Halaman

Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korea. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2013

Gigolo-Gay Aku Terjebak Diantara Dua Peran

          Setelah dihantam panas terik, sore itu, langit kota Bogor sedikit mendung. Tiupan angin yang semilir sedikit menyejukkan kulit setelah diterpa gerah kepanasan. Tanpa niat memuaskan nafsu konsumtif kami, iseng-iseng kami masuk Botani Square.
          Kami lewati pintu masuk utama mall tersebut. Setelah setengah mengitari bagian luar mall tersebut, barulah kami masuk melalui pintu masuk yang lain.
         “Sekali-kali kita ngopi di Starbuck, yuk”, ajak Hendra ketika kami melintasi didepan bagian luar cafe berlogo wanita berambut keriting panjang itu.
          Cafe yang menyuguhkan kopi cita rasa Amerika itu ramai pengunjung. Kursi dibagian dalam dan luar tampaknya terisi semua. Meskipun rata-rata para pengunjung mengenakan setelan casual, semacam kaos dan jeans, penampilan mereka tampak necis. Mereka bersih dan bahagia. Tak seperti kami, yang menurut perasaanku, pasti terlihat kumal dan kusam.
          Beberapa tengah asyik membuka gadget yang dimilikinya. Sebagian lagi tengah asyik mengobrol bersama teman-teman mereka, atau barangkali rekan bisnis. Mungkin urusan mereka tak jauh-jauh dari persoalan bisnis. Kalau bukan, mungkin mereka tengah mendiskusikan masalah percintaan bahkan sex. Sementara secangkir kopi yang telah dipesan seperti terabaikan diatas meja mereka. Sudah jelas mereka berasal dari golongan kelas apa. Maka, aku tertawa-tawa saat Hendra mengajakku ngopi di Starbuck.
          “Harga secangkirnya seratus ribu”, tandasku. “Gak nyesel buang duit segitu cuma buat secangkir kopi?”.
          “Semahal itu?”
          Aku sendiri tidak tahu harga pastinya. Belum pernah aku merasakan suasana cafe. Tapi dapat diperkirakan, bagi kami yang penghasilannya sudah dipasung berdasarkan UMK kabupaten, jelas pasti harganya jauh dari jangkauan kantong kami. Sekalipun ada uangnya, terlalu sayang kami membuang uang sebesar itu hanya untuk secangkir kopi. Padahal, apabila uang sebesar itu kami belanjakan di warung-warung langganan kami, kami dapat membeli tidak hanya kopinya, sekaligus juga selusin cangkirnya.
          Begitulah kami. Sepertinya kami tidak ditakdirkan untuk hidup konsumtif. Kami hidup untuk dituntut produktif. Masalahnya kami bukan termasuk orang yang kreatif apalagi inovatif. Jadilah hidup kami gak maju-maju, terus primitif.
          Kami melewati pintu kaca memasuki Botani Square. Udara dingin langsung menghembus kearah wajah kami. Orang-orang, laki-perempuan, tua-muda, anak-dewasa, lajang-menikah, berlalu-lalang, kesana-kemari, melihat-lihat barang yang terpajang didalam etalase. Kami lirik kanan-kiri. Tanpa uang, kami tak tahu apa yang bisa kami dapatkan disini meskipun banyak yang dapat kami lihat.
          Kami berhenti didekat sebuah tiang, bersandar diatas pagar besi yang mengelilingi bagian tengah mall tersebut. Kami memandang kebawah. Tepat dilantai dasar, tepat ditengah-tengah lobinya, terdapat diskon besar-besaran. Ada sepatu, pakaian, aksesoris. Orang-orang sibuk memilih. Lalu pandangan kami tertuju pada seorang perempuan dengan riasan tebal, berumur sekitar akhir 30-an atau awal 40-an, didampingi seorang pria yang berumur sekitar awal 20-an. Mereka bergandengan tangan, saling tukar pandang, dan tersenyum.
         “Jri, menurut kamu bagaimana kalau aku jadi gigolo?”, kata Hendra seperti meminta pendapatku.
          Aku tertawa. Aku pandang Hendra lebih serius. Aku pikir ia bercanda.
