Halaman

Sabtu, 16 Maret 2013

DUA HARI DI TOKO MIRAS PART 1




           Frustasi, itulah mungkin kata yang paling tepat untukku saat ini. Tak hanya soal kata, juga apa yang bergejolak dibalik pikir. Semua serba stress dan stress.
         Kurang lebih selama dua bulan aku tak punya pekerjaan. Aksi demo karyawan tempat pabrik aku bekerja sudah berlangsung dua minggu. Dimulai sejak akhir Januari lalu. Tetapi rencana dan rapat-rapat sudah berlangsung sebelum tahun baru. Praktis, aku tak punya penghasilan alias gaji.
          Keseharianku akhir-akhir ini hanya berkumpul dan beraksi didepan pintu gerbang pabrik. Berbagai persoalan yang menghimpit tak kunjung tuntas. Sebelas tuntutan yang diajukan tak kunjung dipenuhi. Titik cerah keputusan seakan timbul tenggelam tanpa kepastian.
          Pihak perusahaan juga seakan-akan sengaja mengulur-ngulur waktu. Sebenarnya, sebelum melakukan aksi massa begini, pihak buruh yang digawangi FB HUKATAN KSBSI dari Tangerang, telah melayangkan surat pada pihak perusahaan. Jawabannya cukup mengecewakan; para karyawan dilarang berserikat dan diharapkan keluar dari serikat buruh yang bermarkas di Tangerang tersebut. Akhirnya kembali beberapa surat dilayangkan namun tak ditanggapi sama sekali. Karena dirasa tak ada itikad baik dari pihak perusahaan, demo-lah jalan terakhir yang mesti kami tempuh.
          Selama sebulan lebih kami, para buruh, dirumahkan tanpa jaminan. Hingga keputusan demo dibuat, nasib saya sebagai buruh PT. Tri Banyan Tirta yang memproduksi air minum dalam kemasan dengan merk ALTO, terkatung-katung. Juga demikian dengan teman-teman lainnya. Padahal saya sendiri, apapun keputusan yang diambil oleh pihak perusahaan, sudah siap dengan lapang dada. Setidaknya, meski keputusannya adalah PHK, saya tak perlu lagi membuang-buang waktu lagi dengan berdemo.
          Oleh sebab belum ada kesepakatan antara pihak buruh dengan perusahaan, selain berdemo, disela-sela waktu menganggur itu aku sempatkan mencari lowongan baik melalui media massa ataupun info dari mulut seseorang.
         Sekonyong harapku bagai menjadi kenyataan. Datang pesan SMS dari salah seorang temanku, Aris Munandar.
          “Fajri, mau kerja di toko tidak?”
          Setitik depresi dari sekian titik yang tumbuh lenyap. Segera saja kubalas;
          “Mau banget. Kerja di toko apa? Gajinya berapa?”
          Aris kembali membalas SMS-ku. Namun isi pesannya sama sekali tak menjawab keseluruhan pertanyaanku barusan. Begini isi pesannya;
          “Kalau mau, nanti aku jemput kamu di rumah”.
          Sebenarnya untuk urusan gaji, berapapun upahnya tak masalah. Bagiku asalkan ada penghasilan yang masuk kantong itu sudah cukup. Apalagi sebagai penjaga toko pasti upahnya dibawah standar, bahkan lebih rendah daripada gaji sebagai buruh pabrik.
          Aris memang temanku sepekerjaan yang juga berstatus buruh di PT. Tri Banyan Tirta alias Alto. Namun tak pernah sekalipun ia hadir dalam rapat-rapat serikat buruh apalagi saat aksi demo digelar. Mungkin ketika teman-teman lain tahu atas selalu absennya ia, Aris pasti dianggap sebagai sosok yang tak setia kawan. Tak ikut berjuang demi perbaikan nasib.
          Tapi aku cukup maklum padanya. Pasalnya rumahnya jauh di Sentul. Selama bekerja pulang pergi menempuh jarak yang lumayan panjang. Hingga pada akhirnya ia memutuskan mengontrak kamar yang lokasinya tak jauh dari tempat ia bekerja. Namun semenjak dirumahkan, karena biaya kontrakan tak terbayarkan, ia keluar.
           Meski begitu ia sama sekali tak pulang ke rumahnya di Sentul. Ia justru tinggal dengan seorang janda yang ia sebut-sebut sebagai pacarnya. Janda itu sendiri tinggal dikomplek perumahan Grand Kahuripan. Berita terakhir yang kudengar ia kini tinggal di rumah kontrakan yang berada dalam kawasan Graha Garuda. Pada masa kejayaannya, Graha Garuda merupakan satu-satunya hotel di Cileungsi. Kini kawasan itu tak terawat, bahkan pada malam hari seperti bangunan yang tak berpenghuni. Padahal petak-petak kamar dalam bangunan hotel Graha Garuda itu dijadikan kamar-kamar kontrakan bagi perantau. Terutama perantau dari luar Pulau Jawa.
          Kepindahan Aris ke kontrakan Graha Garuda itu juga menegaskan putusnya hubungan cinta dengan janda Grand Kahuripan. Kini, ia beralih ke janda lain yang juga tinggal di kontrakan Graha Garuda. Menurut pengakuannya pula, janda-janda itu kini berselisih karena memperebutkannya. Bahkan saat tidur, percaya atau tidak, katanya kini ia satu ranjang beserta tiga perempuan lainnya.
          “Lu pegang-pegang mereka, dong! Lu pernah gituan ya sama si janda itu”, simpulku namun masih berada dalam batas percaya atau tidak pada setiap katanya.
           Aris malah cengar-cengir. “Nggaklah. Gue cuma numpang merem aja”.
          “Nggak mungkin banget. Lu punya banyak kesempatan disana”.
          Maka dari itu, disertai penasaran yang menggebu-gebu, pagi itu aku habiskan dengan menunggu kedatangan Aris ke rumahku.
          Tengah hari baru ia muncul didepan rumahku. Mungkin ia terlalu sibuk menjaga toko dan ia gunakan istirahat siang itu untuk menjemputku di rumah.
          “Sudah siap? Bawa pakaian dan celana?”.
          Karena aku sudah menebak kalau bekerja di toko pasti juga harus tinggal disana, aku tuduhkan tas ranselku yang penuh dihadapan Aris. Kalaupun memang tak tinggal disana, upah sebagai penjaga toko pasti hanya cukup untuk biaya ongkos saja.
          Yang membuatku heran dan tak habis pikir justru ketika Aris meminta ijazah asliku. Padahal saat melamar kerja ke pabrik pun, orang-orang hanya melampirkan foto copy-nya saja. Ini sangat tak biasa. Biasanya, bekerja sebagai penjaga toko sudah cukup dengan menuduhkan KTP saja. Lagipula apakah bekerja di toko tersebut membutuhkan pendidikan tingkat tinggi?
          Karena Aris mendesak-desak, akhirnya kubawa juga ijazah asliku itu.
         Semula aku berpikir, kami akan bekerja di toko sembako tak jauh dari pasar Cileungsi, perempatan, atau ruko-ruko di Kenari. Ternyata Aris membelokkan motornya ke sebuah gang lebar berbatu. Gang ini terletak tepat diseberang jalan Graha Garuda. Aku tak tahu persis nama kampung yang tengah kulewati ini. Tapi Aris menyebutkan wilayah ini sebagai Garapan (ditulisnya entah dengan G atau g, tapi sepertinya lebih baik pakai G karena ini terkait nama tempat). Walau disebut Garapan, tempat ini bukanlah lahan kosong yang siap digarap untuk bertani. Rumah-rumah serta kamar-kamar kontrakan berdiri disana-sini, disamping kanan-kiri jalan yang kami lalui. Kawasan ini tidak terlalu padat juga tidak terlalu renggang. Yang paling menakutkanku dari kawasan ini adalah banyaknya anjing-anjing berkeliaran disekitar jalan yang kami lalui. Saking banyaknya aku jadi berpikir, sepertinya jumlah warga di kawasan ini sama banyaknya dengan jumlah anjing yang berkeliaran
           “Anjing-anjing itu sengaja dipelihara buat keamanan di kawasan kampung ini”, jawab Aris setelah aku bertanya padanya mengenai anjing-anjing tersebut. Kuakui aku bukanlah orang penyuka anjing. Sebaliknya, aku takut pada hewan itu. Apalagi kalau sampai melihat juluran lidahnya yang terkadang meneteskan air liur. Maka dari itu aku tak percaya anjing-anjing itu ada yang memeliharanya. Sebagian besar dari anjing-anjing itu tampak kotor tak terawat. Lebih mirip anjing tak bertuan. Apabila semua anjing ini ada yang memeliharanya, melihat jumlahnya saja, dapat dipastikan setiap rumah memelihara lebih dari seekor.
        Herannya lagi, rumah-rumah disini tidaklah terbilang mewah. Sama saja dengan rumah-rumah lain seumumnya di kampungku. Bahkan tak satupun rumah yang terlihat mentereng diantara rumah-rumah lainnya. Yang artinya, aku perkirakan, warga di Garapan ini bukanlah orang-orang dari kalangan ekonomi tinggi. Entah harta macam apa yang mereka lindungi sementara di kampungku saja yang tak ada satu wargapun memelihara anjing keadaan santai-santai saja.
          Tiba di toko yang dimaksud baru aku sadar ternyata Aris mengajakku berkeliling dahulu di kawasan Garapan tersebut, karena letak toko yang bakal menjadi tempat kerjaku hanya berjarak sepuluh meter saja didalam gang dari jalan raya. Padahal aku sudah khawatir saja letak toko ini jauh masuk kedalam gang. Seandainya aku memerlukan keluar pasti aku akan menjumpai banyak anjing disepanjang jalan. Tentu saja karena aku benci anjing aku takkan berani seorang diri berjalan kaki.
          Kemungkinan paling buruk adalah apabila aku tak betah kerja di toko tersebut. bagaimana caranya aku bisa pulang sementara kalau jalan kaki sendirian situasinya mirip berada ditengah-tengah kumpulan ular berbisa yang tengah berkembang-biak.


