Halaman

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2013

Setitik Semangat Dalam Sepotong Roti



          “Spririt! Spirit!”, itulah yang selalu didengung-dengungkan dalam batin kami diantara desahan nafas kami yang melemah karena lelah. Tapi, puncak Roti yang selalu disebut-sebutkan Usup tak kunjung nampak apalagi tertaklukkan. Barangkali inilah yang dirasakan para pendaki gunung, dan yang paling didamba-damba adalah puncak. Tapi karena matahari makin condong ke barat, kami memutuskan turun sebelum berhasil mencapai puncak.
          Awalnya tak ada rencana sama sekali mendaki bukit yang namanya sama dengan kawasan perkebunan teh di Puncak, Gunung Mas. Usup mengajak kami mengunjungi stand baru food court-nya BTM, Richesse Factory. Katanya makanan disana enak. Cita rasanya adalah rasa pedas yang sampai tingkatan tertingginya di level lima. “Tapi belum ada yang nyoba sampai level lima. Level dua saja pedasnya ekstrem banget. Paling banter  cuma level empat saja. Itupun jarang-jarang”, tandas Usup menggebu-gebu merekomendasikan.
          Aku menolak kesana, karena tiap kali ada kesempatan tujuanku melulu ke BTM. Apalagi menu pedas yang dimaksud Usup itu hanya berupa ayam. Lidahku rasanya sudah kelu mencicipi menu berbahan ayam. Baik di rumah maupun di tempat kerja melulu menunya ayam.
          “Kita ke Takol--Taman Koleksi—aja, yuk!”, ajak Usup lagi. “Sekali-kali lah kita jalan layaknya kaum metropolis”.
          Sepertinya Usup sangat terobsesi dengan gaya konsumtif kaum metropolitan. Selalu yang harus dikunjungi itu mal dan mal. Setidaknya di tempat-tempat yang dikunjunginya tersebut ada banyak penjual makanannya. Kali ini justru Erwin yang menolaknya.
          “Gimana kita ke bukit Gunung Mas saja?”, kembali Usup kasih usul. Sepertinya ia selalu punya jalan alternatif mengajak teman-temannya main, tak mau membuang waktu luang bersama dan berkumpul begini setelah beberapa bulan tak jumpa. Karena hari juga baru masuk adzan zhuhur, aku mengangguk setuju. Erwin sedikit terlihat ragu. Tapi karena tak ada pilihan lain, mau tak mau Erwin ikut juga.
          Sebelum melakukan perjalanan kesana, kami singgah dulu di masjid Al-Huriyyah yang berada dalam kawasan kampus IPB Darmaga. Shalat zhuhur disana. Lalu dengan sepeda motor yang dikendarai Erwin, kami menuju destinasi yang telah disepakati.
          “Kita beli bekal dulu buat persediaan mendaki keatas” kataku saat motor hendak memasuki jalan kecil menuju bukit Gunung Mas itu.
          Motor berhenti tepat didepan jalan itu. Aku dan Usup menyeberang jalan, masuk kedalam toko berlogo mart. Kami membeli tiga botol air mineral ukuran sedang, roti tawar rasa pandan, coklat meses, dan makaroni. Kami memilih barang-barang yang harganya paling murah diantara merek-merek lainnya demi menghemat pengeluaran.
          Keluar toko kami merasa belanjaan kami belum cukup. Melihat rumah makan nasi Padang tak jauh dari toko mart tersebut, akhirnya kami putuskan kesana. Kami tawari Erwin yang berdiri diseberang jalan menunggui motornya. Ia menggeleng. Jadilah kami beli cuma dua bungkus saja. Menuku adalah ayam sayur ( ayam lagi? ). Sementara Usup memilih rendang.
          “Makanan Padang itu rendang”, ucap Usup melirik kearahku. Tapi aku selalu tak pernah puas apabila harus melahap rendang yang hanya sebesar kartu domino itu. Ayam, sesering dan sebosan apapun aku melahapnya, setidaknya ukurannya lebih besar.
          Sekembalinya kami dari rumah makan Padang, kami bertiga langsung berangkat. Tas gendongku yang semula hanya berisi sebuah buku dan berkas-berkas kertas yang sudah lusuh kini terasa lebih berat dipunggungku. Padahal belanjaku tadi hanya sedikit, tapi beban dipunggung seperti bertambah berkilo-kilo.
          Tepat didepan gerbang SMA 1 Ciampea yang merupakan tempat sekolah Usup dulu kami berhenti. Hari libur begini sekolah tampak sepi. Tak ada seorangpun yang menjaga sekolah ini. Pintu gerbangnya sendiri tak terkunci. Kami tengok kanan-kiri, depan-belakang. Karena tak menemukan seorangpun yang mengaku sebagai penjaga sekolah disini, takut kemungkinan motor Erwin bakal ada yang curi, akhirnya motor itu dititipkan ke salah seorang teman Erwin bernama Iki.
          Selama menunggu Erwin kembali dari rumah temannya, aku dan Usup keliling-keliling mengitari tiap sudut gedung sekolah ini bagai mengenang kembali masa putih abu-abu silam. Terutama bagi Usup, sang alumni dari sekolah ini.
          Arsitektur gedung sekolah ini seperti sekolah-sekolah lain pada umumnya. Pintu-pintu ruang kelas mengelilingi sebuah lapangan basket didalamnya. Dibagian paling depan sekolah, berhadapan langsung dengan pintu gerbang, adalah ruang guru atau ruang BP. Istimewanya, tepat dibelakang sekolah itu menjulang tinggi sebuah bukit yang sebentar lagi bakal kami daki. Bukit Gunung Mas bagai memagari bagian belakang gedung sekolah ini. Rimbunnya pepohonan diatas sana menambah daya tarik yang memusatkan pada rasa penasaran. Begitu megah dan penuh rahasia. Terutama di hari libur begini, banyak monyet-monyet liar yang turun ke bawah bukit mencari makanan.
          Usup berlari-lari mengusir monyet-monyet yang bergelantungan diatas pohon. Monyet-monyet itu melompat-lompat ketakutan ke balik genteng. Tapi saat mengusir salah satu dari monyet tersebut, justru kamilah yang berlari ketakutan. Monyet itu menggeram menuduhkan barisan giginya yang kuning. Monyet yang satu itu ternyata cukup nyali untuk melawan kami. Dicarilah sepotong ranting sebagai senjata. Usup mengacung-acungkan ranting itu hingga monyet itu menghilang ke balik genteng.
          Kami terus menelusuri sepanjang koridor sekolah. Tong-tong sampah dalam posisi terbalik dan isinya berserakan disepanjang koridor. Pasti monyet-monyet itu yang mengobrak-abrik seisi tong sampah itu, berharap didalamnya ditemukan makanan.
          “Sup, proses belajar mengajar disini bagaimana? Memangnya gak ke ganggu banyak monyet begini?”, selorohku diantara hentakan suara langkah kaki kami.
          “Kalau pas hari biasa tidak ada monyet yang berani turun kesini”, tandas Usup. “ Mereka juga takut kalau ada banyak manusia”.
          Usup juga menuduhkan ruang-ruang kelas tempat ia duduk selama tiga tahun di sekolah ini. Tepat dibagian paling belakang terdapat tiga kelas baru yang belum sepenuhnya rampung. Ruang-ruang kelas tersebut berada pada posisi bagian paling tinggi daripada kelas-kelas lainnya, sehingga kami harus menanjak naik, melangkahi satu per satu anak tangga.”Sekarang sudah banyak berubah. Ada banyak kelas-kelas yang baru dibangun”, ucap Usup pelan seakan ada rasa disayangkan dalam nada bicaranya.
          Pandanganku menembus kaca jendela salah satu ruang kelas. Dari balik kaca jendela itu kulihat berumpun-rumpun pohon bambu yang berdiri melengkung ditengah keheningan. Daun-daun kering yang dijatuhkannya berserakan diatas permukaan tanah. Aura dibalik kaca jendela ini terasa suram dan angker. Otakku mulai memikirkan cerita horor dengan setting di sekolah ini. “Sup, disini suka ada yang kesurupan?”, kataku.
          “Sering. Tapi tak ada yang sampai kesurupan massal”, jawabnya santai.
          Setelah puas meneliti dan melihat-lihat bangunan baru itu, kembali kami turun ke bawah. Lalu duduk dikursi kayu depan lobi sekolah, dinaungi oleh atap kanopi.
          Tak lama kemudian Erwin muncul dengan naik ojeg. Tanpa banyak basa-basi lagi kami segera bergerak. Kami jalan berbaris kearah bukit itu. Memikirkan apa yang ada dibalik bukit itu menggelitik rasa penasaranku. Menurut Usup sebagai orang yang pernah mencapai puncaknya bilang bahwa puncak dari bukit ini berbentuk roti. Sebabnya disebut puncak roti. Dan aku mulai membayangkan bagaimana kami menikmati sebungkus nasi Padang ditengah ketinggian. Pasti asyik dan menyenangkan layaknya seorang petualang yang menemukan jalur baru menuju puncak gunung.
          Baru saja berjalan beberapa langkah kami telah disuguhkan barisan pohon-pohon jati. Pohon-pohon jati itu memiliki ketinggian sedang dan daun-daunnya belum terlalu rimbun meski kerapatan pohon-pohon jati itu cukup menghalagi cahaya matahari menerobos masuk permukaan bumi secara leluasa. Menurut Usup dahulu, saat ia mendaki pertama kalinya, belum ada barisan pohon-pohon jati ini. “Gersang”, ucapnya. “Barangkali ini semacam realisasi pemerintah yang iklannya sering tayang di tv. Program sejuta pohon. Banyak pohon banyak rezeki”.
          Kerimbunan suasana disinipun menyentil minat kami untuk berfoto. Erwin mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan lensa kameranya kearah kami. Tiba-tiba saja Usup bilang, “Sebentar! Ngeri foto disini. Temanku saja foto sendirian disini, tapi digambarnya ada dua orang”.
          “Maksud lo kita foto berdua disini nantinya bakal ada tiga orang?”, kecamku.
          Usup cukup mengangkat bahunya. Entah apa itu artinya. Barangkali ini hanya masalah teknologi saja. Zaman makin modern. Tak hanya manusia yang mesti mengikuti perkembangan zaman, makhluk-makhluk di alam lain juga memang rasanya dituntut untuk beradaptasi demikian. Apabila mereka tak mengikuti perkembangan otak manusia, mustahil para setan itu berhasil menjerumuskan manusia. Jadilah mereka muncul dalam gambar-gambar yang dibuat manusia baik dalam bentuk bayangan putih ataupun bayangan hitam. Mereka harus lebih eksis lagi, karena jangankan mereka, Tuhan saja banyak yang mengingkari keberadaan-Nya.
          Bentangan jalan setapak menuju dua arah. Usup menunjuk ke kanan sambil mengingat jalur yang dulu pernah dilewatinya. Karena merasa tak yakin, setelah berjalah kearah tersebut beberapa langkah, kami memutuskan berjalan kearah kiri. Sambil mengingat kembali akhirnya Usup meyakini bahwa inilah jalur yang tepat.
          Jalan mendaki mulai terjal. Kami cukup mengikuti jalan setapak yang tersedia. Sesekali Erwin, sebagai orang yang berjalan paling depan, juga teliti melihat tanda berupa tali rafia yang dililitkan diatas batang-batang pohon.
          Usup dan Erwin sesekali mengeluh karena mengenakan sepatu yang tak sesuai digunakan untuk berjalan mendaki begini. Sementara aku merasa cepat lelah dengan tanggungan isi tas dibelakang punggungku.
          Kendati begitu, kami terus maju. Batang-batang dan akar-akar pohon kami gunakan sebagai penopang langkah kaki kami. Kami genggam erat-erat dan segera mengangkat berat badan kami. Sekali-dua ada tonjolan-tonjolan batu yang menyembul dari permukaan tanah. Batu-batu itu setidaknya cukup membantu  pijakan kaki kami. Dan tiap kali kami melangkah serpihan tanah dan kerikil tergoyahkan, berhamburan turun kebawah. Melangkah naik begini dengan kemiringan yang cukup terjal membuat kami cepat letih. Dua botol air telah habis kami minum. Sisa tinggal sebotol lagi. Kami harus mengirit-irit air minum. Ternyata membawa tiga botol air, yang rencananya tiap kepala punya jatah sebotol. Tidaklah mencukupi.
          Berikutnya aku berjalan memimpin. Tas yang kugendong dari tadi aku serahkan pada Erwin. Kali ini jalan tak hanya terjal, tapi juga licin karena basah. Semak-semak belukar yang tumbuh disekitarnya juga menutupi jalan setapak, sehingga kami mesti lebih berhati-hati lagi melangkah.
          Entah berapa meter kami kini berada diatas permukaan tanah. Jalanan sudah tak seterjal tadi. Namun pohon-pohon makin merapat, menghalagi cahaya matahari yang masuk kesini. Beberapa kali kami terlilit akar-akar dan liatnya batang-batang tanaman sulur, membuat kami hampir terjerembab dan berguling kebawah. Kami juga banyak menemukan batu-batu gunung yang besar dan keras. Diantaranya ada juga yang kuduga sebagai kuburan manusia purba. Bahkan dibalik jiwa petualanganku aku berharap dapat menemukan semacam artefak kuno seperti arca arcopodo di gunung Semeru. Tapi Usup bilang aku terlalu mengada-ngada.
          Walaupun demikian, tiap kali menemukan jalan yang mengarah pada dua jalur atau jalan yang terkesan keramat, Erwin selalu bergumam, “Punten! Punten!”.
          Kembali kami disuguhkan dua arah jalan setapak. Aku tak tahu demikian, padahal jalur-jalur yang kami lewati adalah jalur-jalur semestinya yang sudah ditandai oleh pendaki sebelumnya. Kali ini tak kami temukan tanda itu lagi. Sambil memanjangkan lehernya, mata Erwin menerobos ke balik-balik semak dan pohon didepannya. Lilitan tali rafia yang semula menjadi penunjuk arah kami tetap tak ditemukan.
         “Gimana nih kita lanjut atau turun saja?”, desah Erwin sambil mengelap keringat yang mengalir diwajahnya.
          “Wah, kalau turun tanggung amat”, tukas Uus. Sebenarnya ia sendiri tampak sedikit ragu untuk melanjutkan petualangan ini. “Bentar lagi juga nyampe puncak”.
          “Jam berapa sih sekarang?”, kata Erwin lagi. Ia masih belum mampu menguasai nafasnya kembali yang naik turun.
          Aku keluarkan hp-ku dari saku celana. Hampir jam empat sore. Kami saling berpandangan dan kami tahu apa yang dikatakan oleh hati kami masing-masing. Hari sudah mulai sore. Kami takut kemalaman diatas bukit ini. Kami semua menengok ke bawah. Tanpa banyak debat lagi, kami cepat-cepat turun ke bawah dengan langkah terseok-seok.