         “Begini’, dari kata pertama yang diucapkannya itu, aku tahu ia sungguh-sungguh, “awalnya aku mau pinjam uang sama temanku. Temanku bilang sebenarnya aku tak perlu pinjam uang. Tanpa hutang, aku bisa mendapatkan uang lebih besar dari jumlah yang aku pinjam. Aku bisa ikut bisnis dengannya, kalau mau”.
        “Bisnis apa?”
          “Dia gigolo”
         Aku kerutkan kening. “Maksudnya kamu diajak jadi gigolo?”.
          Hendra mengangguk dalam. “Awalnya dari sebuah iklan job fashion yang diselenggarakan di Senayan City. Apabila aku mau ikut ambil bagian dalam acara tersebut, aku mesti menyerahkan fotoku yang telanjang dada. Kebetulan aku di foto pake Blackberry-nya. Dan foto itu diperlihatkan pada lingkungan tante-tante genit di Jakarta”.
          Tahun-tahun belakangan ini Hendra memang rajin ikut casting. Berburu dari satu tempat ke tempat lain. Semuanya gagal. Tak ada yang lolos. Penampilannya memang cukup mengesankan. Tubuhnya tinggi. Saat castingpun ia selalu dibilang wajahnya fotogenic----bagus di kamera. Dilingkungan rumahnya sendiri ia selalu dipanggil oleh bocah-bocah tetangganya mirip Aghan dan dilingkungannya kerjanya ia selalu dibilang mirip Tao Ming Tse, si tokoh utama dalam drama seri Meteor Garden. Tetap saja itu tak membuatnya lantas percaya diri. Menurutnya wajah dan warna kulitnya sama sekali tak mengesankan ala-ala K-Pop. Dan yang tengah laku belakangan ini adalah cowok bermata sipit, rambut disemir pirang, kulit putih kekuning-kuningan.
           Barangkali itulah yang membuatnya butuh waktu berjam-jam di kamar mandi dan betah nongkrong lama-lama didekat jemuran pakaian sambil memicingkan matanya kearah matahari .Aku selalu bilang cowok-cowok Korea itu banci. Lihat saja serbuan komplotan boyband dari sana sama sekali tak mencerminkan dunia laki-laki. Barangkali karena pengaruh merekalah lahir komunitas alay yang dimana melahirkan karakter lelaki Indonesia yang kewanita-wanitaan.
          “Terus?”, kataku lagi
          “Katanya dalam sebulan aku dapat dibayar 20 juta asalkan aku mau melayaninya. Aku sih mau-mau saja kalau sekedar nemenin belanja atau ngobrol, tapi kalau sampai ke urusan ranjang....”, Hendra terhenti seperti memikirkan akhir kalimatnya itu.
          “Menurutku kalau dibayar 20 juta perbulan sampai nemeninnya diatas ranjang terlalu murah”.
          “Kalau layanan aku memuaskan aku bisa dibayar lebih, minta ini-itu, bahkan kontrak bisa diperpanjang”.
          “Jadi ada sistem kontraknya juga?”.
          “Dari jadi gigolo, temanku bisa menyelesaikan S2, punya mobil, apartemen, dan rumah. Dia juga tidak selalu setiap harinya bertemu dengan tante yang mengontraknya itu. Tapi sewaktu-waktu, dalam keadaan mendadak sekalipun, ketika si tante itu membutuhkannya, alasan apapun yang mengendalai, ia harus bisa memenuhi panggilannya. Kalau tidak akibatnya bisa fatal”.
          “Menurutmu kenapa temanmu itu masih jadi gigolo? Padahal dia sudah kaya dan karir yang bagus. Tidakkah ada keinginannya untuk menikah?”.
           “Aku pikir gigolo itu menjadi semacam candu. Sekalinya masuk, akan sulit meninggalkannya. Temanku juga bilang kalau jadi gigolo ada teknik dan strateginya sendiri. Salah satunya kita harus punya dua tempat tinggal. Ia sendiri punya apartemen dan rumah. Tiap kali si tante ingin menemuinya, ia selalu menyuruhnya datang ke apartemen. Sementera alamat rumah ia rahasiakan. Dia bilang kalau kita tidak bisa memuaskan, si tante tak segan untuk marah-marah bahkan memukul. Bahkan apabila kita tak tahan dan ingin lepas dari jeratannya meskipun masa kontraknya telah habis, si tante dapat memburu kita kembali dan meminta kembali dengan paksa atas apa semua yang telah diberikan. Parahnya lagi kalau hubungan terlarang itu sampai ketahuan suaminya”.