          Diterima kerja disitu, ijazah asli langsung ditahan dan dimasukkan dalam lemari besi terkunci. Sebenarnya aku ragu menyerahkan ijazah asliku. Tapi karena aku sudah berada disini dan kemauan buat kerja juga begitu besar, aku tak bisa mengelak. Aku sendiri tak mengerti apa maksud si pemilik toko menahan ijazah asliku. Barangkali, dengan ditahannya ijazahku dalam lemari besi terkunci, akan memperkecil kemungkinan buruk terjadi. Aku takkan berani macam-macam.
          Meskipun toko ini persis seperti toko-toko lainnya di kampungku, keamanan didalam toko ini sangat ketat. Toko ini tidaklah cukup besar bahkan toko sembakonya Haji Dadang saja lebih besar dari ini. Letaknya juga jauh dari strategis dan keramaian sekitar. Tapi kamera CCTV mengintai disetiap sudut ruang. Aku sendiri melihat layar tv-nya yang memperlihatkan gambar-gambar terkini dari setiap ruang yang terpantau CCTV. Setidaknya dengan adanya CCTV aku sedikit lega, karena artinya toko ini tak memelihara anjing. Hanya saja saat aku berjalan kebelakang toko, seekor monyet terikat disana.
          Ketatnya aturan dan keamanan disini tak seimbang dengan upah yang diberikan. Pada masa awal-awal kerja kami cuma dibayar 500.000 rupiah. Kedepannya, apabila kami kerjanya bagus dan rajin, upah naik 200.000 rupiah. “Dapat makan tiga kali sehari. Juga sebungkus rokok tiap harinya. Kalau tidak merokok diganti dengan susu”, begitulah selengkapnya yang kami dapatkan dari pemilik toko ini.
          Pertama-tama yang aku kerjakan di toko ini adalah menumpuk cemilan yang terbuat dari berbagai jenis kacang-kacangan. Cemilan-cemilan kacang itu ditumpuk dalam satu ruang dengan tv yang memperlihatkan gambar dari pantauan CCTV. Setelah itu kami mengemas dua kantong besar kacang telor kedalam bungkusan-bungkusan kecil plastik yang dijual seharga seribu rupiah. Ditengah kesibukan mengemas itulah, tiap kali ada pembeli, tercium bau yang begitu kuat diudara. Aromanya begitu menyerap dan merangsang indera penciumanku. Seolah-olah udara telah menguapkan semacam zat kimia. Aku sedikit pasti merasa pernah mencium aroma ini sebelumnya. Akhirnya setelah mencium untuk ketiga kalinya, aku bertanya pada Aris.
          “Itu anggur merah”, jawabnya sambil nyengir. Aku menengok kedepan, menunda sesaat kesibukanku mengemas. Barat, yang merupakan nama pemilik toko ini, tengah menuangkan sebotol minuman beralkohol kedalam kantong plastik. Pada saat itulah, aku melihat lebih banyak lagi botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang tersimpan dalam rak serta keranjang yang sebelumnya luput dari perhatianku.

