutnya benar, Barat melihat kepalaku tak bertopi. Sepanjang hari tadi memang topi tak pernah lepas dari kepalaku. Topi baru aku lepas ketika mau tidur. Jadilah, Barat melihat rambutku yang berguguran. Pikiranku lekas bekerja cepat. Hal demikian dapat menjadi alasanku segera keluar dari toko ini.
          “Fajri, kepalamu botak”, ujarnya sambil memperhatikan jidatku sebaik mungkin. ”Kamu sering pakai topi ya?”
          “Bukan, Bang. Ini pengaruh obat”, jawabku beralasan. “Jadi rambutku rontok”.
         “Emangnya kamu sakit apa?”.
          “Paru-paru”.
          “TBC?
          “Bukan”.
          “TB?”.
          Setahuku TBC dan TB adalah penyakit yang itu-itu juga. Bedanya hanya terletak pada huruf C-nya saja. Namun saat Barat menyebutkan penyakit itu dalam pertanyaan terpisah, aku yakin ada perbedaan yang signifikan selain daripada huruf C-nya tersebut.
         “Bronchitis”, itulah nama penyakit yang aku sebut. “Jadi paru-paruku penuh bercak”.
          Mengenai bronchitis sebenarnya aku hanya tahu itu adalah salah satu nama organ yang terdapat didalam paru-paru. Aku yakin nama tersebut terdengar asing di telinga Barat. Walaupun demikian, sepertinya ia tak percaya dengan alasanku itu. Berkali-kali ia masih menuduhkan TBC dan TB padaku. Ia juga seperti memaksaku mengakui bahwa aku pernah muntah-muntah darah.
          “TBC itu penyakitnya orang miskin, Bang”, selorohku demi meyakinkan dia.
          “Jadi kamu orang kaya gitu?”
          Aku cukup ketawa saja.
          “Ya, sudahlah tidur. Nanti jam sepuluh buka toko”.
          Selama terbaring yang kulakukan hanya terpaku menatap jam dinding. Sesekali ku berguling ke kanan dan ke kiri. Mataku sulit dipejamkan. Pikiranku berputar-putar bagaimana caranya aku keluar dari toko ini. Sebaliknya, Aris yang berbaring disebelahku terlihat nyenyak.
          Hari makin terang, tapi kondisi didalam toko seperti baru menginjak waktu shubuh. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan toko buka kembali. Segala jenis pekerjaan rumah kami praktekkan disini. Barat bertindak sebagai mandor, menyuruh kami ini dan itu. Ketika ia melihatku kesulitan menggunakan mesin cuci, ia mengajariku dengan sikap yang agak keras. Semua pekerjaan yang menuntut keahlian ibu rumah tangga akhirnya kami selesaikan.
          “Sekarang, bereskan sampah-sampah toko yang ada dibelakang”, suruh Barat kemudian.
          Sampah-sampah toko itu telah menumpuk memenuhi pekarangan belakang toko. Aku dan Aris mesti memilah-milah sampah tersebut. Sampah-sampah itu terdiri dari karton, botol plastik, botol kaca, kaleng minuman, gelas plastik, juga macam lainnya. Sampah-sampah tersebut disortir dan dimasukkan karung sesuai jenisnya masing-masing. Sampah tutup botol minuman juga dipisahkan secara khusus ditempat terpisah. Kemudian sampah-sampah tersebut bakal dijual kembali.
         Menyortir sampah ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Jari-jari tanganku kotor dan kuku-kukuku kemasukan tanah. Ketika kami memasukkan sampah gelas plastik, Barat serta merta memperingatkan kami. “Sebelum dibuang, kalian gosok-gosok dulu tutup kemasannya. Biasanya minuman kemasan gelas ini suka ada undiannya. Lumayan seribu juga. Kalau dikumpulkan sedikit demi sedikit pasti jadi bukit. Nanti kalau sudah banyak baru kita tukarkan ke agennya”.
          Selain itu, apabila kami menemukan kantong plastik yang menurutnya masih layak harus disimpan kembali. “Tambah kerjaan dan tambah lama saja jadinya”, gerutuku seiring Barat berlalu dari hadapan kami.
          Aneh saja, saat ia melihat sapu tergeletak dilantai dan aku melangkahinya, ia marah. “Sandarkan sapunya dekat pintu”, perintahnya padaku. “Bagaimana dengan sampahnya apabila sapunya saja tergeletak begitu”. Tapi kantong plastik yang sudah masuk tong sampah namun menurutnya masih layak digunakan ia simpan kembali.
          “Dasar Batak pelit!”, gerutu Aris menggumam padaku.
           Tiba-tiba hp-ku bordering. Tak biasanya adikku itu menelepon. Padahal biasanya, biar irit pulsa, SMS saja sudah lebih dari cukup. Lekas saja kuangkat panggilan tersebut. “Fajri, kamu dimana. Lagi kerja apa main. Dari kemarin belum pulang”.
          Aku tahu adikku pasti disuruh telepon oleh ibuku. Beberapa aku jawab dengan jujur, tapi tak aku beritahu di toko apa aku bekerja.
          Tepat aku tutup telepon, Barat muncul dari depan toko. Sepertinya ia memantau terus apa-apa yang kami perbuat lewat kamera CCTV. Tapi aku pikir aku tak perlu ketakutan apalagi gemetaran. Kukantongi kembali hp-ku.
         “Siapa tadi?”, aku tahu dalam hatinya ia agak marah melihat aku menelepon saat kerja.
          “Bang, aku mau keluar saja”, kataku langsung pada titik sasaran. Berikutnya telepon tadi aku jadikan alasan yang kuat. “Tadi ibuku bilang ditelepon, kalau jaga tokonya sampai larut malam lebih baik jangan. Penyakitku bisa-bisa kambuh lagi. Bang Barat tahu sendiri, tak baik udara malam bagi penderita paru-paru”.
          “Benar kata ibumu itu”, katanya memperlihatkan sedikit antusiasmenya biar tak kelihatan berlebihan. “Sebenarnya Abang juga mau ngomong begitu sama kamu, tapi Abang takut kamu tersinggung. Kalau keputusan keluarmu sudah bulat, pasti Abang izinkan”.