          Aku menganngguk-angguk. Ternyatalah beginilah dibalik dunia tante-tante kesepian. “Jadi sekalinya kita masuk kedalam dunia gigolo, kita ini seperti terikat seumur hidup”, sekali lagi aku menatap Hendra. “Gila”, ujarku lagi. Kali ini dengan geleng-geleng kepala.
        “Selain itu ada juga yang namanya pertukaran berondong. Jadi si tante dapat juga mencoba berondong milik kawan-kawannya”.
          “Kamu minat jadi gigolo?”
          “Pamali, Jri. Dosa”.
          Aku tertawa-tawa. “Kalau mikirin dosa melulu, kita takkan bisa bergerak. Terkadang kita mesti melanggar batas norma apabila ingin berkembang. Toh, manusia diciptakan untuk berdosa, karena ia hidup dituntut untuk menyembah Tuhan. Kalau tidak, adalah sia-sia Tuhan menciptakan neraka”.
          “Setidaknya aku minta izin dulu sama orangtua”.
          Kembali aku tertawa. Sudah menginjak umur dua puluhan saja Hendra seperti anak yang belum berani melangkah sendiri. Segalanya selalu dibutuhkan pertimbangan dari orangtua. Sepertinya tak ada hal apapun yang dilakukannya tanpa sepengetahuan orangtua. Padahal, aku juga tahu, dibandingkan teman-temanku yang lain, Hendra termasuk sosok yang mandiri. Barangkali ini dilakukan semata-semata rasa sayang dan cintanya pada orangtua. Selalu takut membuat orangtuanya khawatir memikirkannya.
          “Jelaslah orangtua kamu gak bakalan kasih izin”, ucapku setelah tawaku reda. “Dikasih tahu juga pasti balik nanya lagi gigolo itu apa. Ini cukup jadi rahasia kamu”.
          Sesaat kami terdiam. Sepertinya Hendra memikirkan kata-kataku kembali.
           “Apa kira-kira yang membuat temanmu itu begitu terbuka sama kamu bahkan mengajakmu mengikuti jejaknya?”, kataku kembali.
          “Barangkali aku polos”.
          Kembali kami melihat seorang tante yang menggandeng ‘piaraannya’ tadi. Kali ini mereka keluar dari sebuah butik. Mereka menjinjing banyak kantong belanja. Berondongnya itu tampak lebih lengket dan senyumnya makin lebar. Begitupula si tantenya. Hidup ini rasanya begitu terjamin tanpa harus menakutkan hal apapun.
          “Dipikir-pikir enak juga jadi gigolo”, selorohku tanpa pikir-pikir. “Menurutmu kira-kira ada gak tante-tante yang minat sama aku? Kenalin dong sama teman kamu itu. Aku mau jadi gigolo. Resiko apapun bagiku itu tak penting”.
          Kali ini Hendra yang justru menertawaiku.

          Bagiku sendiri, gigolo barangkali dapat menjadi jalan keluar untuk memuaskanku atas segala perasaan benci, kecewa, harap, dan cintaku yang terpendam. Sempat terpikirkan pula untuk menyerahkan kepolosan raga ini pada seorang lelaki disorientasi seksual. Tapi setelah mengenal sedikit dunia gigolo aku menggeserkan hasratku ini. Tak seperti gay, menjadi gigolo tidak hanya dapat melepaskanku dari semua perasaan yang tak terlampiaskan dibalik dadaku. Lebih dari itu, aku juga bisa mendapatkan keuntungan materi. Inilah caraku membalas dendam pada kehidupan dan orang-orang yang mengisi kehidupan itu.

Rabu, 19 Desember 2012

SERIAL BRITNEY VS CHRISTINA; PART I





          Nama gue Britney. Cukup segitu aja, Britney. Gak pake nama depan, belakang, apalagi tengah. Gue sih gak ngerti kenapa nama gue kebule-bulean gitu. Barangkali tepat di zaman gue lahir, saat itu lagi ngetren-ngetrennya yang serba Hollywood di negeri gue. Pasalnya, bukan nama gue aja yang kebaratan-baratan, anak-anak yang segenerasi sama gue rata-rata namanya juga demikian. Entahlah, barangkali ini ada kaitannya pula dengan pengaruh kapitalis. Tahu, kan, kapitalis itu apa? Gue sih kalo denger kata itu garuk-garuk kepala.