Rabu, 19 Desember 2012

SERIAL BRITNEY VS CHRISTINA; PART I





          Nama gue Britney. Cukup segitu aja, Britney. Gak pake nama depan, belakang, apalagi tengah. Gue sih gak ngerti kenapa nama gue kebule-bulean gitu. Barangkali tepat di zaman gue lahir, saat itu lagi ngetren-ngetrennya yang serba Hollywood di negeri gue. Pasalnya, bukan nama gue aja yang kebaratan-baratan, anak-anak yang segenerasi sama gue rata-rata namanya juga demikian. Entahlah, barangkali ini ada kaitannya pula dengan pengaruh kapitalis. Tahu, kan, kapitalis itu apa? Gue sih kalo denger kata itu garuk-garuk kepala.
          Duh, gak kebayang juga sih kalo tepat gue lahir, orang-orang pada demam Korea. Bisa-bisa gue bakal dikasih nama Nga Di Min atau Nga Ti Nah. Keliatan banget, kan, kampungannya! Bahkan lebih parah lagi nama gue bisa jadi Shin Don Dong. Kenapa ga sekalian aja kedondong.
           Dan gue emang tidak suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan Korea. Beda dengan sodara gue yang hafal seluruh lagu Suju sampai ke akar-akarnya. Tiap hari, bahkan ke sekolah sekalipun, gayanya niru ala-ala girl generations or wonder girl. Ya, chibi-chibi gitu deh.  Sekarang ini, katanya ia lagi sibuk latihan Gangnam style buat dipamerin saat pensi sekolah nanti. Idih, norak banget tahu! Kenapa ga sekalian aja latihan Jaran Kepang sambil makan beling.
             Ya, sebenarnya sih gue juga orangnya gak lokal-lokal banget sih. Salah satu kelokalan yang tertinggal dalam diriku gue yaitu nama panggilan gue. Nama panggilan gue adalah----gue harap kalian pada nutup kuping saat gue nyebutinnya---Bibit. Aduh, itu nama jelas-jelas ga ada rasa feminimnya apalagi kesan sexynya. Jadilah, gue protes sama emak gue.
          “Lebih bagus gitu daripada dipanggil birit”, ceplos emak gue membela diri. Asal kalian tahu aja birit disini artinya bukan lari terbirit-birit ataupun kocar-kacir. Tuh, kata diambil dari kamus warisan nenek moyang gue yang berarti pantat. Tuh kan emak gue emang tega sama anak!
          Kemarin gue senang banget dapat undangan ultah dari sohib gue di sekolah. Lebih tepatnya sohib dalam tanda tanya. Di sekolah boleh dibilang kami tidak selevel, tapi kami duduk dalam ruang kelas yang sama. Jadi, kami sekelas tapi tak selevel. Tapi saat pegang tuh kartu undangan, gue sadar inilah saatnya bilang wow! Karena itu artinya ia telah mandang gue selevel.
          Nama sohib gue yang masih dalam tanda tanya itu adalah Paris. Dia seangkatan gue, dan sudah pasti namanya kebule-bulean juga.
          Meski namanya kebule-bulean persis nama gue, gue pikir nasibnya jauh berbeda. Konon katanya, menurut desas-desus yang santer terdengar, ia bernama demikian karena lahirnya di Prancis. Keren banget, kan! Dasar memang orang kaya mau lahiran aja mesti pergi dulu ke luar negeri. Dan gue pikir-pikir si Paris itu, sebelum lahirpun ia sudah dapat passport biar dapat izin brojol disana. Kalo ga, bisa aja kan dia disangka imigran illegal, diselundupkan didalam rahim emaknya, dan mesti dideportasi dengan keadaan yang masih merah.
           Paris sendiri begitu bangganya dengan tempat kelahirannya. Saking bangganya, bahkan ia sudah berniat untuk mendapatkan cowok Eropa buat dijadiin suami.
         Gue sendiri sih bingung apa hebatnya lahir di luar negeri kalo ujung-ujungnya lu cari makan disini. Di sanapun ia pasti lahirnya di rumah sakit. Dibantu bidan atau dokter. Sama aja kan kayak disini. Kecuali mungkin kelahirannya boleh dibilang istimewa apabila ia lahir tepat dibawah menara Eiffel. Tahu sendiri, dan gue yakin, orang Prancis sekalipun kayaknya belum ada yang lahir tepat dibawah menara Eiffel. Jadi memang, kayaknya pemerintah Prancis wajib menuliskan kelahiran si Paris itu di buku-buku sejarah. Karena lahir dibawah menara Eifel bukanlah hal yang mudah ditiru dan dapat dijadikan trendsetter layaknya born water.
          Gue yakin hut-nya Paris ini pasti bakal diadain gede-gedean. Gak mungkin banget kalo, Paris yang bapaknya pengusaha real eatate, bikin pesta sekelas kandang kambing. Dengan duit yang bejibun amburadul, sampai ga kekantongin, dia pasti mampu ngedatengin artis sekelas Agnes Monica. Lagian buat apa pula nyimpan duit banyak-banyak di bank.
          Sebab itu, gue musti tampil all out sampai ke ujung-ujung bulu kuduk gue ( Kalo bisa sampai bulu ketek. Tapi Alhamdulillah ketiak gue terawat dengan baik ). Gue harus jadi pusat perhatian. Jadi semacam top model yang gayanya wajib ditiru. Kalau bisa gue harus bisa nyaingin yang punya hajat.
          Sudah jauh-jauh hari gue pesen baju ke salah satu perancang. Gue juga sih dapat rekomendasi resmi dari teman gue supaya bikin baju disana aja. Katanya beliau ini pernah ngenyam pendidikan fashion di Paris. Nah, lantaran latar belakang pendidikannya itu, gue rela-relain buka celengan. Gue yakin, seorang perancang yang pernah sekolah di Paris, pasti tahu betul bagaimana caranya bikin baju yang bikin iri anak yang lahir di Paris.
          Tapi sebelumnya gue omongin dulu model baju kayak apa yang gue mau.  Biar entar sang perancang menterjemahkannya ke dunia nyata dengan baik. Simple aja sih. Gue kepengen baju dengan motif ala-ala kulit binatang gitu. Biar kesannya glamour gitu. Gue harus  tampil mewah, elegan, dan suwir-suwir.
          Denger-denger juga si kembar Jessica and Ashlee diundang juga ke pesta kelas kakap itu. Malahan katanya mereka sudah beli gaun pestanya di pasar Tanah Abang. What? Sumpah, gue terkejut banget. Untuk pesta seukuran artis Holiwood, si kembar Jeli---itu panggilan akrab gue kepada mereka----beli gaunnya di pusat grosir Tanah Abang? Apa kata dunia? Kalo sudah pada waktunya, gue janji, gue gak mau deket-deket mereka. Sama saja itu menurunkan harkat martabat derajat gue didepan orang-orang.