Rabu, 19 Desember 2012

SERIAL BRITNEY VS CHRISTINA; PART I





          Nama gue Britney. Cukup segitu aja, Britney. Gak pake nama depan, belakang, apalagi tengah. Gue sih gak ngerti kenapa nama gue kebule-bulean gitu. Barangkali tepat di zaman gue lahir, saat itu lagi ngetren-ngetrennya yang serba Hollywood di negeri gue. Pasalnya, bukan nama gue aja yang kebaratan-baratan, anak-anak yang segenerasi sama gue rata-rata namanya juga demikian. Entahlah, barangkali ini ada kaitannya pula dengan pengaruh kapitalis. Tahu, kan, kapitalis itu apa? Gue sih kalo denger kata itu garuk-garuk kepala.
          Duh, gak kebayang juga sih kalo tepat gue lahir, orang-orang pada demam Korea. Bisa-bisa gue bakal dikasih nama Nga Di Min atau Nga Ti Nah. Keliatan banget, kan, kampungannya! Bahkan lebih parah lagi nama gue bisa jadi Shin Don Dong. Kenapa ga sekalian aja kedondong.
           Dan gue emang tidak suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Korea. Beda dengan sodara gue yang hafal seluruh lagu Suju sampai ke akar-akarnya. Tiap hari, bahkan ke sekolah sekalipun, gayanya niru ala-ala girl generations or wonder girl. Ya, chibi-chibi gitu deh.  Sekarang ini, katanya ia lagi sibuk latihan Gangnam style buat dipamerin saat pensi sekolah nanti. Idih, norak banget tahu! Kenapa ga sekalian aja latihan Jaran Kepang sambil makan beling.
             Ya, sebenarnya sih gue juga orangnya gak lokal-lokal banget sih. Salah satu kelokalan yang tertinggal dalam diriku gue yaitu nama panggilan gue. Nama panggilan gue adalah----gue harap kalian pada nutup kuping saat gue nyebutinnya---Bibit. Aduh, itu nama jelas-jelas ga ada rasa feminimnya apalagi kesan sexynya. Jadilah, gue protes sama emak gue.
          “Lebih bagus gitu daripada dipanggil birit”, ceplos emak gue membela diri. Asal kalian tahu aja birit disini artinya bukan lari terbirit-birit ataupun kocar-kacir. Tuh, kata diambil dari kamus warisan nenek moyang gue yang berarti pantat. Tuh kan emak gue emang tega sama anak!
          Kemarin gue senang banget dapat undangan ultah dari sohib gue di sekolah. Lebih tepatnya sohib dalam tanda tanya. Di sekolah boleh dibilang kami tidak selevel, tapi kami duduk dalam ruang kelas yang sama. Jadi, kami sekelas tapi tak selevel. Tapi saat pegang tuh kartu undangan, gue sadar inilah saatnya bilang wow! Karena itu artinya ia telah mandang gue selevel.
          Nama sohib gue yang masih dalam tanda tanya itu adalah Paris. Dia seangkatan gue, dan sudah pasti namanya kebule-bulean juga.
          Meski namanya kebule-bulean persis nama gue, gue pikir nasibnya jauh berbeda. Konon katanya, menurut desas-desus yang santer terdengar, ia bernama demikian karena lahirnya di Prancis. Keren banget, kan! Dasar memang orang kaya mau lahiran aja mesti pergi dulu ke luar negeri. Dan gue pikir-pikir si Paris itu, sebelum lahirpun ia sudah dapat passport biar dapat izin brojol disana. Kalo ga, bisa aja kan dia disangka imigran illegal, diselundupkan didalam rahim emaknya, dan mesti dideportasi dengan keadaan yang masih merah.
           Paris sendiri begitu bangganya dengan tempat kelahirannya. Saking bangganya, bahkan ia sudah berniat untuk mendapatkan cowok Eropa buat dijadiin suami.
         Gue sendiri sih bingung apa hebatnya lahir di luar negeri kalo ujung-ujungnya lu cari makan disini. Di sanapun ia pasti lahirnya di rumah sakit. Dibantu bidan atau dokter. Sama aja kan kayak disini. Kecuali mungkin kelahirannya boleh dibilang istimewa apabila ia lahir tepat dibawah menara Eiffel. Tahu sendiri, dan gue yakin, orang Prancis sekalipun kayaknya belum ada yang lahir tepat dibawah menara Eiffel. Jadi memang, kayaknya pemerintah Prancis wajib menuliskan kelahiran si Paris itu di buku-buku sejarah. Karena lahir dibawah menara Eifel bukanlah hal yang mudah ditiru dan dapat dijadikan trendsetter layaknya born water.
          Gue yakin hut-nya Paris ini pasti bakal diadain gede-gedean. Gak mungkin banget kalo, Paris yang bapaknya pengusaha real eatate, bikin pesta sekelas kandang kambing. Dengan duit yang bejibun amburadul, sampai ga kekantongin, dia pasti mampu ngedatengin artis sekelas Agnes Monica. Lagian buat apa pula nyimpan duit banyak-banyak di bank.
          Sebab itu, gue musti tampil all out sampai ke ujung-ujung bulu kuduk gue ( Kalo bisa sampai bulu ketek. Tapi Alhamdulillah ketiak gue terawat dengan baik ). Gue harus jadi pusat perhatian. Jadi semacam top model yang gayanya wajib ditiru. Kalau bisa gue harus bisa nyaingin yang punya hajat.
          Sudah jauh-jauh hari gue pesen baju ke salah satu perancang. Gue juga sih dapat rekomendasi resmi dari teman gue supaya bikin baju disana aja. Katanya beliau ini pernah ngenyam pendidikan fashion di Paris. Nah, lantaran latar belakang pendidikannya itu, gue rela-relain buka celengan. Gue yakin, seorang perancang yang pernah sekolah di Paris, pasti tahu betul bagaimana caranya bikin baju yang bikin iri anak yang lahir di Paris.
          Tapi sebelumnya gue omongin dulu model baju kayak apa yang gue mau.  Biar entar sang perancang menterjemahkannya ke dunia nyata dengan baik. Simple aja sih. Gue kepengen baju dengan motif ala-ala kulit binatang gitu. Biar kesannya glamour gitu. Gue harus  tampil mewah, elegan, dan suwir-suwir.
          Denger-denger juga si kembar Jessica and Ashlee diundang juga ke pesta kelas kakap itu. Malahan katanya mereka sudah beli gaun pestanya di pasar Tanah Abang. What? Sumpah, gue terkejut banget. Untuk pesta seukuran artis Holiwood, si kembar Jeli---itu panggilan akrab gue kepada mereka----beli gaunnya di pusat grosir Tanah Abang? Apa kata dunia? Kalo sudah pada waktunya, gue janji, gue gak mau deket-deket mereka. Sama saja itu menurunkan harkat martabat derajat gue didepan orang-orang.
          Tapi untungnya, adik gue, Christina, si Korean holic, yang nyebelinnya beribu-ribu kali lipat daripada Hitler, gak diundang. Artinya gue masih diposisi aman. Adik gue itu emang biang propaganda. Setiap tingkah lakunya gak pernah absen bikin malu. Membuat gue kayak seorang kakak durhaka yang ga mampu ngurus sodara sendiri. Cukup dengan bilang amin, amin, amin, kalau perlu seribu kali amin, gue bersyukur. Yes! Yes! Yes!
          Keesokan harinya, gue datang lagi ke butik tempat gue mesen baju buat ngecek kesiapannnya. Waktu gue liat bajunya, gue sampai takjub hingga lupa diri. Coba, dipake manekin aja sudah bagus, gimana kalo dah nempel di badan gue. Secara bentuk badan gue mendekati top model dunia!
         “Boleh gue coba sekarang?”, tuntut gue udah hilang kesabaran.
          Sang perancang cuma senyum-senyum imut dengan gerak tubuh yang gemulai. Gaya kemayunya itu sempat gue ngira dia bukan sekolah di Paris, tapi di Taman Lawang. “Coba aja. Gratis, kok. Entar ex bantuin yey pake baju”, katanya ramah.
         Tentu aja, gue tolak mentah-mentah tawarannya itu. Sekalipun dia kemayu, tetap saja dia cowok. Bisa jadi, kan, kekemayuannya itu adalah kedok. Jadi, tanpa bantuannya, gue pake baju itu.
            Entah kenapa waktu baju itu sudah nempel dibadan ada sesuatu yang terlahir dari jiwa gue. Badan gue rasanya panas. Rasanya gue pengen cakar-cakar dan gigit-gigit. Rasanya gue menjelma jadi cewek binal yang mau segera cari mangsa. Sumpah, gue gak sabar nunggu hari itu akan datang. Gue yakin gue bakal jadi sensasi yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Semua orang bakal terpukau.
          Waktu yang ditunggu-tunggupun akhirnya tiba. Alhamdulillah banget matari masih terbit di timur. Tapi tentu saja mesti nunggu matari tenggelam dulu saat pesta diselenggarakan. Jadi, masih banyak waktu buat gue pamer-pamer di depan muka Christina. Biar ia iri dan langsung semaput karena watak dengkinya.
          “Bagus, kan, baju gue. Nih, baju gue bikin langsung dari designer kesohor” ucap gue sambil lenggak-lenggok centil didepan cermin.
         Sambil cengar-cengir gak jelas, Christina bilang, “Sebenarnya sih yang bagus tuh badan kakak. Pake  baju apa aja pasti cocok. Apalagi kalau ada angin pasti adegannya dramatis kayak Marilyn Monroe pegang roknya”.
          Apa gue ga salah denger? Belajar darimana tuh anak muji-muji gue? Ga biasanya dia begitu. Pasti ada apa-apanya. Tapi saat gue liat lagi bayangan gue dicermin, kayaknya omongan Christina bener banget deh. Ok, gue memang harus positif thingking, setidaknya realistis. Bisa saja, kan, tanpa sepengetahuan gue dia bikin sesaji dan tebar bunga disekeliling rumah buat tobat.
         Adik gue tobat, tak ada lagi yang perlu dikhawatirin!
          Malampun tiba. Matahari terbenam begitu melankolis. Senjapun menambah kedramatisan penampilan gue. Nongkrong disalon sampe berjam-jam lamanya emang ngebosinin. Tapi gue puas. Gue yakin seyakin gue sama Tuhan, guelah primadona pesta itu.
          Sungguh, pesta hut ini seperti yang gue sangka-sangka. Lampu-lampu kristal kelap-kelip disana-sini. Kayaknya Paris langsung nyewa para malaikat dari langit buat mindahin bintang-bintang kebawah sini. Kue tartnya gede banget. Saat gue ngucapin selamat, Paris senyum-senyum gak karuan liat penampilan terbaik gue. Gue yakin dia pasti lagi berusaha menutupi kedengkiannya. Dia kalah oke sama gue.
         Saat acara inti dimulai, para tamu berkerumun mengitari kue tart yang ekstra besar itu. Lagu khas ulang tahun mulai didengungkan. Para hadirin ikut nyanyi dengan ogah-ogahan dan tepuk tangan males-malesan.
          Kue tart dipotong. Potongan pertama tidak diberikan pada sang ortu atau temen deketnya. Tapi langsung diberikan pada sosok lelaki blasteran yang didatangkan langsung dari Australia. Ini dia pangerannya. Semua mata tertuju kearah cowok balsteran itu. Apalagi mata centil para cewek. Mereka semua sepakat, termasuk gue, kalo cowok bule itu patut diperebutkan. Pasalnya, selera Paris adalah bule totok yang langsung diimpor dari Eropa, bukan cowok Indo dari negeri tetangga. Well, gue masih punya kesempatan tebar pesona didepan cowok indo itu, yang gantengnya kebangetan sampe menyiksa pandangan gue.
          Namun pada saat itu ada yang manggil-manggil nama gue. Dari jenis suaranya gue tahu itu dari si kembar chibi Jeli. Gue noleh kebelakang. Dan sumpah gue untuk jauh-jauh dari si kembar jeli tak sanggup gue tepati. Se-nggaknya merekalah yang ngedeketin bukan gue. Semua pandang mata lekas teralih kepada kami bertiga. Tubuh gue rasanya terbakar habis-habisan. Ini kayaknya sensasi yang paling diharapkan di pesta ini.
          Kalo Jessica dan Ashlee selalu pake baju serupa sangatlah wajar. Tetapi ternyata baju yang gue pesen dari perancang terkenal dengan motif belang-belang khas kulit macan tutul, potongannya persis sama dengan baju Tanah Abang yang dipake si kembar. Jelas ini aib! Kutukan!
          Tiba-tiba saja lagu Iwak Peyek yang kontroversi itu berdengung-dengung kencang dikuping gue.
          Lekas saja semua hadirin yang datang berbarengan teriak girang, “Trio macan! Trio macan!”.
          Langsung aja pandangan gue gelap dan tak tahan buat semaput. Satu-satunya hal terakhir yang gue ingat sebelum semaput adalah gue teriak sekencang mungkin. Teriakan itu sampai membuat energy gue habis. “Titiiiiiiiiinnnn!”