          Sejak semalam tadi, aku pikir, Barat sudah khawatir dengan penyakit yang kureka-reka ini. Bahkan, pagi tadi saat Aris mencuci piring, ia juga menyuruhku memilih satu piring dan satu gelas demi mengindari penularan penyakit yang kuderita pada yang lain. “Bukannya Abang jijik sama kamu. Ini hanya bentuk kewaspadaan saja. Jadi piring dan gelasmu jangan sampai terpakai oleh yang lainnya”.
          Selain itu, aku tahu ia juga khawatir takut-takut barang dagangannya ikut tercemar oleh virus yang tengah aku idap. Mungkin fatal akibatnya apabila salah seorang pelanggan toko Barat tahu kalau salah satu pegawainya menderita penyakit paru-paru.
          Karena aku cuma bekerja di toko ini selama dua hari, aku cukup diberikan sekaleng susu kental juga uang sebesar 20.000 rupiah.
          Tiba di rumah aku merasa sangat lega. Namun aku tinggalkan Aris disana sendirian. Sebenarnya aku sempat merasa jengkel dan marah juga karena Aris tak menyebutkan sebelumnya di toko macam apa aku akan bekerja. Ia bersikap demikian karena tahu aku pasti bakal menolak dan ia merasa sepi disini tanpa seorang teman. Terakhir ia mengeluh padaku karena tak punya mitra kerja lagi. Nasehatku lebih baik ia juga segera keluar dari toko ini dan ikut gabung kembali bersama teman-teman Alto lainnya. Di pihak lain aku juga tahu, yang paling ia butuhkan saat jauh dari rumah dan orangtua adalah uang.
          Tiba di rumah keluargaku sedikit kaget ketika aku beritahu bahwa aku kerja di toko miras. Lantas, mereka menyebutkan keputusanku tepat keluar dari toko tersebut. Kedepannya, barangkali aku akan ikut berjuang kembali bersama teman-teman berdemo memperjuang hak-hak kami buruh PT. Tri Banyan Tirta alias Alto.

Sabtu, 16 Maret 2013

DUA HARI DI TOKO MIRAS PART 1




           Frustasi, itulah mungkin kata yang paling tepat untukku saat ini. Tak hanya soal kata, juga apa yang bergejolak dibalik pikir. Semua serba stress dan stress.
         Kurang lebih selama dua bulan aku tak punya pekerjaan. Aksi demo karyawan tempat pabrik aku bekerja sudah berlangsung dua minggu. Dimulai sejak akhir Januari lalu. Tetapi rencana dan rapat-rapat sudah berlangsung sebelum tahun baru. Praktis, aku tak punya penghasilan alias gaji.
          Keseharianku akhir-akhir ini hanya berkumpul dan beraksi didepan pintu gerbang pabrik. Berbagai persoalan yang menghimpit tak kunjung tuntas. Sebelas tuntutan yang diajukan tak kunjung dipenuhi. Titik cerah keputusan seakan timbul tenggelam tanpa kepastian.
          Pihak perusahaan juga seakan-akan sengaja mengulur-ngulur waktu. Sebenarnya, sebelum melakukan aksi massa begini, pihak buruh yang digawangi FB HUKATAN KSBSI dari Tangerang, telah melayangkan surat pada pihak perusahaan. Jawabannya cukup mengecewakan; para karyawan dilarang berserikat dan diharapkan keluar dari serikat buruh yang bermarkas di Tangerang tersebut. Akhirnya kembali beberapa surat dilayangkan namun tak ditanggapi sama sekali. Karena dirasa tak ada itikad baik dari pihak perusahaan, demo-lah jalan terakhir yang mesti kami tempuh.
          Selama sebulan lebih kami, para buruh, dirumahkan tanpa jaminan. Hingga keputusan demo dibuat, nasib saya sebagai buruh PT. Tri Banyan Tirta yang memproduksi air minum dalam kemasan dengan merk ALTO, terkatung-katung. Juga demikian dengan teman-teman lainnya. Padahal saya sendiri, apapun keputusan yang diambil oleh pihak perusahaan, sudah siap dengan lapang dada. Setidaknya, meski keputusannya adalah PHK, saya tak perlu lagi membuang-buang waktu lagi dengan berdemo.
          Oleh sebab belum ada kesepakatan antara pihak buruh dengan perusahaan, selain berdemo, disela-sela waktu menganggur itu aku sempatkan mencari lowongan baik melalui media massa ataupun info dari mulut seseorang.
         Sekonyong harapku bagai menjadi kenyataan. Datang pesan SMS dari salah seorang temanku, Aris Munandar.
          “Fajri, mau kerja di toko tidak?”
          Setitik depresi dari sekian titik yang tumbuh lenyap. Segera saja kubalas;
          “Mau banget. Kerja di toko apa? Gajinya berapa?”
          Aris kembali membalas SMS-ku. Namun isi pesannya sama sekali tak menjawab keseluruhan pertanyaanku barusan. Begini isi pesannya;
          “Kalau mau, nanti aku jemput kamu di rumah”.
          Sebenarnya untuk urusan gaji, berapapun upahnya tak masalah. Bagiku asalkan ada penghasilan yang masuk kantong itu sudah cukup. Apalagi sebagai penjaga toko pasti upahnya dibawah standar, bahkan lebih rendah daripada gaji sebagai buruh pabrik.
          Aris memang temanku sepekerjaan yang juga berstatus buruh di PT. Tri Banyan Tirta alias Alto. Namun tak pernah sekalipun ia hadir dalam rapat-rapat serikat buruh apalagi saat aksi demo digelar. Mungkin ketika teman-teman lain tahu atas selalu absennya ia, Aris pasti dianggap sebagai sosok yang tak setia kawan. Tak ikut berjuang demi perbaikan nasib.
          Tapi aku cukup maklum padanya. Pasalnya rumahnya jauh di Sentul. Selama bekerja pulang pergi menempuh jarak yang lumayan panjang. Hingga pada akhirnya ia memutuskan mengontrak kamar yang lokasinya tak jauh dari tempat ia bekerja. Namun semenjak dirumahkan, karena biaya kontrakan tak terbayarkan, ia keluar.
           Meski begitu ia sama sekali tak pulang ke rumahnya di Sentul. Ia justru tinggal dengan seorang janda yang ia sebut-sebut sebagai pacarnya. Janda itu sendiri tinggal dikomplek perumahan Grand Kahuripan. Berita terakhir yang kudengar ia kini tinggal di rumah kontrakan yang berada dalam kawasan Graha Garuda. Pada masa kejayaannya, Graha Garuda merupakan satu-satunya hotel di Cileungsi. Kini kawasan itu tak terawat, bahkan pada malam hari seperti bangunan yang tak berpenghuni. Padahal petak-petak kamar dalam bangunan hotel Graha Garuda itu dijadikan kamar-kamar kontrakan bagi perantau. Terutama perantau dari luar Pulau Jawa.