          Tapi untungnya, adik gue, Christina, si Korean holic, yang nyebelinnya beribu-ribu kali lipat daripada Hitler, gak diundang. Artinya gue masih diposisi aman. Adik gue itu emang biang propaganda. Setiap tingkah lakunya gak pernah absen bikin malu. Membuat gue kayak seorang kakak durhaka yang ga mampu ngurus sodara sendiri. Cukup dengan bilang amin, amin, amin, kalau perlu seribu kali amin, gue bersyukur. Yes! Yes! Yes!
          Keesokan harinya, gue datang lagi ke butik tempat gue mesen baju buat ngecek kesiapannnya. Waktu gue liat bajunya, gue sampai takjub hingga lupa diri. Coba, dipake manekin aja sudah bagus, gimana kalo dah nempel di badan gue. Secara bentuk badan gue mendekati top model dunia!
         “Boleh gue coba sekarang?”, tuntut gue udah hilang kesabaran.
          Sang perancang cuma senyum-senyum imut dengan gerak tubuh yang gemulai. Gaya kemayunya itu sempat gue ngira dia bukan sekolah di Paris, tapi di Taman Lawang. “Coba aja. Gratis, kok. Entar ex bantuin yey pake baju”, katanya ramah.
         Tentu aja, gue tolak mentah-mentah tawarannya itu. Sekalipun dia kemayu, tetap saja dia cowok. Bisa jadi, kan, kekemayuannya itu adalah kedok. Jadi, tanpa bantuannya, gue pake baju itu.
            Entah kenapa waktu baju itu sudah nempel dibadan ada sesuatu yang terlahir dari jiwa gue. Badan gue rasanya panas. Rasanya gue pengen cakar-cakar dan gigit-gigit. Rasanya gue menjelma jadi cewek binal yang mau segera cari mangsa. Sumpah, gue gak sabar nunggu hari itu akan datang. Gue yakin gue bakal jadi sensasi yang tak bisa dilupakan seumur hidup. Semua orang bakal terpukau.
          Waktu yang ditunggu-tunggupun akhirnya tiba. Alhamdulillah banget matari masih terbit di timur. Tapi tentu saja mesti nunggu matari tenggelam dulu saat pesta diselenggarakan. Jadi, masih banyak waktu buat gue pamer-pamer di depan muka Christina. Biar ia iri dan langsung semaput karena watak dengkinya.
          “Bagus, kan, baju gue. Nih, baju gue bikin langsung dari designer kesohor” ucap gue sambil lenggak-lenggok centil didepan cermin.
         Sambil cengar-cengir gak jelas, Christina bilang, “Sebenarnya sih yang bagus tuh badan kakak. Pake  baju apa aja pasti cocok. Apalagi kalau ada angin pasti adegannya dramatis kayak Marilyn Monroe pegang roknya”.
          Apa gue ga salah denger? Belajar darimana tuh anak muji-muji gue? Ga biasanya dia begitu. Pasti ada apa-apanya. Tapi saat gue liat lagi bayangan gue dicermin, kayaknya omongan Christina bener banget deh. Ok, gue memang harus positif thingking, setidaknya realistis. Bisa saja, kan, tanpa sepengetahuan gue dia bikin sesaji dan tebar bunga disekeliling rumah buat tobat.
         Adik gue tobat, tak ada lagi yang perlu dikhawatirin!
          Malampun tiba. Matahari terbenam begitu melankolis. Senjapun menambah kedramatisan penampilan gue. Nongkrong disalon sampe berjam-jam lamanya emang ngebosinin. Tapi gue puas. Gue yakin seyakin gue sama Tuhan, guelah primadona pesta itu.
          Sungguh, pesta hut ini seperti yang gue sangka-sangka. Lampu-lampu kristal kelap-kelip disana-sini. Kayaknya Paris langsung nyewa para malaikat dari langit buat mindahin bintang-bintang kebawah sini. Kue tartnya gede banget. Saat gue ngucapin selamat, Paris senyum-senyum gak karuan liat penampilan terbaik gue. Gue yakin dia pasti lagi berusaha menutupi kedengkiannya. Dia kalah oke sama gue.
         Saat acara inti dimulai, para tamu berkerumun mengitari kue tart yang ekstra besar itu. Lagu khas ulang tahun mulai didengungkan. Para hadirin ikut nyanyi dengan ogah-ogahan dan tepuk tangan males-malesan.
          Kue tart dipotong. Potongan pertama tidak diberikan pada sang ortu atau temen deketnya. Tapi langsung diberikan pada sosok lelaki blasteran yang didatangkan langsung dari Australia. Ini dia pangerannya. Semua mata tertuju kearah cowok balsteran itu. Apalagi mata centil para cewek. Mereka semua sepakat, termasuk gue, kalo cowok bule itu patut diperebutkan. Pasalnya, selera Paris adalah bule totok yang langsung diimpor dari Eropa, bukan cowok Indo dari negeri tetangga. Well, gue masih punya kesempatan tebar pesona didepan cowok indo itu, yang gantengnya kebangetan sampe menyiksa pandangan gue.
          Namun pada saat itu ada yang manggil-manggil nama gue. Dari jenis suaranya gue tahu itu dari si kembar chibi Jeli. Gue noleh kebelakang. Dan sumpah gue untuk jauh-jauh dari si kembar jeli tak sanggup gue tepati. Se-nggaknya merekalah yang ngedeketin bukan gue. Semua pandang mata lekas teralih kepada kami bertiga. Tubuh gue rasanya terbakar habis-habisan. Ini kayaknya sensasi yang paling diharapkan di pesta ini.
          Kalo Jessica dan Ashlee selalu pake baju serupa sangatlah wajar. Tetapi ternyata baju yang gue pesen dari perancang terkenal dengan motif belang-belang khas kulit macan tutul, potongannya persis sama dengan baju Tanah Abang yang dipake si kembar. Jelas ini aib! Kutukan!
          Tiba-tiba saja lagu Iwak Peyek yang kontroversi itu berdengung-dengung kencang dikuping gue.
          Lekas saja semua hadirin yang datang berbarengan teriak girang, “Trio macan! Trio macan!”.
          Langsung aja pandangan gue gelap dan tak tahan buat semaput. Satu-satunya hal terakhir yang gue ingat sebelum semaput adalah gue teriak sekencang mungkin. Teriakan itu sampai membuat energy gue habis. “Titiiiiiiiiinnnn!”