Selasa, 06 November 2012

TETANUS OH TETANUS



        Graha Medika, terlalu kecil untuk disebut rumah sakit, namun cukup luas sebagai klinik. Dari luar terlihat beberapa orang tengah duduk di lobi utama yang disulap menjadi ruang tunggu. Para suster tampak sibuk berlalu lalang dengan langkah terburu-buru dan tergesa. Begitu masuk aku merasakan aura yang berbeda. Ketika itulah berkelebat di dalam kepalaku sesosok wajah polos tersenyum padaku, sesosok wajah yang sekian belas tahun hanya mengambang dalam ingatanku saja.
          Dialah sahabat karibku satu-satunya sewaktu SD, Janharuddin.
          Pada masa itu aku adalah anak yang pendiam. Saking lugunya, seringkali aku menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak. Setiap sekolah dan masuk kelas rasanya seperti terjebak ditengah kehidupan belantara liar----siapa kuat dia dapat, siapa lemah dia kalah. Janharuddin selalu hadir di dunia antah berantahku. Dia tak hanya hadir sebagai seorang sahabat, tapi dialah pelindungku juga pahlawanku.
          Tepat dihari pertama masuk di kelas 2 SD, aku kini tahu saat itulah terakhir kalinya aku melihat wajah sang sahabat sejati.
          Biasanya dihari pertama masuk tahun ajaran baru, anak-anak rebutan bangku sekolah. Mereka harus datang sepagi mungkin untuk mendapatkan posisi bangku yang diinginkan. Beruntung bagi mereka yang rumahnya dekat dengan sekolah. Mereka bisa datang sepagi-pagi mungkin dari biasanya. Di ruang kelas baru itu meraka hanya tinggal meletakkan tasnya masing-masing diatas bangku yang telah mereka pilih. Setelah itu mereka bisa kembali lagi ke rumahnya. Beberapa menit lagi lonceng hendak berbunyi baru mereka muncul lagi di sekolah.
          Diantara rumah para siswa, akulah yang terjauh dari sekolah. Sepagi apapun aku tiba di sekolah, meskipun jam masuk kelas masih lama, aku terlambat. Bangku- bangku dibarisan depan telah terisi semua. Tapi tak seorangpun anak yang tampak. Bahkan diluar sana belum ada keramaian para siswa sekolah yang datang. Aku berdiri didepan pintu, perlahan-lahan masuk ke dalam kelas. Satu per satu bangku kuperhatikan, berharap cemas masih ada bangku yang kosong.
          Sebuah sentuhan menepuk bahuku. “Sudah dapat bangkunya, Fajri?”, ucap Janharuddin yang mendadak berdiri disebelahku.
          Dengan putus asa kugelengkan kepala.
          “Ayo kita cari bangku yang kosong!”, Lekas saja Janharuddin memeriksa setiap meja, dari baris depan ke belakang dan dari baris kiri ke kanan. Begitu sibuknya ia bergerak seperti mencari sesuatu benda yang terselip didalam salah satu meja. Ciri yang menguatkan bahwa bangku itu sudah ada isinya adalah dari tas yang tergeletak diatas meja tersebut.
          Apabila kami adalah anak jahil, kami bisa saja memindahkan salah satu tas ke bangku lain yang sudah ada penghuninya. Kami tak melakukannya. Kami tahu , seperti yang sudah-sudah, itu dapat menjadi sumber perselisihan antar siswa. Lagipula aku bukanlah anak yang pandai kelahi.
         Dibangku terakhir, dibagian paling belakang dan pojok, hanya ada satu tas disana. Itu artinya masih ada satu kursi untuk aku duduk. “Kamu disini saja, Fajri”, kata Janharuddin. “Tidak apa-apa dibelakang juga daripada tidak dapat sama sekali”.
          Aku menjawabnya cukup dengan anggukan. Tanpa protes sedikitpun. Meski akupun bertanya juga dalam hati mengapa Janharuddin tak memberikanku tempat di sebelahnya, dibangku paling depan itu seperti anak-anak lain yang selalu ingin sebangku dengan teman akrabnya.
          Keesokan harinya tak kulihat lagi wajah Janharuddin. Perjuangan mendapatkan bangku pun seperti menjadi sebuah kesia-siaan, karena pada akhirnya wali kelas baru kami justru mengatur kembali tempat duduk kami. Aku mendapatkan bangku didepan meski cukup jauh dari meja guru. Padahal semua anak mengharapkan dapat duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan meja guru.
          Saat wali kelas baru kami mengabsen nama kami satu per satu dan memanggil nama Janharuddin, salah seorang siswa menjawabnya. “Janharuddin sakit, Pak”.
          “Sakit apa?”.
          “Kakinya tertusuk paku, Pak”.
          Aku pikir sakitnya tidak parah. Barang satu atau dua hari pasti sembuh meski jalan dengan terpincang-pincang. Namun sudah seminggu dia belum masuk juga. Dari desas-desus yang kudengar sakitnya semakin parah saja. Sudah beberapa kali ia dibawa ke puskesmas bahkan klinik setempat namun kondisinya malah semakin memburuk. Tubuhnya seringkali kedapatan menggigil dengan keringat dingin. Tak usah sesuap nasi, setetes airpun sudak tak masuk lagi kedalam mulutnya. Bahkan katanya bicara saja ia sudah tak bisa. Separah itukah penyakit yang menerpanya?
         “Tetanus”, begitu nama penyakit yang kudengar dari para siswa yang membicarakan tentang Janharuddin. Saat mengucapkan nama penyakit itu seperti terpancar pula keprihatinan amat mendalam dalam wajah mereka. Aku sendiri tak bisa membayangkannya; betapa sakitnya yang dialami Janharudin.
          Tak lama kemudian muncul berita Janharuddin meninggal. Aku tak menangis. Aku hanya terdiam dipojok sekolah, memikirkan bagaimana rasanya harus masuk kedalam lubang yang sempit diusia semuda itu.
          Penyakit serupa kini menjangkiti guru mengajiku. Sudah beberapa hari ini ia terkapar di klinik Graha Medika. Sore itu kami berdua, aku dan kakakku, berniat menjenguknya.
           Kami datangi meja resepsionis. “Bu, ruang isolasi disebelah mana ya?”, tanya Kakaku.
           “Masuk saja ke dalam koridor in”, tunjuk resepsionis itu menerangkan, “lalu naik tangga diujung koridor”.
          Kamipun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh resepsinos itu. Dilantai atas aroma menyengat yang khas makin kentara dihidung. Beberpa pintu kamar terbuka lebar-lebar. Kami dapat melihat ranjang yang berantakan, pasien  yang tengah terbaring dan orang yang menjenguknya. Sebagai tempat untuk merawat kesehatan, klinik in jauh dari standar kebersihan. Keadaannya tak teratur dengan baik.
          Kepada cleaning service yang tengah sibuk mengepel lantai dengan langkah mundur, kami kembali bertanya dengan pertanyaan sama pada resepsionos dibawah tadi
           Lelaki cleaning service itu menunjuk sebuah pintu disebalahnya. Diantara pintu-pintu kamar lainnya, pintu yang paling ujung inilah yang tertutup rapat-rapat. Diatas daun pintu pu ditempel kertas berisi kalimat semacam peringatan. Tanpa mengetuk, kakakku membuka pintu tersebut, berusaha sepelan mungkin agar tak mengeluarkan suara deritan sekecila apapun itu.
           Sebelum kami melangkah masuk bahkan menengok kedalam, langkah kami langsung dicegat dengan tatapan tawar   Khoer dari dalam. Sekilas kami dapat melihat keadaan didalam ruangan begitu gelap dan sunyi. Tirai-tirai kaca secara sengaja ditutup serapat mungkin. Sesaat kami membicarakan keadaan terkini guru mengajiku tersebut. Selain itu, ia juga tidak sendiri menjaga guru mengajiku, tapi bersama Rusda anak dari guru mengajiku. Kamipun meminta agar dapat berbicara dengannya.
          Dari balik pintu ia tersenyum manyambut kami. Wajahnya tenang seakan tak ada apapun yang patut dikahawatirkan. Darinya kami tahu mengapa mengapa lampu dipadamkan dan tirai-tirai ditutup.
          “Bapak sensitive kena cahaya dan suara”, katanya begitu pelan dan hati-hati. “Kena cahaya sedikit saja tubuhnya mengejang. Seperti kesakitan”.
          “Kok bisa?”, ucapku dengan keprihatinan mendalam.
          “Syarafnya….”. kata Rusda sambil menggerakan tangan didepan lehernya seakan-akan hendak menarik dagunya kebawah.
           Aku sendiri Cuma menganggukkan kepala. Entah bagaimana rasa sakitnya ketika Janharuddin menggeram nyeri. Pasti ia menahan rasa sakit berlipat-lipat. Ia tak dirawat di ruang isolasi. Ia hanya berbaring didalam kamarnya bersama orangtua yang selalu berada disampingnya. Orangtuanya hanya tahu tetanus sama saja dengan penyakit demam biasa.