          Kepindahan Aris ke kontrakan Graha Garuda itu juga menegaskan putusnya hubungan cinta dengan janda Grand Kahuripan. Kini, ia beralih ke janda lain yang juga tinggal di kontrakan Graha Garuda. Menurut pengakuannya pula, janda-janda itu kini berselisih karena memperebutkannya. Bahkan saat tidur, percaya atau tidak, katanya kini ia satu ranjang beserta tiga perempuan lainnya.
          “Lu pegang-pegang mereka, dong! Lu pernah gituan ya sama si janda itu”, simpulku namun masih berada dalam batas percaya atau tidak pada setiap katanya.
           Aris malah cengar-cengir. “Nggaklah. Gue cuma numpang merem aja”.
          “Nggak mungkin banget. Lu punya banyak kesempatan disana”.
          Maka dari itu, disertai penasaran yang menggebu-gebu, pagi itu aku habiskan dengan menunggu kedatangan Aris ke rumahku.
          Tengah hari baru ia muncul didepan rumahku. Mungkin ia terlalu sibuk menjaga toko dan ia gunakan istirahat siang itu untuk menjemputku di rumah.
          “Sudah siap? Bawa pakaian dan celana?”.
          Karena aku sudah menebak kalau bekerja di toko pasti juga harus tinggal disana, aku tuduhkan tas ranselku yang penuh dihadapan Aris. Kalaupun memang tak tinggal disana, upah sebagai penjaga toko pasti hanya cukup untuk biaya ongkos saja.
          Yang membuatku heran dan tak habis pikir justru ketika Aris meminta ijazah asliku. Padahal saat melamar kerja ke pabrik pun, orang-orang hanya melampirkan foto copy-nya saja. Ini sangat tak biasa. Biasanya, bekerja sebagai penjaga toko sudah cukup dengan menuduhkan KTP saja. Lagipula apakah bekerja di toko tersebut membutuhkan pendidikan tingkat tinggi?
          Karena Aris mendesak-desak, akhirnya kubawa juga ijazah asliku itu.
         Semula aku berpikir, kami akan bekerja di toko sembako tak jauh dari pasar Cileungsi, perempatan, atau ruko-ruko di Kenari. Ternyata Aris membelokkan motornya ke sebuah gang lebar berbatu. Gang ini terletak tepat diseberang jalan Graha Garuda. Aku tak tahu persis nama kampung yang tengah kulewati ini. Tapi Aris menyebutkan wilayah ini sebagai Garapan (ditulisnya entah dengan G atau g, tapi sepertinya lebih baik pakai G karena ini terkait nama tempat). Walau disebut Garapan, tempat ini bukanlah lahan kosong yang siap digarap untuk bertani. Rumah-rumah serta kamar-kamar kontrakan berdiri disana-sini, disamping kanan-kiri jalan yang kami lalui. Kawasan ini tidak terlalu padat juga tidak terlalu renggang. Yang paling menakutkanku dari kawasan ini adalah banyaknya anjing-anjing berkeliaran disekitar jalan yang kami lalui. Saking banyaknya aku jadi berpikir, sepertinya jumlah warga di kawasan ini sama banyaknya dengan jumlah anjing yang berkeliaran
           “Anjing-anjing itu sengaja dipelihara buat keamanan di kawasan kampung ini”, jawab Aris setelah aku bertanya padanya mengenai anjing-anjing tersebut. Kuakui aku bukanlah orang penyuka anjing. Sebaliknya, aku takut pada hewan itu. Apalagi kalau sampai melihat juluran lidahnya yang terkadang meneteskan air liur. Maka dari itu aku tak percaya anjing-anjing itu ada yang memeliharanya. Sebagian besar dari anjing-anjing itu tampak kotor tak terawat. Lebih mirip anjing tak bertuan. Apabila semua anjing ini ada yang memeliharanya, melihat jumlahnya saja, dapat dipastikan setiap rumah memelihara lebih dari seekor.
        Herannya lagi, rumah-rumah disini tidaklah terbilang mewah. Sama saja dengan rumah-rumah lain seumumnya di kampungku. Bahkan tak satupun rumah yang terlihat mentereng diantara rumah-rumah lainnya. Yang artinya, aku perkirakan, warga di Garapan ini bukanlah orang-orang dari kalangan ekonomi tinggi. Entah harta macam apa yang mereka lindungi sementara di kampungku saja yang tak ada satu wargapun memelihara anjing keadaan santai-santai saja.
          Tiba di toko yang dimaksud baru aku sadar ternyata Aris mengajakku berkeliling dahulu di kawasan Garapan tersebut, karena letak toko yang bakal menjadi tempat kerjaku hanya berjarak sepuluh meter saja didalam gang dari jalan raya. Padahal aku sudah khawatir saja letak toko ini jauh masuk kedalam gang. Seandainya aku memerlukan keluar pasti aku akan menjumpai banyak anjing disepanjang jalan. Tentu saja karena aku benci anjing aku takkan berani seorang diri berjalan kaki.
          Kemungkinan paling buruk adalah apabila aku tak betah kerja di toko tersebut. bagaimana caranya aku bisa pulang sementara kalau jalan kaki sendirian situasinya mirip berada ditengah-tengah kumpulan ular berbisa yang tengah berkembang-biak.


          Diterima kerja disitu, ijazah asli langsung ditahan dan dimasukkan dalam lemari besi terkunci. Sebenarnya aku ragu menyerahkan ijazah asliku. Tapi karena aku sudah berada disini dan kemauan buat kerja juga begitu besar, aku tak bisa mengelak. Aku sendiri tak mengerti apa maksud si pemilik toko menahan ijazah asliku. Barangkali, dengan ditahannya ijazahku dalam lemari besi terkunci, akan memperkecil kemungkinan buruk terjadi. Aku takkan berani macam-macam.