Minggu, 25 November 2012

Sebuah Berita Kematian




          Akhir-akhir ini Indra, teman semasa sekolah dulu, kerapkali datang ke rumahku. Kali ini ia datang bersama Deri. Motornya yang agak bergaya semi sport di parkir di pekarangan depan rumahku.
          Selama beberapa menit, bahkan mungkin selama beberapa jam, kami pasti terjebak pada topik pembicaraan yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku berharap kehadiran Deri diantara kami dapat memberikan suasana yang lebih segar. Tak seperti hari-hari kemarin yang selalu membicarakan tentang pekerjaan dan rencana-rencana kami kedepan.
          Sebelum aku banyak berbasa-basi, kedua temanku itu sudah duduk di teras depan dan memesan tiga porsi gado-gado yang kebetulan dijual tak jauh dari rumahku. Memang dari kemarin-kemarin Indra sudah ribut-ribut kepengen makan gado-gado. Tapi baru hari ini---keliatannya sekarang ini ia lagi punya banyak duit---ia baru beli bahkan langsung mentraktir kami berdua.
          Obrolan yang keluar diantara kami memang jauh dari tema biasanya, tapi ini sungguh diluar dugaanku. Seperti sebuah kisah yang berada jauh dibatas logikaku.
          “Aku gak nyangka umurnya si Andri itu pendek”, katanya tiba-tiba membuka pembicaraan ini dengan cara yang tak seperti biasanya.
          Aku agak tersentak, namun terlihat diam tenang. Keadaanku stabil terkendali. Namun dibalik kepalaku ini berputar-putar satu pikiran dan satu pertanyaan. Aku berusaha meyakinkan diri ini bahwa aku tak salah dengar, tapi aku juga berharap aku telah salah dengar.
          Andri sudah meninggal? Bagaimana bisa aku sampai tak tahu kabar kematiaan itu? Aku mengingat-ingat entah dimana aku berada saat berita kematian itu disampaikan melalui pengeras suara dari dalam surau kampung. Namun satu hal yang kuingat---mimpi itu!
          Dalam mimpi itu ia mengenakan baju koko putih dipadu kopiah berwarna senada menutupi rambut kepalanya. Ia menatapku dan memegang tanganku. Tatapannya seerat pegangan tangannya. “Fajri, besok aku mau pergi ke pesantren”, ujarnya padaku. “Nanti kamu antar, ya”.
            Aku Cuma menganggukkan kepala.
          Andri memang pernah bilang tentang keinginannya untuk mondok di Cariu selepas sekolah dasar nanti. Tapi pada kenyataannya ia justru meneruskannya ke sekolah madrasah tsanawiyah, lantas melanjutkannya lagi ke SMA biasa di Cibinong.
          Tepat pada waktunya, akhirnya aku mengantarnya. Hanya aku. Tak seorangpun yang mengantarnya selain aku. Andri terus berjalan didepanku. Tanpa menoleh ke belakang apalagi menunggu langkah-langkahku. Dibelakang aku berusaha mengejar ayunan langkahnya. Aku memanggil-manggilnya, namun ia seperti tak mendengar.
          Ketika ada angkot berhenti, ia segera naik tanpa mengacuhkan aku. Ia menyuruh sang sopir untuk segera pergi. Cepat-cepat aku menyetop angkot yang lain. “Bang, tolong kejar angkot yang didepanku”, perintahku pada sang sopir sambil menunjuk-nunjuk kedepan.
     Setelah melintasi jarak yang terlalu pendek untuk adegan kejar-kejaran, akhirnya angkot yang ditumpangi Andri berhenti tepat didepan sebuah kebun kosong.
          Kebun itu ditumbuhi oleh segala macam semak dan tumbuh-tumbuhan liar. Andri berjalan masuk menyusuri jalan setapak didalam kebun kosong tersebut. Buru-buru akupun memasuki kebun itu. Aku teriak-teriak memanggil namanya. Namun jarak kami semakin jauh. Andri semakin tak terjangkau oleh teriakkanku. Ia lenyap dilahap semak-semak serta tetumbuhan liar yang ada disekitarnya. Aku kehilangan jejak. Aku tak tahu apakah harus meneruskan langkah ini atau kembali keluar dari kebun kosong ini. Namun kebingunganku itu terhenti saat aku terbangun dari mimpi itu.
           Andriana, itulah nama lengkapnya. Seperti terakhir kalinya aku melihat, wajahnya putih dengan beberapa titik bekas jerawat yang tak terlalu kentara terlihat. Rambutnya berwarna kecoklatan dengan warna mata serupa. Senyumnya selalu merekah setiapkali bertemu dan menyapaku. Setiap kata yang keluar dari bibirnya selalu berisi tentang kekagumannya padaku dan segala puja-puji yang menerbangkan khayal. Tak pernah sekalipun ia merendahkan atau meremehkanku. Untuk beberapa hal kita memiliki banyak kesamaan.
          Wajah itu, senyum itu----selalu kuingat dalam kenanganku. Dan semakin dalam aku memperhatikan wajah dan senyumnya itu, aku sadar aku telah mengenalnya jauh sebelum aku masuk sekolah.
          Ketika itu, aku duduk di pojok ruangan. Duduk bersila disana sambil membuka-buka buku iqra. Hanya membuka-membukanya dan membolak-baliknya. Setiap huruf Arab yang tertera sekilas kuperhatikan. Aku tak mengerti. Aku sama sekali tak bisa membaca huruf-huruf keriting ini.
          Sementara dipojok ruangan sebelahnya, kulihat seorang anak yang seumuran denganku tengah membaca juz amma begitu lancarnya. Ia sudah tahu dan mengerti huruf-huruf Arab itu. Seorang pria dewasa tanggung---usianya sekitar awal dua puluhan---tengan membimbing anak berkulit putih itu membaca ayat-ayat Al-quran. Beberapa surat ia baca samapai selesai. Setiap ada kesalahan, pria itu segera memotong bacaan anak itu. Sampai akhirnya anak itu menutup buku kitab itu dan menciumnya. Lalu, ia bergeser kebelakang dan bersandar diatas dinding dengan perasaan tenang.
          Di sekolah kuketahui anak itu bernama Andriana tanpa kusadari langsung dialah anak yang pandai mengaji itu. Aku sendiri tak ingat pasti di kelas berapa aku mulai mengenalnya dan bagaimana caranya kami mulai berkenalan. Semuanya terasa begitu tiba-tiba tanpa ada yang mengawali. Satu hal yang kurasa; aku merasa aku tak pernah berjabat tangan saat mulai mengenalnya.
          Sampai kini yang kuingat darinya adalah setiap kata kekaguman serta pujiannya padaku. Juga senyumnya. Seulas senyum yang penuh dengan ketulusan. Tak pernah ada yang memberikan senyuman setulus itu padaku. Dan senyuman itu ikut terhenti seiring kecelakaan sepeda motor itu terjadi.
           “Fajri aku pulang dulu”, kata Indra membuyarkan ingatanku.
          “Besok kesini lagi, kan?”, kataku penuh basa-basi
        “Insya Allah, kalau ada umur”, jawabnya sok religi.
          Ya, setiap persoalan memang tak pernah jauh-jauh dari waktu. Dan waktulah yang mengisi setiap umur makhluk hidup. Kita semua hanya tinggal menunggu kapan waktu yang ada diumur kita habis terpakai. Maka selagi ada waktu, persiapanlah yang mesti selalu kita ingat. Tak hanya tentang kenangan apalagi cita-cita.