          Duh, gak kebayang juga sih kalo tepat gue lahir, orang-orang pada demam Korea. Bisa-bisa gue bakal dikasih nama Nga Di Min atau Nga Ti Nah. Keliatan banget, kan, kampungannya! Bahkan lebih parah lagi nama gue bisa jadi Shin Don Dong. Kenapa ga sekalian aja kedondong.
           Dan gue emang tidak suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Korea. Beda dengan sodara gue yang hafal seluruh lagu Suju sampai ke akar-akarnya. Tiap hari, bahkan ke sekolah sekalipun, gayanya niru ala-ala girl generations or wonder girl. Ya, chibi-chibi gitu deh.  Sekarang ini, katanya ia lagi sibuk latihan Gangnam style buat dipamerin saat pensi sekolah nanti. Idih, norak banget tahu! Kenapa ga sekalian aja latihan Jaran Kepang sambil makan beling.
             Ya, sebenarnya sih gue juga orangnya gak lokal-lokal banget sih. Salah satu kelokalan yang tertinggal dalam diriku gue yaitu nama panggilan gue. Nama panggilan gue adalah----gue harap kalian pada nutup kuping saat gue nyebutinnya---Bibit. Aduh, itu nama jelas-jelas ga ada rasa feminimnya apalagi kesan sexynya. Jadilah, gue protes sama emak gue.
          “Lebih bagus gitu daripada dipanggil birit”, ceplos emak gue membela diri. Asal kalian tahu aja birit disini artinya bukan lari terbirit-birit ataupun kocar-kacir. Tuh, kata diambil dari kamus warisan nenek moyang gue yang berarti pantat. Tuh kan emak gue emang tega sama anak!
          Kemarin gue senang banget dapat undangan ultah dari sohib gue di sekolah. Lebih tepatnya sohib dalam tanda tanya. Di sekolah boleh dibilang kami tidak selevel, tapi kami duduk dalam ruang kelas yang sama. Jadi, kami sekelas tapi tak selevel. Tapi saat pegang tuh kartu undangan, gue sadar inilah saatnya bilang wow! Karena itu artinya ia telah mandang gue selevel.
          Nama sohib gue yang masih dalam tanda tanya itu adalah Paris. Dia seangkatan gue, dan sudah pasti namanya kebule-bulean juga.
          Meski namanya kebule-bulean persis nama gue, gue pikir nasibnya jauh berbeda. Konon katanya, menurut desas-desus yang santer terdengar, ia bernama demikian karena lahirnya di Prancis. Keren banget, kan! Dasar memang orang kaya mau lahiran aja mesti pergi dulu ke luar negeri. Dan gue pikir-pikir si Paris itu, sebelum lahirpun ia sudah dapat passport biar dapat izin brojol disana. Kalo ga, bisa aja kan dia disangka imigran illegal, diselundupkan didalam rahim emaknya, dan mesti dideportasi dengan keadaan yang masih merah.
           Paris sendiri begitu bangganya dengan tempat kelahirannya. Saking bangganya, bahkan ia sudah berniat untuk mendapatkan cowok Eropa buat dijadiin suami.
         Gue sendiri sih bingung apa hebatnya lahir di luar negeri kalo ujung-ujungnya lu cari makan disini. Di sanapun ia pasti lahirnya di rumah sakit. Dibantu bidan atau dokter. Sama aja kan kayak disini. Kecuali mungkin kelahirannya boleh dibilang istimewa apabila ia lahir tepat dibawah menara Eiffel. Tahu sendiri, dan gue yakin, orang Prancis sekalipun kayaknya belum ada yang lahir tepat dibawah menara Eiffel. Jadi memang, kayaknya pemerintah Prancis wajib menuliskan kelahiran si Paris itu di buku-buku sejarah. Karena lahir dibawah menara Eifel bukanlah hal yang mudah ditiru dan dapat dijadikan trendsetter layaknya born water.