          Meskipun toko ini persis seperti toko-toko lainnya di kampungku, keamanan didalam toko ini sangat ketat. Toko ini tidaklah cukup besar bahkan toko sembakonya Haji Dadang saja lebih besar dari ini. Letaknya juga jauh dari strategis dan keramaian sekitar. Tapi kamera CCTV mengintai disetiap sudut ruang. Aku sendiri melihat layar tv-nya yang memperlihatkan gambar-gambar terkini dari setiap ruang yang terpantau CCTV. Setidaknya dengan adanya CCTV aku sedikit lega, karena artinya toko ini tak memelihara anjing. Hanya saja saat aku berjalan kebelakang toko, seekor monyet terikat disana.
          Ketatnya aturan dan keamanan disini tak seimbang dengan upah yang diberikan. Pada masa awal-awal kerja kami cuma dibayar 500.000 rupiah. Kedepannya, apabila kami kerjanya bagus dan rajin, upah naik 200.000 rupiah. “Dapat makan tiga kali sehari. Juga sebungkus rokok tiap harinya. Kalau tidak merokok diganti dengan susu”, begitulah selengkapnya yang kami dapatkan dari pemilik toko ini.
          Pertama-tama yang aku kerjakan di toko ini adalah menumpuk cemilan yang terbuat dari berbagai jenis kacang-kacangan. Cemilan-cemilan kacang itu ditumpuk dalam satu ruang dengan tv yang memperlihatkan gambar dari pantauan CCTV. Setelah itu kami mengemas dua kantong besar kacang telor kedalam bungkusan-bungkusan kecil plastik yang dijual seharga seribu rupiah. Ditengah kesibukan mengemas itulah, tiap kali ada pembeli, tercium bau yang begitu kuat diudara. Aromanya begitu menyerap dan merangsang indera penciumanku. Seolah-olah udara telah menguapkan semacam zat kimia. Aku sedikit pasti merasa pernah mencium aroma ini sebelumnya. Akhirnya setelah mencium untuk ketiga kalinya, aku bertanya pada Aris.
          “Itu anggur merah”, jawabnya sambil nyengir. Aku menengok kedepan, menunda sesaat kesibukanku mengemas. Barat, yang merupakan nama pemilik toko ini, tengah menuangkan sebotol minuman beralkohol kedalam kantong plastik. Pada saat itulah, aku melihat lebih banyak lagi botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang tersimpan dalam rak serta keranjang yang sebelumnya luput dari perhatianku.

Rabu, 19 Desember 2012

SERIAL BRITNEY VS CHRISTINA; PART I





          Nama gue Britney. Cukup segitu aja, Britney. Gak pake nama depan, belakang, apalagi tengah. Gue sih gak ngerti kenapa nama gue kebule-bulean gitu. Barangkali tepat di zaman gue lahir, saat itu lagi ngetren-ngetrennya yang serba Hollywood di negeri gue. Pasalnya, bukan nama gue aja yang kebaratan-baratan, anak-anak yang segenerasi sama gue rata-rata namanya juga demikian. Entahlah, barangkali ini ada kaitannya pula dengan pengaruh kapitalis. Tahu, kan, kapitalis itu apa? Gue sih kalo denger kata itu garuk-garuk kepala.
          Duh, gak kebayang juga sih kalo tepat gue lahir, orang-orang pada demam Korea. Bisa-bisa gue bakal dikasih nama Nga Di Min atau Nga Ti Nah. Keliatan banget, kan, kampungannya! Bahkan lebih parah lagi nama gue bisa jadi Shin Don Dong. Kenapa ga sekalian aja kedondong.
           Dan gue emang tidak suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Korea. Beda dengan sodara gue yang hafal seluruh lagu Suju sampai ke akar-akarnya. Tiap hari, bahkan ke sekolah sekalipun, gayanya niru ala-ala girl generations or wonder girl. Ya, chibi-chibi gitu deh.  Sekarang ini, katanya ia lagi sibuk latihan Gangnam style buat dipamerin saat pensi sekolah nanti. Idih, norak banget tahu! Kenapa ga sekalian aja latihan Jaran Kepang sambil makan beling.
             Ya, sebenarnya sih gue juga orangnya gak lokal-lokal banget sih. Salah satu kelokalan yang tertinggal dalam diriku gue yaitu nama panggilan gue. Nama panggilan gue adalah----gue harap kalian pada nutup kuping saat gue nyebutinnya---Bibit. Aduh, itu nama jelas-jelas ga ada rasa feminimnya apalagi kesan sexynya. Jadilah, gue protes sama emak gue.
          “Lebih bagus gitu daripada dipanggil birit”, ceplos emak gue membela diri. Asal kalian tahu aja birit disini artinya bukan lari terbirit-birit ataupun kocar-kacir. Tuh, kata diambil dari kamus warisan nenek moyang gue yang berarti pantat. Tuh kan emak gue emang tega sama anak!
          Kemarin gue senang banget dapat undangan ultah dari sohib gue di sekolah. Lebih tepatnya sohib dalam tanda tanya. Di sekolah boleh dibilang kami tidak selevel, tapi kami duduk dalam ruang kelas yang sama. Jadi, kami sekelas tapi tak selevel. Tapi saat pegang tuh kartu undangan, gue sadar inilah saatnya bilang wow! Karena itu artinya ia telah mandang gue selevel.
          Nama sohib gue yang masih dalam tanda tanya itu adalah Paris. Dia seangkatan gue, dan sudah pasti namanya kebule-bulean juga.
          Meski namanya kebule-bulean persis nama gue, gue pikir nasibnya jauh berbeda. Konon katanya, menurut desas-desus yang santer terdengar, ia bernama demikian karena lahirnya di Prancis. Keren banget, kan! Dasar memang orang kaya mau lahiran aja mesti pergi dulu ke luar negeri. Dan gue pikir-pikir si Paris itu, sebelum lahirpun ia sudah dapat passport biar dapat izin brojol disana. Kalo ga, bisa aja kan dia disangka imigran illegal, diselundupkan didalam rahim emaknya, dan mesti dideportasi dengan keadaan yang masih merah.
           Paris sendiri begitu bangganya dengan tempat kelahirannya. Saking bangganya, bahkan ia sudah berniat untuk mendapatkan cowok Eropa buat dijadiin suami.
         Gue sendiri sih bingung apa hebatnya lahir di luar negeri kalo ujung-ujungnya lu cari makan disini. Di sanapun ia pasti lahirnya di rumah sakit. Dibantu bidan atau dokter. Sama aja kan kayak disini. Kecuali mungkin kelahirannya boleh dibilang istimewa apabila ia lahir tepat dibawah menara Eiffel. Tahu sendiri, dan gue yakin, orang Prancis sekalipun kayaknya belum ada yang lahir tepat dibawah menara Eiffel. Jadi memang, kayaknya pemerintah Prancis wajib menuliskan kelahiran si Paris itu di buku-buku sejarah. Karena lahir dibawah menara Eifel bukanlah hal yang mudah ditiru dan dapat dijadikan trendsetter layaknya born water.