Senin, 08 Oktober 2012

URANG SUNDA FOR PRESIDENT

          Bapak asli Sunda. Ibu pula demikian, tulen. Praktislah aku selaku anaknya ketularan darah meraka, Sunda, tanpa campuran limbah atau polusi segumpal darahpun dari etnis lain.
          Satu cita-cita terbesarku; pemimpin tertinggi di negeri ini, presiden.
          Tak ayal, kedua orangtuaku tertawa geli mendengar keinginanku itu. Tak hanya mereka, tapi juga semua orang disekelilingku menganggap itu mustahil. Bagiku sendiri, alasan mereka menganggap ini aneh adalah sebentuk keanehan juga. Masalahnya bukan aku terlalu tinggi menggantungkan cita-cita, tapi cenderung pada perihal kesukuan.
          “Kita itu orang Sunda, orang yang suka bercanda, orang yang membawa kehidupannya dengan ringan-ringan saja. Bukan orang Jawa yang selalu serius. Dan tentu saja menjadi presiden itu berarti menjadi orang serius. Akan lebih cocok apabila orang Sunda itu menjadi orang panggung; seniman, artis, bahkan pelawak. Diluar dari dunia seni, jadilah orang yang ahli dibidang teknologi”. Begitulah kata orang-orang termasuk pula kedua orangtuaku.
          Niatku tetap tak terpengaruh omongan mereka. Sedari awal menjadi presiden adalah impianku sampai mati. Sekali-kali wajib orang Sunda berperan sebagai pemimpin di negeri ini, karena apabila tak demikian sejarah akan selalu mencatat suku Sunda akan selalu dibawah Jawa.
          Pernah suatu kali salah seorang guruku menyebutkan begini---meskipun dengan nada kelakar; “Kita itu harus hati-hati sama orang Jawa. Jangan macam-macam sama mereka, karena apabila orang Sunda diusir dari Pulau ini kemana pula kita harus lari. Orang Sunda tak punya pulau selain selat. Mau kalian selama hidup berenang di selat sambil menunggu Krakatau kembali meletus sedahsyat mungkin agar laharnya membentuk pulau baru dan dapat kita tempati”.
          Tentu saja karena itu dibawa dengan ringan sama sekali tak membuat para murid berpikir dan mempertanyakannya lebih jauh. Malah kita, para murid, justru tertawa-tawa dengan pandangan guruku itu.
          Tapi ketika aku tumbuh dewasa aku mulai memikirkannya kembali; meskipun kita, Sunda dan Jawa, berada dalam satu kesatuan sebuah negara, apa salahnya juga melawan demi harga diri kesukuan kita? Apakah kita belum puas dengan sejarah kita yang selalu mengalah, bahkan melepaskan atribut kehormatan kita ketika para pemuda kita semasa Mataram berdiri, disandera disana dan di-jawa-kan? Sementara raja-raja kita, setiap tahunnya harus mau bersikap layaknya seorang sudra dengan melakukan pekerjaan tukang kebun di Mataram sana? Apakah ini imbas dari watak kita yang tak menyukai kekerasan, pertumpahan darah? Memikirkan semua itu memang tak layak di tanah yang disebut parahyangan----yang berarti tempat para dewa bersemayam--- terjadi banyak peperangan. Dan memang apa guna pula kekuasaan manusia dibandingkan dengan kekuasaan sang hyang, Tuhan semesta alam. Namun tentu saja kita juga tak boleh memperbudak diri kita kepada manusia seperti halnya kita memperbudak diri terhadap Tuhan.
          Meski suku Sunda terusir dari pulau Jawa, bukankah kawasannya justru Sunda punya; kepulauan Sunda Besar ( Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulewasi ) dan kepulauan Sunda Kecil ( Bali, Nusa Tenggara ), dan entah Sunda macam apapula Maluku dan Papua? Barangkali kelak ketika aku sudah menjabat presiden nanti aku akan menyebut pulau-pulau paling timur itu dengan kepulauan Sunda Sedang-Sedang saja.
           Dari zaman purba hingga era modern ini sejarah Jawa selalu diwarnai dengan perebutan kekuasaan. Ada orang yang berhasil mengambil alih kekuasaan, berarti ada juga orang yang harus bersedia menjadi budaknya. Tak heranlah banyak orang Jawa bersedia membungkuk, menunduk, bahkan mengesot dihadapan para penguasanya. Melihat kenyataan ini aku tahu, sebenarnya masyarakat Jawa  sendiri memiliki perasaan nasib yang sama dengan orang Sunda. Dan, aku tak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut hingga anak-cucu kita. Kuncinya, aku tak boleh menyerah meraih cita-citaku ini. Aku takkan membiarkan negeri ini sebagai negeri para budak.
          Selepas SMA aku masuk fakultas politik, melanggar tuntutan orangtua yang menyuruhku masuk fakultas seni atau mendaftar ke ITB. Orangtuaku marah namun akhirnya pasrah. Selain kuliah, aku juga bekerja. Barangkali inilah yang paling disukai oleh kedua orangtuaku; aku mengisi sebuah acara di stasiun tv sebagai pelawak. Kata mereka aku benar-benar seperti orang Sunda murni.
          Pertama kali menginjakkan kiprahku di dunia perlawakan, aku selalu menjadi bulan-bulanan para senior. Namun semakin lama aku berkecimpung di dunia hiburan, sebaliknya justru akulah yang membulan-bulani para juniorku. Dalam lawakanku, agar orang-orang mau tertawa, aku tak segan-segan menjelek-jelekkan bentuk fisik mereka bahkan privasi rekanku sendiri.
          Namun tatkala memasuki dunia kampus kembali aku berpikir apakah benar yang kulakukan dalam lawakanku itu? Ketika aku mulai membuka-buka buku politikku, rasa-rasanya aku tak beradab sekali telah melakukan lawak semacam itu. Apakah dalam tradisi guyon Sunda pun ada lawakan semacam itu?
          Aku sendiri pernah menjadi junior. Aku tahu sekali dua kali, orang-orang yang merendahkan fisikku dalam lawakan sama sekali tak berpengaruh. Namun ketika itu dilakukan berkali-kali, aku selalu bercermin mengapa orang begitu mudahnya menjelek-jelekkan aku. Tapi aku juga tahu itu hanya bercanda, tidak serius. Tapi bagaimanapun juga, sekalipun bentuknya bercanda ternyata itu mampu merasuki perasaanku. Barangkali begitu, dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Bodohnya, aku telah meniru kelakuan seniorku kepada junior-juniorku.
           Disini aku mulai simpulkan tak ada beda gossip dengan lawakan semacam itu; sama-sama dapat menjadi ghibah. Terkecuali keadaannya; gossip dilakukan dibelakang orangnya, sementara lawakan dilakukan terang-terangan didepan orangnya. Maka aku mulai berpikir, seharusnya sebagai anak kuliahan aku harus bercanda dengan cara yang intelek bukan dengan mengangkat kejelekan orang, karena bercanda itu bukan hanya sekedar tawa dengan cara merendahkan tapi juga dapat membuat orang-orang berpikir kritis dengan cara yang ringan.
          Selepas kuliah, aku tinggalkan dunia lawakan yang telah membesarkan namaku dari anak kampung menjadi manusia metropolis. Sekali lagi aku kembali mengecewakan kedua orangtuaku; aku menikahi seorang gadis Jawa.
            “Apakah kamu sudah seperti orang-orang diluar sana yang menganggap gadis-gadis  kita sebagai perempuan matere?”, begitu omel orangtuaku. “Bahkan sampai menganggap lebih cocok dijadikan permainan---pelacur---ketimbang jadi istri?”
          Ketika itupula keluar dari mulut mereka berbagai mitos lelaki Sunda mengawini perempuan Jawa; pernikahannya akan awet rajet, meski terlihat rukun sebenarnya rumah tangganya dingin, selalu diselingi dengan pertengkaran. Bahkan banyak mitos lain yang tak mampu aku sebutkan disini.
          Bahkan keluarga dari istriku sama tak setujunya dengan hubungan kami. Mereka begitu detail melihat calon suami anaknya ini. Mereka bilang lelaki Sunda itu doyan daun muda alias poligami.
          Walaupun demikian, akhirnya mereka pasrah juga sambil mendoakan yang terbaik untuk kami.
          Keluar dari dunia kampus dan lawak, tentu saja aku meniti karir sesuai dengan pendidikan dan cita-citaku. Aku menjadi seorang kader partai politik. Atas dukungan istriku karirku cepat melesat. Barangkali karena ia seorang Jawa, tahu obsesiku meraih kekuasaan ia terlihat begitu bangga. Meski dari luar orang-orang menganggapnya sebagai perempuan lugu nan kalem.
          Takdir akhirnya memberikanku kesempatan sebagai salah satu kandidat presiden. Tak aneh, para rivalku kebanyakan dari suku Jawa. Seperti sebelum-sebelumnya, boleh dibilang mereka adalah calon presiden S yang akan melanjutkan dinasti presiden S sebelumnya. Dan hanya ada seorang saja, calon presiden yang dari luar pulau Jawa.
          Disaat pencalonan ini, tibalah aku mesti naik panggung, berkampanye mempromosikan diri habis-habisan. Pidatonya sederhana; bermunafik-munafik ria saja. Semuanya serba digratiskan apabila aku terpilih. Namun tak ada orang yang menganggap omonganku itu serius. Sepertinya bukan karena meraka tahu janji-janjiku hanya bualan saja, tapi mereka benar-benar tertawa melihatku.
          Benarkah kata orangtuaku bahwa orang Sunda itu tak pantas menjadi orang yang serius? Bahkan terlihat seriuspun menjadi bahan tertawaan. Kendati begitu, sebisa mungkin aku menyelesaikan pidatoku. Aku turun dari panggung dengan rasa malu yang amat sangat. Ketika itu istriku juga terlihat senyum-senyum, menertawaiku. Ia menunjuk kebawah, memberitahuku dengan berbisik; resleting celanaku belum dikancingi.