          Gue yakin hut-nya Paris ini pasti bakal diadain gede-gedean. Gak mungkin banget kalo, Paris yang bapaknya pengusaha real eatate, bikin pesta sekelas kandang kambing. Dengan duit yang bejibun amburadul, sampai ga kekantongin, dia pasti mampu ngedatengin artis sekelas Agnes Monica. Lagian buat apa pula nyimpan duit banyak-banyak di bank.
          Sebab itu, gue musti tampil all out sampai ke ujung-ujung bulu kuduk gue ( Kalo bisa sampai bulu ketek. Tapi Alhamdulillah ketiak gue terawat dengan baik ). Gue harus jadi pusat perhatian. Jadi semacam top model yang gayanya wajib ditiru. Kalau bisa gue harus bisa nyaingin yang punya hajat.
          Sudah jauh-jauh hari gue pesen baju ke salah satu perancang. Gue juga sih dapat rekomendasi resmi dari teman gue supaya bikin baju disana aja. Katanya beliau ini pernah ngenyam pendidikan fashion di Paris. Nah, lantaran latar belakang pendidikannya itu, gue rela-relain buka celengan. Gue yakin, seorang perancang yang pernah sekolah di Paris, pasti tahu betul bagaimana caranya bikin baju yang bikin iri anak yang lahir di Paris.
          Tapi sebelumnya gue omongin dulu model baju kayak apa yang gue mau.  Biar entar sang perancang menterjemahkannya ke dunia nyata dengan baik. Simple aja sih. Gue kepengen baju dengan motif ala-ala kulit binatang gitu. Biar kesannya glamour gitu. Gue harus  tampil mewah, elegan, dan suwir-suwir.
          Denger-denger juga si kembar Jessica and Ashlee diundang juga ke pesta kelas kakap itu. Malahan katanya mereka sudah beli gaun pestanya di pasar Tanah Abang. What? Sumpah, gue terkejut banget. Untuk pesta seukuran artis Holiwood, si kembar Jeli---itu panggilan akrab gue kepada mereka----beli gaunnya di pusat grosir Tanah Abang? Apa kata dunia? Kalo sudah pada waktunya, gue janji, gue gak mau deket-deket mereka. Sama saja itu menurunkan harkat martabat derajat gue didepan orang-orang.
          Tapi untungnya, adik gue, Christina, si Korean holic, yang nyebelinnya beribu-ribu kali lipat daripada Hitler, gak diundang. Artinya gue masih diposisi aman. Adik gue itu emang biang propaganda. Setiap tingkah lakunya gak pernah absen bikin malu. Membuat gue kayak seorang kakak durhaka yang ga mampu ngurus sodara sendiri. Cukup dengan bilang amin, amin, amin, kalau perlu seribu kali amin, gue bersyukur. Yes! Yes! Yes!
          Keesokan harinya, gue datang lagi ke butik tempat gue mesen baju buat ngecek kesiapannnya. Waktu gue liat bajunya, gue sampai takjub hingga lupa diri. Coba, dipake manekin aja sudah bagus, gimana kalo dah nempel di badan gue. Secara bentuk badan gue mendekati top model dunia!
         “Boleh gue coba sekarang?”, tuntut gue udah hilang kesabaran.
          Sang perancang cuma senyum-senyum imut dengan gerak tubuh yang gemulai. Gaya kemayunya itu sempat gue ngira dia bukan sekolah di Paris, tapi di Taman Lawang. “Coba aja. Gratis, kok. Entar ex bantuin yey pake baju”, katanya ramah.
         Tentu aja, gue tolak mentah-mentah tawarannya itu. Sekalipun dia kemayu, tetap saja dia cowok. Bisa jadi, kan, kekemayuannya itu adalah kedok. Jadi, tanpa bantuannya, gue pake baju itu.
            Entah kenapa waktu baju itu sudah nempel dibadan ada sesuatu yang terlahir dari jiwa gue. Badan gue rasanya panas. Rasanya gue pengen cakar-cakar dan gigit-gigit. Rasanya gue menjelma jadi cewek binal yang mau segera cari mangsa. Sumpah, gue gak sabar nunggu hari itu akan datang. Gue yakin gue bakal jadi sensasi yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Semua orang bakal terpukau.