Selasa, 06 November 2012

TETANUS OH TETANUS



        Graha Medika, terlalu kecil untuk disebut rumah sakit, namun cukup luas sebagai klinik. Dari luar terlihat beberapa orang tengah duduk di lobi utama yang disulap menjadi ruang tunggu. Para suster tampak sibuk berlalu lalang dengan langkah terburu-buru dan tergesa. Begitu masuk aku merasakan aura yang berbeda. Ketika itulah berkelebat di dalam kepalaku sesosok wajah polos tersenyum padaku, sesosok wajah yang sekian belas tahun hanya mengambang dalam ingatanku saja.
          Dialah sahabat karibku satu-satunya sewaktu SD, Janharuddin.
          Pada masa itu aku adalah anak yang pendiam. Saking lugunya, seringkali aku menjadi bahan ejekan dan lelucon anak-anak. Setiap sekolah dan masuk kelas rasanya seperti terjebak ditengah kehidupan belantara liar----siapa kuat dia dapat, siapa lemah dia kalah. Janharuddin selalu hadir di dunia antah berantahku. Dia tak hanya hadir sebagai seorang sahabat, tapi dialah pelindungku juga pahlawanku.
          Tepat dihari pertama masuk di kelas 2 SD, aku kini tahu saat itulah terakhir kalinya aku melihat wajah sang sahabat sejati.
          Biasanya dihari pertama masuk tahun ajaran baru, anak-anak rebutan bangku sekolah. Mereka harus datang sepagi mungkin untuk mendapatkan posisi bangku yang diinginkan. Beruntung bagi mereka yang rumahnya dekat dengan sekolah. Mereka bisa datang sepagi-pagi mungkin dari biasanya. Di ruang kelas baru itu meraka hanya tinggal meletakkan tasnya masing-masing diatas bangku yang telah mereka pilih. Setelah itu mereka bisa kembali lagi ke rumahnya. Beberapa menit lagi lonceng hendak berbunyi baru mereka muncul lagi di sekolah.
          Diantara rumah para siswa, akulah yang terjauh dari sekolah. Sepagi apapun aku tiba di sekolah, meskipun jam masuk kelas masih lama, aku terlambat. Bangku- bangku dibarisan depan telah terisi semua. Tapi tak seorangpun anak yang tampak. Bahkan diluar sana belum ada keramaian para siswa sekolah yang datang. Aku berdiri didepan pintu, perlahan-lahan masuk ke dalam kelas. Satu per satu bangku kuperhatikan, berharap cemas masih ada bangku yang kosong.
          Sebuah sentuhan menepuk bahuku. “Sudah dapat bangkunya, Fajri?”, ucap Janharuddin yang mendadak berdiri disebelahku.
          Dengan putus asa kugelengkan kepala.
          “Ayo kita cari bangku yang kosong!”, Lekas saja Janharuddin memeriksa setiap meja, dari baris depan ke belakang dan dari baris kiri ke kanan. Begitu sibuknya ia bergerak seperti mencari sesuatu benda yang terselip didalam salah satu meja. Ciri yang menguatkan bahwa bangku itu sudah ada isinya adalah dari tas yang tergeletak diatas meja tersebut.
          Apabila kami adalah anak jahil, kami bisa saja memindahkan salah satu tas ke bangku lain yang sudah ada penghuninya. Kami tak melakukannya. Kami tahu , seperti yang sudah-sudah, itu dapat menjadi sumber perselisihan antar siswa. Lagipula aku bukanlah anak yang pandai kelahi.
         Dibangku terakhir, dibagian paling belakang dan pojok, hanya ada satu tas disana. Itu artinya masih ada satu kursi untuk aku duduk. “Kamu disini saja, Fajri”, kata Janharuddin. “Tidak apa-apa dibelakang juga daripada tidak dapat sama sekali”.
          Aku menjawabnya cukup dengan anggukan. Tanpa protes sedikitpun. Meski akupun bertanya juga dalam hati mengapa Janharuddin tak memberikanku tempat di sebelahnya, dibangku paling depan itu seperti anak-anak lain yang selalu ingin sebangku dengan teman akrabnya.
          Keesokan harinya tak kulihat lagi wajah Janharuddin. Perjuangan mendapatkan bangku pun seperti menjadi sebuah kesia-siaan, karena pada akhirnya wali kelas baru kami justru mengatur kembali tempat duduk kami. Aku mendapatkan bangku didepan meski cukup jauh dari meja guru. Padahal semua anak mengharapkan dapat duduk dibangku yang berhadapan langsung dengan meja guru.
          Saat wali kelas baru kami mengabsen nama kami satu per satu dan memanggil nama Janharuddin, salah seorang siswa menjawabnya. “Janharuddin sakit, Pak”.
          “Sakit apa?”.
          “Kakinya tertusuk paku, Pak”.
          Aku pikir sakitnya tidak parah. Barang satu atau dua hari pasti sembuh meski jalan dengan terpincang-pincang. Namun sudah seminggu dia belum masuk juga. Dari desas-desus yang kudengar sakitnya semakin parah saja. Sudah beberapa kali ia dibawa ke puskesmas bahkan klinik setempat namun kondisinya malah semakin memburuk. Tubuhnya seringkali kedapatan menggigil dengan keringat dingin. Tak usah sesuap nasi, setetes airpun sudak tak masuk lagi kedalam mulutnya. Bahkan katanya bicara saja ia sudah tak bisa. Separah itukah penyakit yang menerpanya?
         “Tetanus”, begitu nama penyakit yang kudengar dari para siswa yang membicarakan tentang Janharuddin. Saat mengucapkan nama penyakit itu seperti terpancar pula keprihatinan amat mendalam dalam wajah mereka. Aku sendiri tak bisa membayangkannya; betapa sakitnya yang dialami Janharudin.
          Tak lama kemudian muncul berita Janharuddin meninggal. Aku tak menangis. Aku hanya terdiam dipojok sekolah, memikirkan bagaimana rasanya harus masuk kedalam lubang yang sempit diusia semuda itu.
          Penyakit serupa kini menjangkiti guru mengajiku. Sudah beberapa hari ini ia terkapar di klinik Graha Medika. Sore itu kami berdua, aku dan kakakku, berniat menjenguknya.
           Kami datangi meja resepsionis. “Bu, ruang isolasi disebelah mana ya?”, tanya Kakaku.
           “Masuk saja ke dalam koridor in”, tunjuk resepsionis itu menerangkan, “lalu naik tangga diujung koridor”.
          Kamipun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh resepsinos itu. Dilantai atas aroma menyengat yang khas makin kentara dihidung. Beberpa pintu kamar terbuka lebar-lebar. Kami dapat melihat ranjang yang berantakan, pasien  yang tengah terbaring dan orang yang menjenguknya. Sebagai tempat untuk merawat kesehatan, klinik in jauh dari standar kebersihan. Keadaannya tak teratur dengan baik.
          Kepada cleaning service yang tengah sibuk mengepel lantai dengan langkah mundur, kami kembali bertanya dengan pertanyaan sama pada resepsionos dibawah tadi
           Lelaki cleaning service itu menunjuk sebuah pintu disebalahnya. Diantara pintu-pintu kamar lainnya, pintu yang paling ujung inilah yang tertutup rapat-rapat. Diatas daun pintu pu ditempel kertas berisi kalimat semacam peringatan. Tanpa mengetuk, kakakku membuka pintu tersebut, berusaha sepelan mungkin agar tak mengeluarkan suara deritan sekecila apapun itu.
           Sebelum kami melangkah masuk bahkan menengok kedalam, langkah kami langsung dicegat dengan tatapan tawar   Khoer dari dalam. Sekilas kami dapat melihat keadaan didalam ruangan begitu gelap dan sunyi. Tirai-tirai kaca secara sengaja ditutup serapat mungkin. Sesaat kami membicarakan keadaan terkini guru mengajiku tersebut. Selain itu, ia juga tidak sendiri menjaga guru mengajiku, tapi bersama Rusda anak dari guru mengajiku. Kamipun meminta agar dapat berbicara dengannya.
          Dari balik pintu ia tersenyum manyambut kami. Wajahnya tenang seakan tak ada apapun yang patut dikahawatirkan. Darinya kami tahu mengapa mengapa lampu dipadamkan dan tirai-tirai ditutup.
          “Bapak sensitive kena cahaya dan suara”, katanya begitu pelan dan hati-hati. “Kena cahaya sedikit saja tubuhnya mengejang. Seperti kesakitan”.
          “Kok bisa?”, ucapku dengan keprihatinan mendalam.
          “Syarafnya….”. kata Rusda sambil menggerakan tangan didepan lehernya seakan-akan hendak menarik dagunya kebawah.
           Aku sendiri Cuma menganggukkan kepala. Entah bagaimana rasa sakitnya ketika Janharuddin menggeram nyeri. Pasti ia menahan rasa sakit berlipat-lipat. Ia tak dirawat di ruang isolasi. Ia hanya berbaring didalam kamarnya bersama orangtua yang selalu berada disampingnya. Orangtuanya hanya tahu tetanus sama saja dengan penyakit demam biasa.