Rabu, 02 Mei 2012

KANIBAL KAPITALIS DI GUBUK REYOT


          Sesekali cobalah arahkan pandanganmu kearah sebuah gubuk reyot ditengah ladang kering itu. Sepanjang waktu mata kita sudah terlalu sering disuguhi pemandangan kemewahan yang membuat hati iri. Indera yang kita gunakan untuk melihat dunia kerapkali ditembusi debu-debu yang membuat perih, hingga mata kita terus terpejam sebelum segala keinginan kita terkabulkan. Kita selalu merasa takut melihat keadaan orang lain berada lebih tinggi posisinya dari kita. Kita takut tersaingi dan kita takkan pernah rela terkalahkan. Apalagi oleh orang-orang yang kita anggap tak ada apa-apanya.
         Namun gubuk reyot itu seakan memberikan tawaran lain pada pandangan kita. Sungguh, kita sudah sudah sering melihat pemandangan semacam ini di kota. Kita melihat rumah-rumah kardus dibangun dilahan-lahan kosong yang entah siapa pemiliknya. Kita sering melihat orang-orang menggelar tikar dan nonton tv dibawah jembatan saat melintas diatas jalan layang. Ketika terjebak kemacetan, kita seringpula melihat orang-orang---tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan----berlari-lari dijalanan sambil mengulurkan tangan. Kita hanya melihat mereka, namun tak pernah memperhatikan mereka barang sekedipan matapun.
         Pemandangan semacam itu memang tak enak ditatap mata kita yang terawat ini. Bahkan mungkin tak layak mata kita mengabadikannya dalam lensanya yang tipis. Mereka telah mengotori lingkungan sekitar kita, membuatnya kumuh dan semrawut tak beraturan. Namun kita seringkali bertukar cerita dan perasaan bahwa kita bosan pada orang-orang yang memperlihatkan kekayaannya, kebanggaannya pada kita. Sementara kita mulai putus asa untuk menandinginya.
        Karena bangkrut dan tak kuat dengan cibiran orang-orang, kita pun pindah ke sebuah perkampungan terpencil yang jauh dari hingar bingar metropolitan. Kita yakin tinggal disini barangkali lebih bisa menenteramkan jiwa dan menjernihkan pikiran, namun aku dan kau sama-sama tahu kita masih menyimpan dendam pada orang-orang itu.
          Untuk mengenal seluk beluk perkampungan ini, kita berjalan-jalan keliling. Kita mencoba beramah tamah dengan masyarakat sekitar dengan tersenyum , menyapa, dan melambaikan tangan. Kita mencoba mempublikasikan wajah metropolitan kita pada orang-orang yang tak mengerti berdandan. Tiba-tiba langkah kita kehilangan arah pulang. Kita tersesat. Terpaksa, mata kita yang selama ini terpelihara dari hal-hal kumuh, kini malah harus bersinggungan dengan apa yang kita benci itu.
          Kita dekati gubuk reyot itu, namun kau begitu enggan. Aku tahu kau jijik, namun aku memberitahu kau harus terbiasa. Kau tetap tak mau. Tapi akupun tak mau menghadapinya sendirian. Maka kutarik saja lenganmu sampai langkah kakimu terseret-seret.
        Gubuk itu seperti terasing dari perkampungan penduduk yang kita lewati tadi. Dinding-dinding luar gubuk tersebut terbuat dari kayu-kayu lapuk yang disusun sedemikian rupa,  sebagai pembatas dari alam luar, penghalau dari hembusan angin atau ancaman hewan liar. Atapnya yang terbuat dari jerami takkan sanggup menahan kebocoran saat hujan turun. Disekelilingnya berupa lahan kering yang ditanami pohon singkong. Tak ada tetangga disekitarnya. Orang-orang seakan sengaja menjauhi bangunan paling rapuh tersebut. Terkecuali, sinar matahari musim kemarau yang serasa hidup diatas sana, menjadi bola mata yang paling menyorot menatap gubuk itu seakan pelan-pelan berusaha menghancurkan gubuk itu dengan gelombang panasnya. Namun, kelihatannya angin saja yang seringkali bertiup kearah gubuk itu sama sekali tak mampu memporak porandakannya.
          Aku tak tahu. Barangkali pernah satu dua kali hembusan angin yang cukup kencang merubuhkan bangunan rapuh tersebut. Namun setiap kali runtuh setiap kali itu pula segera diperbaiki seperti rumah-rumah kardus dan lapak-lapak liar yang kerap kena gusur aparat.
          Dari letaknya yang jauh dari kehidupan sosial dan kondisi bangunannya yang memprihatinkan, gubuk ini sungguh tak layak dijadikan tempat tinggal. Tak pantas pula aku mengatakan gubuk ini adalah kandang hewan. Barangkali gubuk ini dibangun oleh petani setempat sebagai tempat istirahat setelah lelah mencangkul tanah. Tapi sejauh kita melemparkan pandangan tak ada tanda-tanda petani tengah sibuk mengolah tanah kering disini. Aku jadi khawatir. Lebih-lebih dirimu yang terlihat ketakutan, merasa kita akan mengalami hal paling mengerikan disepanjang hidup kita.
        Sekalipun ada penghuninya, kira-kira orang semacam apa yang bersedia tinggal ditempat yang memprihatihkan begini. Keajaiban apabila gubuk reyot ini ada yang meninggalinya. Bangunan ini begitu sederhana, bahkan jauh dibawah sederhana. Takkan sanggup ia melindungi penghuninya dengan memadai dari segala ancaman disegala waktu dan disegala kondisi. Apalagi di tempat seterpencil ini, sewaktu-waktu bahaya kerap datang tak terduga menyelinap masuk dan tak ada orang yang mendengar segala jerit pertolongan. Terpujilah manusia---apapun jenisnya----yang bertahan ditempat ini.
       Tak perlulah dibandingkan dengan warga kota yang tercecer dipinggiran jalan dan berteduh dibawah jembatan, mereka adalah korban kehidupan. Barangkali sudah nasib mereka menyandarkan hidup berdasarkan belas kasihan orang. Dan itu bukanlah keajaiban yang memiliki nilai mukzizat. Sementara gubuk ini, seburuk-buruknya bentuk dan keadaan, aku merasa, tetaplah menyimpan kebesaran.
          Sebelum-sebelumnya, adalah kemustahilan aku mau mengetuk pintu tempat tinggal manusia yang jauh dari kesan mewah. Tapi kini aku harus memaksa diri mengangkat tangan dan mengetuk pintu yang mungkin saja dengan sekali ketuk pintu itu akan langsung terlepas dari engselnya. Percayalah, yang aku lakukan ini bukan karena kita butuh pertolongan. Sudah aku bilang aku merasa gubuk ini menyimpan sebuah kebesaran. Apabila aku sampai terpaksa mengetuk pintu ini-----kuharap kalian dapat maklum----itu aku pikir hanyalah sedikit sisa dari kesombongan kami.
          Namun ketika aku hendak mengetuk, kau segera menepisnya. Aku tak tahu harus bagaimana bersikap; apakah harus lega dan mempersembahkan sujud syukur karena tangan yang terpelihara ini terhindar dari segala bakteri dan virus yang berkembang biak dimuka pintu? Yang pasti kau mengeluakan suara desisan dari mulutmu yang mungil. Telingaku pun ikut bergetar, mendengar suara seorang lelaki dengan nada tinggi dan suara isakan lemah seorang wanita bersama anak-anaknya. Kentara sekali mereka tengah bertengkar. Dalam situasi seperti ini  tak selayaknya kita datang bertamu. Kehadiran kita dapat mengganggu mereka, dan mereka terpaksa harus memendam amarah. Tak baik kiranya amarah dipendam. Karena seperti kita, banyak-banyak memendam amarah justru menabung dengki dijiwa. Kecuali maksud kedatangan kita untuk melerai.
         Kau menyeretku ke samping gubuk. Aku dapat mendengar detakan jantung yang menghantam rongga dadamu. Aku tahu pasti raut mukamu saat ketakutan. Dan pancaran itu semakin akrab pada pandanganku. Kita yang selalu bermuka angkuh harus merendahkan diri karena nasib hidup, menuruti perputaran roda takdir yang tak pernah kehabisan pelumas. Kau selalu terlihat trauma saat melihat orang-orang berani memamerkan taring dan kukunya pada kita, bahkan sekalipun itu tidak ditujukan sama sekali pada kita. Barangkali mulai pada saat itulah segala indera yang terpasang dalam ragawi kita mulai tercemar limbah kemiskinan.
      Kini, aku mulai menyesali posisiku sebagai kekasihmu. Aku sudah tak sanggup lagi memberikanmu segala keindahan dan kepentingan duniawi. Telapak tangan ini sudah terlihat suram untuk dibaca. Tapi akupun tak mau bilang cepat-cepat akhirat adalah harapan kita satu-satunya yang paling mungkin. Kita tahu, kau dan aku harus sama-sama keras melawannya.
         Sekeras-kerasnya kita bersusah payah, tinggallah mata kita yang dapat dipergunakan untuk menelisik ada apa didalam gubuk. Aku mulai bertindak. Kau masih ketakutan. Terpaksa, mataku yang seringkali terbuka lebar saat menatap kali ini harus memicingkannya, menyesuaikannya dengan celah-celah sempit dinding kayu gubuk ini. Aku melihatnya, diantara keremangan cahaya didalam gubuk, seorang wanita berwajah kusam sambil memeluk keempat anaknya. Usia wanita itu dapat diperkirakan seumuran denganmu. Bedanya, kau tampak terawat. Sementara wanita itu terlihat keriput sebelum waktunya. Barangkali tak punya waktu barang sedetikpun untuk mematut dan memikirkan diri. Ketika seorang wanita mulai beranak pinak, maka yang selalu didahulukan adalah kepentingan anak-anaknya. Dan, kita telah bertahun-tahun menantikan anugerah Tuhan tersebut, berusaha susah payah dan mengikuti segala anjuran para ahli, namun tangisan seorang bayi tak pernah mengusik bising telinga kita.
         Keempat anak itu masih kecil, bahkan terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan dengan dunia imajinasi mereka. Aku pikir wanita berwajah kusam itu melahirkan seorang bayi setahun sekali. Tubuh mereka yang rapuh nan kurus sungguh membutuhkan perlindungan yang mendalam. Mereka menangis dan tersedu sedan bersama-sama. Namun, wanita berwajah kusam itu berusaha menenangkan anak-anaknya itu. Pemandangan yang begitu nelangsa dan butuh perhatian lebih dari sang penguasa.
          Melalui tontonanku dibalik celah dinding gubuk reyot ini aku bertanya, mengapa ditempat yang jauh dari kehangatan dan kesejahteraan seseorang dapat mudah menghasilkan anak dari dalam tubuhnya sendiri? Sementara aku yang sering direpotkan dengan segala obat-obatan dan terapi kesuburan masih saja kewalahan.
          Keherananku semakin bertambah-tambah. Tak kulihat raut wajah seorang lelaki yang telah mengeluarkan suara dengan nada tinggi yang membuatmu tiba-tiba berdesis ketakutan. Pada saat aku mencari-cari sosok itu tiba-tiba suara yang terdengar serupa menjelma dibelakang punggungku, menggebrak ketenangan dadaku. Wajahmu sendiri terlihat seperti orang tercekik melihat sosok itu. Lelaki itu, memiliki kulit yang alot dan keras. Sepasang matanya hendak keluar memelototi kami.
     “Sedang apa kalian disini!”, bentaknya pada kami bukan dengan tanya.
Selanjutnya, kami digiringnya masuk kedalam gubuk reyot itu, dijadikan sandera. Didetik-detik berikutnya kami hanya tahu bahwa kami tengah bernafas dalam ancaman.
***&&***