          Gue yakin hut-nya Paris ini pasti bakal diadain gede-gedean. Gak mungkin banget kalo, Paris yang bapaknya pengusaha real eatate, bikin pesta sekelas kandang kambing. Dengan duit yang bejibun amburadul, sampai ga kekantongin, dia pasti mampu ngedatengin artis sekelas Agnes Monica. Lagian buat apa pula nyimpan duit banyak-banyak di bank.
          Sebab itu, gue musti tampil all out sampai ke ujung-ujung bulu kuduk gue ( Kalo bisa sampai bulu ketek. Tapi Alhamdulillah ketiak gue terawat dengan baik ). Gue harus jadi pusat perhatian. Jadi semacam top model yang gayanya wajib ditiru. Kalau bisa gue harus bisa nyaingin yang punya hajat.
          Sudah jauh-jauh hari gue pesen baju ke salah satu perancang. Gue juga sih dapat rekomendasi resmi dari teman gue supaya bikin baju disana aja. Katanya beliau ini pernah ngenyam pendidikan fashion di Paris. Nah, lantaran latar belakang pendidikannya itu, gue rela-relain buka celengan. Gue yakin, seorang perancang yang pernah sekolah di Paris, pasti tahu betul bagaimana caranya bikin baju yang bikin iri anak yang lahir di Paris.
          Tapi sebelumnya gue omongin dulu model baju kayak apa yang gue mau.  Biar entar sang perancang menterjemahkannya ke dunia nyata dengan baik. Simple aja sih. Gue kepengen baju dengan motif ala-ala kulit binatang gitu. Biar kesannya glamour gitu. Gue harus  tampil mewah, elegan, dan suwir-suwir.
          Denger-denger juga si kembar Jessica and Ashlee diundang juga ke pesta kelas kakap itu. Malahan katanya mereka sudah beli gaun pestanya di pasar Tanah Abang. What? Sumpah, gue terkejut banget. Untuk pesta seukuran artis Holiwood, si kembar Jeli---itu panggilan akrab gue kepada mereka----beli gaunnya di pusat grosir Tanah Abang? Apa kata dunia? Kalo sudah pada waktunya, gue janji, gue gak mau deket-deket mereka. Sama saja itu menurunkan harkat martabat derajat gue didepan orang-orang.
          Tapi untungnya, adik gue, Christina, si Korean holic, yang nyebelinnya beribu-ribu kali lipat daripada Hitler, gak diundang. Artinya gue masih diposisi aman. Adik gue itu emang biang propaganda. Setiap tingkah lakunya gak pernah absen bikin malu. Membuat gue kayak seorang kakak durhaka yang ga mampu ngurus sodara sendiri. Cukup dengan bilang amin, amin, amin, kalau perlu seribu kali amin, gue bersyukur. Yes! Yes! Yes!
          Keesokan harinya, gue datang lagi ke butik tempat gue mesen baju buat ngecek kesiapannnya. Waktu gue liat bajunya, gue sampai takjub hingga lupa diri. Coba, dipake manekin aja sudah bagus, gimana kalo dah nempel di badan gue. Secara bentuk badan gue mendekati top model dunia!
         “Boleh gue coba sekarang?”, tuntut gue udah hilang kesabaran.
          Sang perancang cuma senyum-senyum imut dengan gerak tubuh yang gemulai. Gaya kemayunya itu sempat gue ngira dia bukan sekolah di Paris, tapi di Taman Lawang. “Coba aja. Gratis, kok. Entar ex bantuin yey pake baju”, katanya ramah.
         Tentu aja, gue tolak mentah-mentah tawarannya itu. Sekalipun dia kemayu, tetap saja dia cowok. Bisa jadi, kan, kekemayuannya itu adalah kedok. Jadi, tanpa bantuannya, gue pake baju itu.
            Entah kenapa waktu baju itu sudah nempel dibadan ada sesuatu yang terlahir dari jiwa gue. Badan gue rasanya panas. Rasanya gue pengen cakar-cakar dan gigit-gigit. Rasanya gue menjelma jadi cewek binal yang mau segera cari mangsa. Sumpah, gue gak sabar nunggu hari itu akan datang. Gue yakin gue bakal jadi sensasi yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Semua orang bakal terpukau.
          Waktu yang ditunggu-tunggupun akhirnya tiba. Alhamdulillah banget matari masih terbit di timur. Tapi tentu saja mesti nunggu matari tenggelam dulu saat pesta diselenggarakan. Jadi, masih banyak waktu buat gue pamer-pamer di depan muka Christina. Biar ia iri dan langsung semaput karena watak dengkinya.
          “Bagus, kan, baju gue. Nih, baju gue bikin langsung dari designer kesohor” ucap gue sambil lenggak-lenggok centil didepan cermin.
         Sambil cengar-cengir gak jelas, Christina bilang, “Sebenarnya sih yang bagus tuh badan kakak. Pake  baju apa aja pasti cocok. Apalagi kalau ada angin pasti adegannya dramatis kayak Marilyn Monroe pegang roknya”.
          Apa gue ga salah denger? Belajar darimana tuh anak muji-muji gue? Ga biasanya dia begitu. Pasti ada apa-apanya. Tapi saat gue liat lagi bayangan gue dicermin, kayaknya omongan Christina bener banget deh. Ok, gue memang harus positif thingking, setidaknya realistis. Bisa saja, kan, tanpa sepengetahuan gue dia bikin sesaji dan tebar bunga disekeliling rumah buat tobat.
         Adik gue tobat, tak ada lagi yang perlu dikhawatirin!
          Malampun tiba. Matahari terbenam begitu melankolis. Senjapun menambah kedramatisan penampilan gue. Nongkrong disalon sampe berjam-jam lamanya emang ngebosinin. Tapi gue puas. Gue yakin seyakin gue sama Tuhan, guelah primadona pesta itu.