Senin, 08 Oktober 2012

URANG SUNDA FOR PRESIDENT

          Bapak asli Sunda. Ibu pula demikian, tulen. Praktislah aku selaku anaknya ketularan darah meraka, Sunda, tanpa campuran limbah atau polusi segumpal darahpun dari etnis lain.
          Satu cita-cita terbesarku; pemimpin tertinggi di negeri ini, presiden.
          Tak ayal, kedua orangtuaku tertawa geli mendengar keinginanku itu. Tak hanya mereka, tapi juga semua orang disekelilingku menganggap itu mustahil. Bagiku sendiri, alasan mereka menganggap ini aneh adalah sebentuk keanehan juga. Masalahnya bukan aku terlalu tinggi menggantungkan cita-cita, tapi cenderung pada perihal kesukuan.
          “Kita itu orang Sunda, orang yang suka bercanda, orang yang membawa kehidupannya dengan ringan-ringan saja. Bukan orang Jawa yang selalu serius. Dan tentu saja menjadi presiden itu berarti menjadi orang serius. Akan lebih cocok apabila orang Sunda itu menjadi orang panggung; seniman, artis, bahkan pelawak. Diluar dari dunia seni, jadilah orang yang ahli dibidang teknologi”. Begitulah kata orang-orang termasuk pula kedua orangtuaku.
          Niatku tetap tak terpengaruh omongan mereka. Sedari awal menjadi presiden adalah impianku sampai mati. Sekali-kali wajib orang Sunda berperan sebagai pemimpin di negeri ini, karena apabila tak demikian sejarah akan selalu mencatat suku Sunda akan selalu dibawah Jawa.
          Pernah suatu kali salah seorang guruku menyebutkan begini---meskipun dengan nada kelakar; “Kita itu harus hati-hati sama orang Jawa. Jangan macam-macam sama mereka, karena apabila orang Sunda diusir dari Pulau ini kemana pula kita harus lari. Orang Sunda tak punya pulau selain selat. Mau kalian selama hidup berenang di selat sambil menunggu Krakatau kembali meletus sedahsyat mungkin agar laharnya membentuk pulau baru dan dapat kita tempati”.
          Tentu saja karena itu dibawa dengan ringan sama sekali tak membuat para murid berpikir dan mempertanyakannya lebih jauh. Malah kita, para murid, justru tertawa-tawa dengan pandangan guruku itu.
          Tapi ketika aku tumbuh dewasa aku mulai memikirkannya kembali; meskipun kita, Sunda dan Jawa, berada dalam satu kesatuan sebuah negara, apa salahnya juga melawan demi harga diri kesukuan kita? Apakah kita belum puas dengan sejarah kita yang selalu mengalah, bahkan melepaskan atribut kehormatan kita ketika para pemuda kita semasa Mataram berdiri, disandera disana dan di-jawa-kan? Sementara raja-raja kita, setiap tahunnya harus mau bersikap layaknya seorang sudra dengan melakukan pekerjaan tukang kebun di Mataram sana? Apakah ini imbas dari watak kita yang tak menyukai kekerasan, pertumpahan darah? Memikirkan semua itu memang tak layak di tanah yang disebut parahyangan----yang berarti tempat para dewa bersemayam--- terjadi banyak peperangan. Dan memang apa guna pula kekuasaan manusia dibandingkan dengan kekuasaan sang hyang, Tuhan semesta alam. Namun tentu saja kita juga tak boleh memperbudak diri kita kepada manusia seperti halnya kita memperbudak diri terhadap Tuhan.
          Meski suku Sunda terusir dari pulau Jawa, bukankah kawasannya justru Sunda punya; kepulauan Sunda Besar ( Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulewasi ) dan kepulauan Sunda Kecil ( Bali, Nusa Tenggara ), dan entah Sunda macam apapula Maluku dan Papua? Barangkali kelak ketika aku sudah menjabat presiden nanti aku akan menyebut pulau-pulau paling timur itu dengan kepulauan Sunda Sedang-Sedang saja.
           Dari zaman purba hingga era modern ini sejarah Jawa selalu diwarnai dengan perebutan kekuasaan. Ada orang yang berhasil mengambil alih kekuasaan, berarti ada juga orang yang harus bersedia menjadi budaknya. Tak heranlah banyak orang Jawa bersedia membungkuk, menunduk, bahkan mengesot dihadapan para penguasanya. Melihat kenyataan ini aku tahu, sebenarnya masyarakat Jawa  sendiri memiliki perasaan nasib yang sama dengan orang Sunda. Dan, aku tak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut hingga anak-cucu kita. Kuncinya, aku tak boleh menyerah meraih cita-citaku ini. Aku takkan membiarkan negeri ini sebagai negeri para budak.
          Selepas SMA aku masuk fakultas politik, melanggar tuntutan orangtua yang menyuruhku masuk fakultas seni atau mendaftar ke ITB. Orangtuaku marah namun akhirnya pasrah. Selain kuliah, aku juga bekerja. Barangkali inilah yang paling disukai oleh kedua orangtuaku; aku mengisi sebuah acara di stasiun tv sebagai pelawak. Kata mereka aku benar-benar seperti orang Sunda murni.
          Pertama kali menginjakkan kiprahku di dunia perlawakan, aku selalu menjadi bulan-bulanan para senior. Namun semakin lama aku berkecimpung di dunia hiburan, sebaliknya justru akulah yang membulan-bulani para juniorku. Dalam lawakanku, agar orang-orang mau tertawa, aku tak segan-segan menjelek-jelekkan bentuk fisik mereka bahkan privasi rekanku sendiri.
          Namun tatkala memasuki dunia kampus kembali aku berpikir apakah benar yang kulakukan dalam lawakanku itu? Ketika aku mulai membuka-buka buku politikku, rasa-rasanya aku tak beradab sekali telah melakukan lawak semacam itu. Apakah dalam tradisi guyon Sunda pun ada lawakan semacam itu?
          Aku sendiri pernah menjadi junior. Aku tahu sekali dua kali, orang-orang yang merendahkan fisikku dalam lawakan sama sekali tak berpengaruh. Namun ketika itu dilakukan berkali-kali, aku selalu bercermin mengapa orang begitu mudahnya menjelek-jelekkan aku. Tapi aku juga tahu itu hanya bercanda, tidak serius. Tapi bagaimanapun juga, sekalipun bentuknya bercanda ternyata itu mampu merasuki perasaanku. Barangkali begitu, dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Bodohnya, aku telah meniru kelakuan seniorku kepada junior-juniorku.
           Disini aku mulai simpulkan tak ada beda gossip dengan lawakan semacam itu; sama-sama dapat menjadi ghibah. Terkecuali keadaannya; gossip dilakukan dibelakang orangnya, sementara lawakan dilakukan terang-terangan didepan orangnya. Maka aku mulai berpikir, seharusnya sebagai anak kuliahan aku harus bercanda dengan cara yang intelek bukan dengan mengangkat kejelekan orang, karena bercanda itu bukan hanya sekedar tawa dengan cara merendahkan tapi juga dapat membuat orang-orang berpikir kritis dengan cara yang ringan.
          Selepas kuliah, aku tinggalkan dunia lawakan yang telah membesarkan namaku dari anak kampung menjadi manusia metropolis. Sekali lagi aku kembali mengecewakan kedua orangtuaku; aku menikahi seorang gadis Jawa.
            “Apakah kamu sudah seperti orang-orang diluar sana yang menganggap gadis-gadis  kita sebagai perempuan matere?”, begitu omel orangtuaku. “Bahkan sampai menganggap lebih cocok dijadikan permainan---pelacur---ketimbang jadi istri?”
          Ketika itupula keluar dari mulut mereka berbagai mitos lelaki Sunda mengawini perempuan Jawa; pernikahannya akan awet rajet, meski terlihat rukun sebenarnya rumah tangganya dingin, selalu diselingi dengan pertengkaran. Bahkan banyak mitos lain yang tak mampu aku sebutkan disini.
          Bahkan keluarga dari istriku sama tak setujunya dengan hubungan kami. Mereka begitu detail melihat calon suami anaknya ini. Mereka bilang lelaki Sunda itu doyan daun muda alias poligami.
          Walaupun demikian, akhirnya mereka pasrah juga sambil mendoakan yang terbaik untuk kami.
          Keluar dari dunia kampus dan lawak, tentu saja aku meniti karir sesuai dengan pendidikan dan cita-citaku. Aku menjadi seorang kader partai politik. Atas dukungan istriku karirku cepat melesat. Barangkali karena ia seorang Jawa, tahu obsesiku meraih kekuasaan ia terlihat begitu bangga. Meski dari luar orang-orang menganggapnya sebagai perempuan lugu nan kalem.
          Takdir akhirnya memberikanku kesempatan sebagai salah satu kandidat presiden. Tak aneh, para rivalku kebanyakan dari suku Jawa. Seperti sebelum-sebelumnya, boleh dibilang mereka adalah calon presiden S yang akan melanjutkan dinasti presiden S sebelumnya. Dan hanya ada seorang saja, calon presiden yang dari luar pulau Jawa.
          Disaat pencalonan ini, tibalah aku mesti naik panggung, berkampanye mempromosikan diri habis-habisan. Pidatonya sederhana; bermunafik-munafik ria saja. Semuanya serba digratiskan apabila aku terpilih. Namun tak ada orang yang menganggap omonganku itu serius. Sepertinya bukan karena meraka tahu janji-janjiku hanya bualan saja, tapi mereka benar-benar tertawa melihatku.
          Benarkah kata orangtuaku bahwa orang Sunda itu tak pantas menjadi orang yang serius? Bahkan terlihat seriuspun menjadi bahan tertawaan. Kendati begitu, sebisa mungkin aku menyelesaikan pidatoku. Aku turun dari panggung dengan rasa malu yang amat sangat. Ketika itu istriku juga terlihat senyum-senyum, menertawaiku. Ia menunjuk kebawah, memberitahuku dengan berbisik; resleting celanaku belum dikancingi.