          Gubuk ini telah dibangun bertahun-tahun lalu. Beberapa kali dipugar seperlunya. Inilah naungan kami satu-satunya, harta warisan leluhur yang dengan setia meneduhi keluargaku dari hujan dan terik panas diatas sana. Entah sudah berapa lama kami tinggal didalam gubuk reyot ini. Disetiap detiknya selalu dipenuhi kepengapan hidup. Tak ada hal lain apapun yang dapat kami tuju selain mencari makan. Sesekali, dalam kesenggangan waktu, kulepaskan bebanku dengan melayangkan diri dalam lamunan. Saat itupula aku seperti lupa memiliki tanggungan. Namun tak lama kemudian, suara-suara berisik mengingatkanku kembali pada kenyataan; semua anak dan istriku bertahan hidup dengan perut keroncongan.
         Aku memiliki empat orang anak yang kesemuanya masih terlalu dini untuk mengerti hidup dan kehidupannya. Aku dan istriku sendiri tak mengerti bagaimana mendidik anak yang baik. Bahkan, kami sampai tak habis pikir mengapa selalu anak yang dirizkikan pada kami. Mereka begitu mudah tumbuh dalam perut istriku. Hanya ada empat anak yang mampu bertahan. Selebihnya, anak-anakku meninggal dalam kesengsaraan duniawi; kelaparan.
          Sungguh, kami tak memiliki hiburan apapun yang dapat menyuguhkan kebahagiaan pada kami. Setiap kali pulang dari ladang tandus aku hanya terpaku duduk menunggu istri menyediakan makan. Tapi, aku tahu beras masih mewah untuk kami santap. Ketika itu, timbullan rasa frustasiku. Kutatap wajah lesu istriku yang menanggung segala nasib buruk dari suami dan anak-anaknya. Walau lesu aku selalu tergoda. Bukan karena berahi telah merajai nafsu, melainkan karena hanya inilah hiburan satu-satunya yang dapat bantu lepaskan beban penat pikiran barang sebentar. Setelah itu aku yakin, beberapa bulan kemudian, akan ada tangis baru di gubuk ini sebagai rezeki buat kami.
          Setiap hari, sepagi mungkin, aku pergi berladang seorang diri. Gubuk reyot sebagai tempatku kembali pulang ku tinggalkan, berharap bangunan rapuh itu tak runtuh menimpa keluargaku sepeninggalanku mencari penghidupan.
          Ladang ini bertanah tandus dan kering, namun aku masih bersikeras untuk mengolahnya karena tak ada lahan lain yang dapat aku olah. Segala sesuatu yang aku dapatkan dari kehidupan ini hanyalah hasil dari keterpaksaan. Maka terpaksa pula, aku dan keluargaku setiap harinya hanya makan dari umbi-umbi singkong sebesar jari kaki yang tumbuh disekitar ladang kering ini.
          Sungguh sulit hidup terpencil dari masyarakat diluar sana. Tapi aku tak mampu berbuat apa. Semua serba dilakukan sendiri, dan tentu saja kami terjauhkan dari rasa iba yang sepatut diterima oleh orang-orang seperti kami.
         Apakah kami sekeluarga harus mengharapkan iba dan belas kasihan orang-orang? Apakah itu wajar?
          Setiap saban, disetiap detiknya, waktu-waktuku telah dilumat rasa lelah. Sekian ribu tetesan keringat telah keluar menghujani ladang tandus itu. Kulit tubuh ini sudah terlalu legam dan kering digarang bara panas matahari. Apabila kami ditempatkan kedalam orang-orang yang pantas menerima iba, kami tegaskan itu adalah sebentuk pelecehan atas usaha keras hidup kami. Disatu sisi kami pun tak bisa menyimpulkan ini adalah ketidakadilan hidup yang datangnya dari Tuhan. Dalam pandangan kamipun, sebenarnya, kami masih kesulitan memahami apa yang telah dikehendaki Tuhan terhadap kami. Padahal segala proses bersusah payah demi mendapatkan yang lebih baik telah usaha kujalani. Dalam pesimisku aku pernah berujar, barangkali hidup kami dicipta sebagai tumbal. Aku tahu dalam hidup ini mesti ada keseimbangan yang memiliki nilai,status, posisi, dan watak yang saling berseberangan. Kami hanya harus rela apabila kelahiran kami ditempatkan pada keadaan yang terendah dalam kasta maupun strata manusia. Aku meyakini kami telah dijadikan contoh korban agar manusia-manusia lain bersedia berpikir dan memahami bagaimana bersikap yang baik dalam takdir yang telah diatur. Sayangnya, kebanyakan orang tak mau repot-repot belajar memahami. Mereka sudah cukup dengan merasakan kenyang, dan tak pernah cukup ketika hal itu belum berlebihan. Maka, tiba-tiba kehidupan kamipun seperti sebuah kesia-siaan,
          Oleh karena itu keluar dari persoalan ini adalah berani bersikap lain, mengambil keputusan yang tak pernah terduga-duga. Tak peduli itu menerobos norma. Bahkan kalau perlu sampai hilang kewarasan diri.
           Suatu kali pernah terbersit meninggalkan tempat gersang ini, mengajak serta istri dan semua anak. Lalu, kami berjalan melewati batas-batas, melepaskan pandang kesegala arah melihat kehijauan alam, memupuki otak dalam pikiran dengan kesegaran-kesegaran baru. Namun semua itu ada tuntutannya. Tak bisa lekas mendapatkan semua yang kami harapkan. Setiap langkah yang diambil mestilah dihitung dengan berbagai pertimbangan dan perencanaan. Apabila kurang matang, tetap sajalah binasa diri ini.
          Dari desas-desus orang-orang yang sesekali melewati gubuk kami, aku pernah mendengar mereka membicarakan tentang demokrasi. Aku sendiri tak tahu arti kata itu, bahkan lebih banyak kata yang mereka obrolkan yang begitu asing ditelinga. “Demokrasi yang dianut oleh bangsa ini terlalu kebarat-baratan, mengusung bahkan mendewakan kapitalisme dan liberalisme. Orang-orang saling bersaing demi mendapatkan kebesaran dan kebanggaannya. Sementara peraturan mainnya mudah diotak-atik dengan kemampuan modal, hanya memiliki keberpihakkan pada kubu tertentu saja. Akhirnya, saking ketatnya persaingan malah melahirkan orang-orang yang berbuat curang dan saling sikut. Hukum kapitalis dan liberal tak memandang kaum yang lemah dan kalah, bahkan orang yang bersih sekalipun karena kecurangan telah dianggapnya semacam bentuk kebebasan demi meraih kesuksesan. Orang-orang seperti kita akan selalu kekurangan. Maka dari itu, telah kuikhlaskan istri dan anak perempuanku bekerja sampai malam demi mencukupi kebutuhan hidup”.
          Kini, tiba-tiba saja ada sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, datang ke gubuk kami yang terpencil ini. Penampilan mereka tak sama dengan orang-orang yang terkadang melewati tempat tinggal kami. Mereka begitu terawat dan rapi. Pastinya apa-apa yang melekat ditubuh mereka adalah barang-barang bermutu tinggi. Juga pastinya mereka bukan berasal dari kampung sekitar. Namun raut wajah mereka terlihat begitu ketakutan. Mereka seakan telah terperangkap dialam yang tak pernah mereka kenal. Lekas saja kusuruh istriku untuk menyuguhkan segelas air putih kepada mereka. Hanya air putih. Tak ada persediaan lain di gubuk ini selain yang dapat diminum tersebut.
          Setelah kami persilahkan minum, wajah mereka terlihat lebih tenang. lantas saja mereka bertanya, “Bisakah Anda menunjukkan kami jalan pulang untuk keluar dari tempat ini?”
      “Kalian tersesat?”
Dua-duanya mengangguk bersamaan. Aku tahu kekompakkan itu menandakan mereka tak nyaman berada ditempat seperti ini, disebuah gebuk reyot yang pengap yang diliari anak-anak kecoa. Kiranya, kehidupan mereka diluar sana penuh dengan kemewahan. Tak terbiasa dengan keadaan yang serba menjijikan begini.