          Sungguh, pesta hut ini seperti yang gue sangka-sangka. Lampu-lampu kristal kelap-kelip disana-sini. Kayaknya Paris langsung nyewa para malaikat dari langit buat mindahin bintang-bintang kebawah sini. Kue tartnya gede banget. Saat gue ngucapin selamat, Paris senyum-senyum gak karuan liat penampilan terbaik gue. Gue yakin dia pasti lagi berusaha menutupi kedengkiannya. Dia kalah oke sama gue.
         Saat acara inti dimulai, para tamu berkerumun mengitari kue tart yang ekstra besar itu. Lagu khas ulang tahun mulai didengungkan. Para hadirin ikut nyanyi dengan ogah-ogahan dan tepuk tangan males-malesan.
          Kue tart dipotong. Potongan pertama tidak diberikan pada sang ortu atau temen deketnya. Tapi langsung diberikan pada sosok lelaki blasteran yang didatangkan langsung dari Australia. Ini dia pangerannya. Semua mata tertuju kearah cowok balsteran itu. Apalagi mata centil para cewek. Mereka semua sepakat, termasuk gue, kalo cowok bule itu patut diperebutkan. Pasalnya, selera Paris adalah bule totok yang langsung diimpor dari Eropa, bukan cowok Indo dari negeri tetangga. Well, gue masih punya kesempatan tebar pesona didepan cowok indo itu, yang gantengnya kebangetan sampe menyiksa pandangan gue.
          Namun pada saat itu ada yang manggil-manggil nama gue. Dari jenis suaranya gue tahu itu dari si kembar chibi Jeli. Gue noleh kebelakang. Dan sumpah gue untuk jauh-jauh dari si kembar jeli tak sanggup gue tepati. Se-nggaknya merekalah yang ngedeketin bukan gue. Semua pandang mata lekas teralih kepada kami bertiga. Tubuh gue rasanya terbakar habis-habisan. Ini kayaknya sensasi yang paling diharapkan di pesta ini.
          Kalo Jessica dan Ashlee selalu pake baju serupa sangatlah wajar. Tetapi ternyata baju yang gue pesen dari perancang terkenal dengan motif belang-belang khas kulit macan tutul, potongannya persis sama dengan baju Tanah Abang yang dipake si kembar. Jelas ini aib! Kutukan!
          Tiba-tiba saja lagu Iwak Peyek yang kontroversi itu berdengung-dengung kencang dikuping gue.
          Lekas saja semua hadirin yang datang berbarengan teriak girang, “Trio macan! Trio macan!”.
          Langsung aja pandangan gue gelap dan tak tahan buat semaput. Satu-satunya hal terakhir yang gue ingat sebelum semaput adalah gue teriak sekencang mungkin. Teriakan itu sampai membuat energy gue habis. “Titiiiiiiiiinnnn!”

Minggu, 25 November 2012

Sebuah Berita Kematian




          Akhir-akhir ini Indra, teman semasa sekolah dulu, kerapkali datang ke rumahku. Kali ini ia datang bersama Deri. Motornya yang agak bergaya semi sport di parkir di pekarangan depan rumahku.
          Selama beberapa menit, bahkan mungkin selama beberapa jam, kami pasti terjebak pada topik pembicaraan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku berharap kehadiran Deri diantara kami dapat memberikan suasana yang lebih segar. Tak seperti hari-hari kemarin yang selalu membicarakan tentang pekerjaan dan rencana-rencana kami kedepan.
          Sebelum aku banyak berbasa-basi, kedua temanku itu sudah duduk di teras depan dan memesan tiga porsi gado-gado yang kebetulan dijual tak jauh dari rumahku. Memang dari kemarin-kemarin Indra sudah ribut-ribut kepengen makan gado-gado. Tapi baru hari ini---keliatannya sekarang ini ia lagi punya banyak duit---ia baru beli bahkan langsung mentraktir kami berdua.
          Obrolan yang keluar diantara kami memang jauh dari tema biasanya, tapi ini sungguh diluar dugaanku. Seperti sebuah kisah yang berada jauh dibatas logikaku.
          “Aku gak nyangka umurnya si Andri itu pendek”, katanya tiba-tiba membuka pembicaraan ini dengan cara yang tak seperti biasanya.
          Aku agak tersentak, namun terlihat diam tenang. Keadaanku stabil terkendali. Namun dibalik kepalaku ini berputar-putar satu pikiran dan satu pertanyaan. Aku berusaha meyakinkan diri ini bahwa aku tak salah dengar, tapi aku juga berharap aku telah salah dengar.
          Andri sudah meninggal? Bagaimana bisa aku sampai tak tahu kabar kematiaan itu? Aku mengingat-ingat entah dimana aku berada saat berita kematian itu disampaikan melalui pengeras suara dari dalam surau kampung. Namun satu hal yang kuingat---mimpi itu!
          Dalam mimpi itu ia mengenakan baju koko putih dipadu kopiah berwarna senada menutupi rambut kepalanya. Ia menatapku dan memegang tanganku. Tatapannya seerat pegangan tangannya. “Fajri, besok aku mau pergi ke pesantren”, ujarnya padaku. “Nanti kamu antar, ya”.
            Aku Cuma menganggukkan kepala.
          Andri memang pernah bilang tentang keinginannya untuk mondok di Cariu selepas sekolah dasar nanti. Tapi pada kenyataannya ia justru meneruskannya ke sekolah madrasah tsanawiyah, lantas melanjutkannya lagi ke SMA biasa di Cibinong.
          Tepat pada waktunya, akhirnya aku mengantarnya. Hanya aku. Tak seorangpun yang mengantarnya selain aku. Andri terus berjalan didepanku. Tanpa menoleh ke belakang apalagi menunggu langkah-langkahku. Dibelakang aku berusaha mengejar ayunan langkahnya. Aku memanggil-manggilnya, namun ia seperti tak mendengar.
          Ketika ada angkot berhenti, ia segera naik tanpa mengacuhkan aku. Ia menyuruh sang sopir untuk segera pergi. Cepat-cepat aku menyetop angkot yang lain. “Bang, tolong kejar angkot yang didepanku”, perintahku pada sang sopir sambil menunjuk-nunjuk kedepan.
     Setelah melintasi jarak yang terlalu pendek untuk adegan kejar-kejaran, akhirnya angkot yang ditumpangi Andri berhenti tepat didepan sebuah kebun kosong.