          Waktu yang ditunggu-tunggupun akhirnya tiba. Alhamdulillah banget matari masih terbit di timur. Tapi tentu saja mesti nunggu matari tenggelam dulu saat pesta diselenggarakan. Jadi, masih banyak waktu buat gue pamer-pamer di depan muka Christina. Biar ia iri dan langsung semaput karena watak dengkinya.
          “Bagus, kan, baju gue. Nih, baju gue bikin langsung dari designer kesohor” ucap gue sambil lenggak-lenggok centil didepan cermin.
         Sambil cengar-cengir gak jelas, Christina bilang, “Sebenarnya sih yang bagus tuh badan kakak. Pake  baju apa aja pasti cocok. Apalagi kalau ada angin pasti adegannya dramatis kayak Marilyn Monroe pegang roknya”.
          Apa gue ga salah denger? Belajar darimana tuh anak muji-muji gue? Ga biasanya dia begitu. Pasti ada apa-apanya. Tapi saat gue liat lagi bayangan gue dicermin, kayaknya omongan Christina bener banget deh. Ok, gue memang harus positif thingking, setidaknya realistis. Bisa saja, kan, tanpa sepengetahuan gue dia bikin sesaji dan tebar bunga disekeliling rumah buat tobat.
         Adik gue tobat, tak ada lagi yang perlu dikhawatirin!
          Malampun tiba. Matahari terbenam begitu melankolis. Senjapun menambah kedramatisan penampilan gue. Nongkrong disalon sampe berjam-jam lamanya emang ngebosinin. Tapi gue puas. Gue yakin seyakin gue sama Tuhan, guelah primadona pesta itu.
          Sungguh, pesta hut ini seperti yang gue sangka-sangka. Lampu-lampu kristal kelap-kelip disana-sini. Kayaknya Paris langsung nyewa para malaikat dari langit buat mindahin bintang-bintang kebawah sini. Kue tartnya gede banget. Saat gue ngucapin selamat, Paris senyum-senyum gak karuan liat penampilan terbaik gue. Gue yakin dia pasti lagi berusaha menutupi kedengkiannya. Dia kalah oke sama gue.
         Saat acara inti dimulai, para tamu berkerumun mengitari kue tart yang ekstra besar itu. Lagu khas ulang tahun mulai didengungkan. Para hadirin ikut nyanyi dengan ogah-ogahan dan tepuk tangan males-malesan.
          Kue tart dipotong. Potongan pertama tidak diberikan pada sang ortu atau temen deketnya. Tapi langsung diberikan pada sosok lelaki blasteran yang didatangkan langsung dari Australia. Ini dia pangerannya. Semua mata tertuju kearah cowok balsteran itu. Apalagi mata centil para cewek. Mereka semua sepakat, termasuk gue, kalo cowok bule itu patut diperebutkan. Pasalnya, selera Paris adalah bule totok yang langsung diimpor dari Eropa, bukan cowok Indo dari negeri tetangga. Well, gue masih punya kesempatan tebar pesona didepan cowok indo itu, yang gantengnya kebangetan sampe menyiksa pandangan gue.
          Namun pada saat itu ada yang manggil-manggil nama gue. Dari jenis suaranya gue tahu itu dari si kembar chibi Jeli. Gue noleh kebelakang. Dan sumpah gue untuk jauh-jauh dari si kembar jeli tak sanggup gue tepati. Se-nggaknya merekalah yang ngedeketin bukan gue. Semua pandang mata lekas teralih kepada kami bertiga. Tubuh gue rasanya terbakar habis-habisan. Ini kayaknya sensasi yang paling diharapkan di pesta ini.
          Kalo Jessica dan Ashlee selalu pake baju serupa sangatlah wajar. Tetapi ternyata baju yang gue pesen dari perancang terkenal dengan motif belang-belang khas kulit macan tutul, potongannya persis sama dengan baju Tanah Abang yang dipake si kembar. Jelas ini aib! Kutukan!
          Tiba-tiba saja lagu Iwak Peyek yang kontroversi itu berdengung-dengung kencang dikuping gue.
          Lekas saja semua hadirin yang datang berbarengan teriak girang, “Trio macan! Trio macan!”.
          Langsung aja pandangan gue gelap dan tak tahan buat semaput. Satu-satunya hal terakhir yang gue ingat sebelum semaput adalah gue teriak sekencang mungkin. Teriakan itu sampai membuat energy gue habis. “Titiiiiiiiiinnnn!”