         Kendati begitu, ada baiknya juga aku menahan mereka disini untuk beberapa lama. Seyakinnya aku percaya sepasang manusia ini mungkin diutus Tuhan untuk menolong kami. Terutama membantuku memecahkan kata-kata misteri yang seringkali kudengar dari obrolan orang-orang  yang lalu lalang. Akan kukorek dari mereka bagaimana kehidupan diluar sana. Dengan segala pengetahuan yang kuperoleh dari mereka nanti, aku berharap dapat menentukan langkah yang tepat untuk berjalan kedepan, biar keluargaku tak semakin tersesat dalam keterpurukan hidup di dunia.
      “Biarlah kalian tinggal dulu di gubuk kami ini”, ucapku beralasan. “Matahari sudah mulai tenggelam. Selalu ada yang bersembunyi dibalik gelap. Entah itu orang kelaparan ataupun lubang tempua. Tak baik kiranya berjalan ditengah kelam. Bisa-bisa kalian semakin kehilangan arah, bahkan mungkin kehilangan nyawa”.
     “Tapi….”
Aku menempelkan telunjukku diatas bibirku, berdesis memberikan peringatan terakhir pada mereka. Tatapan mereka semakin awas memandang, dan seluruh anggota keluargaku memandang mereka penuh kekosongan dengan mulut menganga.
      “Disini daerah tertutup. Takkan ada yang mencium bau busuk meskipun bangkai tergeletak ditengah jalan”.
          Suasana kembali menghening. Suara-suara seperti menyurutkan diri kedalam lubang-lubang semut. Namun tatkala seekor nyamuk terbang didekat kepala, suara itu seakan mulai berani berdengung ditelinga. Disusul kemudian oleh suara-suara jangkrik dan tokek yang mencari makan. Keheninganpun berubah mencekam, melahirkan kekahwatiran dalam jiwa. Semua pandangan yang ada dalam gubuk ini tertuju pada pelita kecil yang menerangi ruangan.
           Aku berdehem. Aku mulai mempertanyakan arti kata-kata yang kudengar dari obrolan orang-orang lalu lalang tersebut. Tiba-tiba saja raut muka mereka bak tersengat listrik. Terkejut sampai menimbulkan keheranan. Barangkali mereka merasa mustahil ada orang yang hidup terpencil menyebutkan kata-kata yang lazim digunakan dikota besar. Namun mereka secara terpaksa memberitahuku. Kedengaranya arti kata-kata itu penuh dengan semangat dan kegemilangan, namun aku dapat menangkap kata-kata tersebut menyimpan sebentuk kekejian. Aku merasa kekejian itu sebisa mungkin tersimpan ditempat yang terkunci dalam makna kata, biar tak keluar sembarangan. Apabila  kekejian itu tetap tersimpan ditempat rahasianya, pastilah orang-orang kecil bakal menunduk sesedia mungkin bahkan sampai leher mereka terbelit.
        “Lantas apa yang kami perlukan agar dapat bergabung dan bertahan dalam tata cara hidup seperti itu?”, lanjutku bertanya.
         “Cuma modal”
Aku kerutkan sedikit keningku tanda belum paham benar. “Modal apa?”
        “Kalian harus memiliki uang sebanyak mungkin”
Tak pernah tanganku ini mengenggam uang, tapi aku pernah melihatnya. Uang hanyalah lembaran-lembaran kertas bergambar seperti mainan anak-anak. Mudah robek, rusak, bahkan terbakar. Kini aku tahu ternyata benda itulah yang justru teramat berharga diluar sana. Pantas saja orang-orang diluar sana begitu rela menukarkan bahan makanan dengan lembaran kertas bergambar tersebut. Harusnya sedari dulu aku mencari uang bukan mengolah ladang tandus, keluargaku pasti takkan pernah kekurangan. Ini sungguh menarik. Lekas saja aku kembali dengarkan kata-kata orang kota tersebut. “Dengan uang kalian dapat membeli kejujuran, singgasana, topeng, berahi, dan atau hewan qurban. Namun ketika semua yang kau miliki tak mampu melindungimu lagi dari berbagai masalah dan kekurangan, maka belilah hewan qurban sebanyak mungkin”.
       “Kalau butuh banyak lebih baik beternak daripada membeli”, sergahku.
       “Hewan qurban ini tak bisa diternak, karena memang tak ada ilmu untuk membudidayakannya”.
          Aku mengangguk. Bukan karena mengerti melainkan menuruti saja apa kata mereka.
         “ Biasanya orang-orang lebih suka kambing dengan warna hitam pekat sebagai qurban. Karena hewan tersebut lebih mudah disembelih”.
Segera saja, dengan cepat, aku kembali bertanya, “Bagaimana cara mendapatkan uang itu?”
         Kedua orang kota itu malah saling bertukar pandang. Diantara kebingungan mereka, kudengar suara keroncongan perut mereka. Telingaku memang sudah peka menangkap nada-nada suara begini. Dalam keadaan lapar begini memang selalu membuat pikiran kacau dan enggan untuk bergerak. Mulut sekalipun lebih baik tertutup rapat kecuali untuk mengunyah. Sedari pagi tadi, barangkali mereka belum makan apapun. Tapi digubuk ini tak ada apapun lagi yang dapat dimakan, bahkan sekedar untuk mengganjal perut. Keluargaku saja sudah cukup lama menahan lapar begini.
          Kendati begitu, kedua orang kota ini adalah tamuku. Sebagai tuan rumah, sudah sepatutnya kami melayani mereka dengan baik. Apalagi mereka telah memberikan banyak berita penting buat kami.
         Ada sebuah ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalaku. Kutatapi satu per satu wajah anakku yang muram. Keremangan cahaya didalam gubuk ini semakin menambah kemuraman mereka. Kudekati istriku dan kubisikkan ide itu  ditelinganya. Ia tetap membisu. Tak menyetujui atau menolak ideku itu. Wajahnya seperti kehabisan darah dan syaraf-syaraf disekujur tubuhnya seperti kehilangan berkah.
        Kugendong anak terkecil kami keluar. Anak inipun menurut saja, pasrah saja apapun yang akan dilakukan oleh bapaknya.
          Aku tahu ini ide konyol. Tapi anggap saja ini sebagai latihan dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan diluar sana. Kentara sekali dan begitu jelas sekali apabila ingin sukses diluar sana. Aku harus melakukan keputusan tak terduga-duga. Tak peduli itu menerobos norma-norma, bahkan sampai kehilangan waras diri.
           Aku memang harus berani bertindak gila-gilaan. Pilihanku jatuh pada anak terkecilku. Aku tahu yang namanya anak adalah rizki bagi orangtuanya. Setahuku juga, rezeki adalah hal-hal yang mampu mengenyangkan perut. Maka dari itu, tak ada salahnya juga aku menjadikan anak terkecilku sebagai ambisi gila pertamaku. Toh, seberapapun berharganya anak ini tumbuh takkan ada yang peduli betul dengan kehidupannya hingga kematiannya pun, kapanpun itu terjadi, pasti dengan perut kelaparan. Maka seberapapun kejamnya tindakanku terhadap anak kecilku, takkan ada orang yang mengungkitnya bahkan mengurai kasusnya.
         Kuambil parang yang telah terasah halus. Kuletakkan lehernya diatas batu besar. Anakku itu tetap terdiam. Benar-benar patuh. Rela serela-relanya dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Namuan raut wajahnya begitu hampa. Tak ada lagi sinar redup dalam bola matanya. Dibawah sinar rembulan purnama yang seredup senja, aku sembelih anakku itu. Darah segar memancar memberikan ketakjuban pada diri ini. Tak ada jeritan. Hanya suara lenguhan kecil tanda kepasrahan.
***##***