          Kebun itu ditumbuhi oleh segala macam semak dan tumbuh-tumbuhan liar. Andri berjalan masuk menyusuri jalan setapak didalam kebun kosong tersebut. Buru-buru akupun memasuki kebun itu. Aku teriak-teriak memanggil namanya. Namun jarak kami semakin jauh. Andri semakin tak terjangkau oleh teriakkanku. Ia lenyap dilahap semak-semak serta tetumbuhan liar yang ada disekitarnya. Aku kehilangan jejak. Aku tak tahu apakah harus meneruskan langkah ini atau kembali keluar dari kebun kosong ini. Namun kebingunganku itu terhenti saat aku terbangun dari mimpi itu.
           Andriana, itulah nama lengkapnya. Seperti terakhir kalinya aku melihat, wajahnya putih dengan beberapa titik bekas jerawat yang tak terlalu kentara terlihat. Rambutnya berwarna kecoklatan dengan warna mata serupa. Senyumnya selalu merekah setiapkali bertemu dan menyapaku. Setiap kata yang keluar dari bibirnya selalu berisi tentang kekagumannya padaku dan segala puja-puji yang menerbangkan khayal. Tak pernah sekalipun ia merendahkan atau meremehkanku. Untuk beberapa hal kita memiliki banyak kesamaan.
          Wajah itu, senyum itu----selalu kuingat dalam kenanganku. Dan semakin dalam aku memperhatikan wajah dan senyumnya itu, aku sadar aku telah mengenalnya jauh sebelum aku masuk sekolah.
          Ketika itu, aku duduk di pojok ruangan. Duduk bersila disana sambil membuka-buka buku iqra. Hanya membuka-membukanya dan membolak-baliknya. Setiap huruf Arab yang tertera sekilas kuperhatikan. Aku tak mengerti. Aku sama sekali tak bisa membaca huruf-huruf keriting ini.
          Sementara dipojok ruangan sebelahnya, kulihat seorang anak yang seumuran denganku tengah membaca juz amma begitu lancarnya. Ia sudah tahu dan mengerti huruf-huruf Arab itu. Seorang pria dewasa tanggung---usianya sekitar awal dua puluhan---tengan membimbing anak berkulit putih itu membaca ayat-ayat Al-quran. Beberapa surat ia baca samapai selesai. Setiap ada kesalahan, pria itu segera memotong bacaan anak itu. Sampai akhirnya anak itu menutup buku kitab itu dan menciumnya. Lalu, ia bergeser kebelakang dan bersandar diatas dinding dengan perasaan tenang.
          Di sekolah kuketahui anak itu bernama Andriana tanpa kusadari langsung dialah anak yang pandai mengaji itu. Aku sendiri tak ingat pasti di kelas berapa aku mulai mengenalnya dan bagaimana caranya kami mulai berkenalan. Semuanya terasa begitu tiba-tiba tanpa ada yang mengawali. Satu hal yang kurasa; aku merasa aku tak pernah berjabat tangan saat mulai mengenalnya.
          Sampai kini yang kuingat darinya adalah setiap kata kekaguman serta pujiannya padaku. Juga senyumnya. Seulas senyum yang penuh dengan ketulusan. Tak pernah ada yang memberikan senyuman setulus itu padaku. Dan senyuman itu ikut terhenti seiring kecelakaan sepeda motor itu terjadi.
           “Fajri aku pulang dulu”, kata Indra membuyarkan ingatanku.
          “Besok kesini lagi, kan?”, kataku penuh basa-basi
        “Insya Allah, kalau ada umur”, jawabnya sok religi.
          Ya, setiap persoalan memang tak pernah jauh-jauh dari waktu. Dan waktulah yang mengisi setiap umur makhluk hidup. Kita semua hanya tinggal menunggu kapan waktu yang ada diumur kita habis terpakai. Maka selagi ada waktu, persiapanlah yang mesti selalu kita ingat. Tak hanya tentang kenangan apalagi cita-cita.

Selasa, 06 November 2012

TETANUS OH TETANUS



        Graha Medika, terlalu kecil untuk disebut rumah sakit, namun cukup luas sebagai klinik. Dari luar terlihat beberapa orang tengah duduk di lobi utama yang disulap menjadi ruang tunggu. Para suster tampak sibuk berlalu lalang dengan langkah terburu-buru dan tergesa. Begitu masuk aku merasakan aura yang berbeda. Ketika itulah berkelebat di dalam kepalaku sesosok wajah polos tersenyum padaku, sesosok wajah yang sekian belas tahun hanya mengambang dalam ingatanku saja.
          Dialah sahabat karibku satu-satunya sewaktu SD, Janharuddin.
          Pada masa itu aku adalah anak yang pendiam. Saking lugunya, seringkali aku menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak. Setiap sekolah dan masuk kelas rasanya seperti terjebak ditengah kehidupan belantara liar----siapa kuat dia dapat, siapa lemah dia kalah. Janharuddin selalu hadir di dunia antah berantahku. Dia tak hanya hadir sebagai seorang sahabat, tapi dialah pelindungku juga pahlawanku.
          Tepat dihari pertama masuk di kelas 2 SD, aku kini tahu saat itulah terakhir kalinya aku melihat wajah sang sahabat sejati.
          Biasanya dihari pertama masuk tahun ajaran baru, anak-anak rebutan bangku sekolah. Mereka harus datang sepagi mungkin untuk mendapatkan posisi bangku yang diinginkan. Beruntung bagi mereka yang rumahnya dekat dengan sekolah. Mereka bisa datang sepagi-pagi mungkin dari biasanya. Di ruang kelas baru itu meraka hanya tinggal meletakkan tasnya masing-masing diatas bangku yang telah mereka pilih. Setelah itu mereka bisa kembali lagi ke rumahnya. Beberapa menit lagi lonceng hendak berbunyi baru mereka muncul lagi di sekolah.
          Diantara rumah para siswa, akulah yang terjauh dari sekolah. Sepagi apapun aku tiba di sekolah, meskipun jam masuk kelas masih lama, aku terlambat. Bangku- bangku dibarisan depan telah terisi semua. Tapi tak seorangpun anak yang tampak. Bahkan diluar sana belum ada keramaian para siswa sekolah yang datang. Aku berdiri didepan pintu, perlahan-lahan masuk ke dalam kelas. Satu per satu bangku kuperhatikan, berharap cemas masih ada bangku yang kosong.
          Sebuah sentuhan menepuk bahuku. “Sudah dapat bangkunya, Fajri?”, ucap Janharuddin yang mendadak berdiri disebelahku.
          Dengan putus asa kugelengkan kepala.