Kamis, 28 Juni 2012

LILIN KE-24


          Ulang tahun! Ulang tahun!
          Bulan ini, akhir bulan Juli ini, saya bakal meniup dan memadamkan lilin kehidupan saya. Tentu saja, sebelum aku meniup lilin itu, saya akan menyertakan pengharapan besar diantara desahan nafas saya, hingga akhirnya, ketika lilin itu padam, semuanya seperti keterlanjuran---saya tak dapat meminta apa-apa lagi selain yang telah didoakan sebelum lilin itu padam
          Diusia saya yang menginjak angka kedewasaan itu, tak pernah sekalipun saya menemukan yang namanya kebenaran, keadilan, kebajikan, ataupun segala hal yang begitu diharapkan oleh semua insan manusia dimuka bumi ini. Dalam doa lilin ulang tahunku nanti, aku belum menentukan doa macam apa yang mesti kupanjatkan. Wajarkah apabila aku meminta hal-hal yang tak selayaknya terwujud seperti hal-hal diatas?
          Yang aku tahu, apa yang dianggap kebenaran bagi sebagian besar umat manusia rata-rata berasal dari pembenaran yang diterapkan oleh seseorang. Oleh sebab itu, saya berpikir, barangkali hal yang pantas aku lakukan tidaklah cukup dengan doa saja. Tindakan nyata mesti saya lakukan, karena pembenaran diatas segala-galanya. Singkatnya, apabila saya ingin sukses, saya harus berani melabrak segala tradisi dan apapun yang telah umum dianggap benar dalam masyarakat. Barangkali juga, tak ada salahnya saya membuat pembenaran yang lain, karena setiap hal memiliki sudut pandang yang salah dan benar. Semutla-mutlaknya kebenaran pastilah ada sisi salahnya yang dapat meruntuhkan satu kebenaran tersebut.
           Begitupula halnya dengan keadilan, karena memang yang ada itu hanya pengadilan.
          Ketika kita berada didalam ruang sidang jelaslah yang kita cari bukanlah keadilan. Kita hanya butuh satu pembenaran saja agar persidangan itu mau adil terhadap pihak kita. Dan, saat kita kalah yang dapat kita andalkan hanyalah keikhlasan. Keiklahasan adalah satu-satunya hal yang dapat membohogi kita dalam mendapatkan rasa adil. Selebihnya, kita tunggu waktu yang tepat dan usahakan sekeras-kerasnya agar pembenaran yang kita buat diamini oleh hakim dan masyarakat.
            Di ulang tahun saya ke-24 ini rasanya terlalu naïf apabila saya bersikap patuh. Seperti yang telah diutarakan diatas pembenaran merupakan cara hidup yang paling bisa ditolerir. Untuk membuat pembenaran juga tak bisa sembarangan. Buku-buku yang berisi berbagai macam pembenaran dari penulisnya adalah sumber bagi saya untuk menentukan arah hidup saya kedepannya dengan berbagai macam pembenaran.
          Namun sebelum segalanya terwujud, aku akui, sepanjang umur yang telah saya jalani adalah segalanya tentang kegagalan. Saya yakin apa yang saya pikirkan telah melampaui zamannya hingga belum bisa diterima oleg sebagian besar masyarakat. Hasilanya, tentu saja terjatuh dan terjatuh. Yah itulah yang namaya pembenaran yang dapat memberikan jalan seadil-adilnya terhadap kehidupan kita.
          Barangkali doa yang paling tepat aku panjatkan saat meniup lilin ke-24 nanti adalah waktu tak cepat berlalu, waktu mampu menyimpan setiap detaknya untuk hal-hal yang lebih penting. Ya, saya berharap lilin ke-25 dan lilin-lilin berikutnya tak segera datang meghampiri sebelum saya mendapatkan pijakan yang tepat dimuka bumi ini.