          Aku kira kitalah orang kota pertama yang menginjakkan kaki di gubuk reyot ini. Sebelum-sebelumnya pasti tak ada, karena takkan pernah terpikirkan seorang bermartabat tinggi sudi memasuki tempat tinggal serupa sarang kuntilanak. Sungguh memalukan nan menyakitkan ketika kita tanpa segan menyapa dan melepaskan senyum pada mereka. Entah apa yang bakal didesas-desuskan dunia tentang kita nanti. Para pesaing kita pasti akan semakin terdengar keras bahaknya, semantara kita semakin tersuruk ke pojok dunia.
       Disamping itu, sungguh luar biasa, kita yang telah terbiasa dimanja santapan berkolesterol dan berlemak, tiba-tiba hanya disuguhi segelas air putih. Warna airnya pun tak bening benar. Ada titik-titik kecil yang melayang-layang didalam air. Kau dan aku melihatnya saja sudah bergidik. Bagaimana ceritanya kalau gelas itu menempel dibibir kita dan kita mereguk airnya dalam-dalam?
         Saat tuan rumah mempersilahkan kita minum, terpaksa kita pura-pura meminumnya. Tak lebih. Setelahnya kita mendesah melepas sedikit beban. Sungguh, meskipun disekeliling kita hanya dibatasi bilik, namun rasanya seperti terperangkap dibalik tembok beton. Apalagi saat mereka tak bersedia menunjukkan jalan keluar dari sini karena malam, kita benar-benar sulit bergerak selain bulu kuduk yang leluasa meremang gigil.
        Mereka mengajak kita mengobrol, mencoba mendekatkan dan mengakrabkan diri pada kita. Namun, itu semakin menambah bayangan seram kita. Banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan. Tak terkira mereka bertanya tentang politik dan sistem kehidupan diluar sana. Setidaknya, hal itu, mampu melunakkan tegangnya suasana. Kita pun menjawabnya sehati-hati mungkin.
          Saat mereka mempertanyakan cara mendapatkan uang kita terdiam. Pertanyaan itu seperti memiliki rumus khusus sebagai jawabannya. Untuk saat ini, apapun yang berkaitan dengan uang, belum bisa kita pecahkan. Kita saling tatap. Kita tahu kita tengah krisis. Persaingan diluar sana telah berhasil memporak-porandakan selurus asset kita. Namun tiba-tiba perut kita berbunyi kelaparan seakan ingin ikut memberikan jawaban.
         Lalu lelaki berkulit alot itu mendekati istrinya. Ia berbisik ditelinga istrinya dan menuntun anak terkecilnya keluar rumah. Wajah istrinya yang muram berubah penuh kepucatan seakan bisikan suaminya telah mencerabut nyawannya keras-keras. Kembali kita saling tatap, menukar cahaya pandangan mata kita. Lantas, mengikuti arah kemana bapak dan anak itu pergi.
          Lekas saja kita dibuatnya terkejut. Dibawah sinar purnama yang muram semuram wajah penghuni gubuk reot ini, sang ayah menyembelih kepala anaknya. Darah yang memancar dari leher sang anak itu menggambarkan rasa nyeri yang tak terkira. Saat lenguhan anak kecil itu melayang-layang diudara seperti tak tahu arah, sang ibu sendiri mendesah lemah dan jatuh pingsan. Saudara-saudaranya menangis lirih selirih suara perut yang jarang terisi, sambil memeluk tubuh ibunya. Sementara kau, istriku sendiri, menatapku. Aku melihat dibalik sinar bola matamu ada hikmah yang tak terkira jumlahnya. Kau begitu terpukau menyaksikan peristiwa pemenggalan itu. Bibirmu bergetar mengucap, “Inilah neo liberalisme! Inilah neo kapitalisme!”.
     Akupun menjawab parau, “Benarlah rasaku tadi. Tempat ini memang menyimpan kebesaran”.
        Cukup lama kita membisu setelah melihat peristiwa pemenggalan itu, akhirnya kami disuguhi makanan. Tentunya hasil dari penyembelihan tadi. Namun entah kenapa, tiba-tiba rasa lapar hilang. Perut ini seperti malu telah memberontak dan meminta tuntutan untuk segera terisi.
        “Apa kalian sering melakukan aksi-aksi semacam ini?”, tanyaku dengan bibir gemetar ketakutan. Dia, sama anaknya saja berani memenggal kepalanya apalagi pada orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Kita waspada. Tak boleh saat tubuh kita keluar dari sini hanya tinggal nama yang tersisa.
     “Sekali ini saja”, katanya. “Untuk menghormati kalian. Tamu kami”.
        Aku menatap kau kembali, istriku. Ketakutan yang sedari tadi kita rasakan seakan menemukan celah untuk keluar dari jiwa dan pikiran, berubah menjadi peluang langka untuk kita. Peluang untuk melampiaskan dendam kita. Peluang untuk menyingkirkan para pesaing kita yang berani-beraninya memojokkan kita. Sikap hati-hati kita longgarkan mesti tetap awas.
       “Anda pernah bertanya bagaimana cara mencari uang itu, bukan?”
       “Ya”
       “Maukah Anda menjadi pembunuhan bayaran? Kami akan sewa Anda?”.