          “Ayo kita cari bangku yang kosong!”, Lekas saja Janharuddin memeriksa setiap meja, dari baris depan ke belakang dan dari baris kiri ke kanan. Begitu sibuknya ia bergerak seperti mencari sesuatu benda yang terselip didalam salah satu meja. Ciri yang menguatkan bahwa bangku itu sudah ada isinya adalah dari tas yang tergeletak diatas meja tersebut.
          Apabila kami adalah anak jahil, kami bisa saja memindahkan salah satu tas ke bangku lain yang sudah ada penghuninya. Kami tak melakukannya. Kami tahu , seperti yang sudah-sudah, itu dapat menjadi sumber perselisihan antar siswa. Lagipula aku bukanlah anak yang pandai kelahi.
         Dibangku terakhir, dibagian paling belakang dan pojok, hanya ada satu tas disana. Itu artinya masih ada satu kursi untuk aku duduk. “Kamu disini saja, Fajri”, kata Janharuddin. “Tidak apa-apa dibelakang juga daripada tidak dapat sama sekali”.
          Aku menjawabnya cukup dengan anggukan. Tanpa protes sedikitpun. Meski akupun bertanya juga dalam hati mengapa Janharuddin tak memberikanku tempat di sebelahnya, dibangku paling depan itu seperti anak-anak lain yang selalu ingin sebangku dengan teman akrabnya.
          Keesokan harinya tak kulihat lagi wajah Janharuddin. Perjuangan mendapatkan bangku pun seperti menjadi sebuah kesia-siaan, karena pada akhirnya wali kelas baru kami justru mengatur kembali tempat duduk kami. Aku mendapatkan bangku didepan meski cukup jauh dari meja guru. Padahal semua anak mengharapkan dapat duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan meja guru.
          Saat wali kelas baru kami mengabsen nama kami satu per satu dan memanggil nama Janharuddin, salah seorang siswa menjawabnya. “Janharuddin sakit, Pak”.
          “Sakit apa?”.
          “Kakinya tertusuk paku, Pak”.
          Aku pikir sakitnya tidak parah. Barang satu atau dua hari pasti sembuh meski jalan dengan terpincang-pincang. Namun sudah seminggu dia belum masuk juga. Dari desas-desus yang kudengar sakitnya semakin parah saja. Sudah beberapa kali ia dibawa ke puskesmas bahkan klinik setempat namun kondisinya malah semakin memburuk. Tubuhnya seringkali kedapatan menggigil dengan keringat dingin. Tak usah sesuap nasi, setetes airpun sudak tak masuk lagi kedalam mulutnya. Bahkan katanya bicara saja ia sudah tak bisa. Separah itukah penyakit yang menerpanya?
         “Tetanus”, begitu nama penyakit yang kudengar dari para siswa yang membicarakan tentang Janharuddin. Saat mengucapkan nama penyakit itu seperti terpancar pula keprihatinan amat mendalam dalam wajah mereka. Aku sendiri tak bisa membayangkannya; betapa sakitnya yang dialami Janharudin.
          Tak lama kemudian muncul berita Janharuddin meninggal. Aku tak menangis. Aku hanya terdiam dipojok sekolah, memikirkan bagaimana rasanya harus masuk kedalam lubang yang sempit diusia semuda itu.
          Penyakit serupa kini menjangkiti guru mengajiku. Sudah beberapa hari ini ia terkapar di klinik Graha Medika. Sore itu kami berdua, aku dan kakakku, berniat menjenguknya.
           Kami datangi meja resepsionis. “Bu, ruang isolasi disebelah mana ya?”, tanya Kakaku.
           “Masuk saja ke dalam koridor in”, tunjuk resepsionis itu menerangkan, “lalu naik tangga diujung koridor”.
          Kamipun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh resepsinos itu. Dilantai atas aroma menyengat yang khas makin kentara dihidung. Beberpa pintu kamar terbuka lebar-lebar. Kami dapat melihat ranjang yang berantakan, pasien  yang tengah terbaring dan orang yang menjenguknya. Sebagai tempat untuk merawat kesehatan, klinik in jauh dari standar kebersihan. Keadaannya tak teratur dengan baik.
          Kepada cleaning service yang tengah sibuk mengepel lantai dengan langkah mundur, kami kembali bertanya dengan pertanyaan sama pada resepsionos dibawah tadi
           Lelaki cleaning service itu menunjuk sebuah pintu disebalahnya. Diantara pintu-pintu kamar lainnya, pintu yang paling ujung inilah yang tertutup rapat-rapat. Diatas daun pintu pu ditempel kertas berisi kalimat semacam peringatan. Tanpa mengetuk, kakakku membuka pintu tersebut, berusaha sepelan mungkin agar tak mengeluarkan suara deritan sekecila apapun itu.
           Sebelum kami melangkah masuk bahkan menengok kedalam, langkah kami langsung dicegat dengan tatapan tawar   Khoer dari dalam. Sekilas kami dapat melihat keadaan didalam ruangan begitu gelap dan sunyi. Tirai-tirai kaca secara sengaja ditutup serapat mungkin. Sesaat kami membicarakan keadaan terkini guru mengajiku tersebut. Selain itu, ia juga tidak sendiri menjaga guru mengajiku, tapi bersama Rusda anak dari guru mengajiku. Kamipun meminta agar dapat berbicara dengannya.
          Dari balik pintu ia tersenyum manyambut kami. Wajahnya tenang seakan tak ada apapun yang patut dikahawatirkan. Darinya kami tahu mengapa mengapa lampu dipadamkan dan tirai-tirai ditutup.
          “Bapak sensitive kena cahaya dan suara”, katanya begitu pelan dan hati-hati. “Kena cahaya sedikit saja tubuhnya mengejang. Seperti kesakitan”.
          “Kok bisa?”, ucapku dengan keprihatinan mendalam.
          “Syarafnya….”. kata Rusda sambil menggerakan tangan didepan lehernya seakan-akan hendak menarik dagunya kebawah.
           Aku sendiri Cuma menganggukkan kepala. Entah bagaimana rasa sakitnya ketika Janharuddin menggeram nyeri. Pasti ia menahan rasa sakit berlipat-lipat. Ia tak dirawat di ruang isolasi. Ia hanya berbaring didalam kamarnya bersama orangtua yang selalu berada disampingnya. Orangtuanya hanya tahu tetanus sama saja dengan penyakit demam biasa.