Halaman

Sabtu, 07 April 2012

SENSASI AKU DAN PENA


 Diatas meja telah terseduh secangkir kopi panas. Uapnya bergoyang-goyang naik ke udara, menghantarkan aroma manis dan pekat ke indera penciuman. Aku seruput kopi itu sedikit, meresapi rasa dan aroma kopi tersebut dalam pikiran. Aku  mendesah tenang seiring kopi itu menggaruk permukaan lidahku yang kasar dan mengalir tenang melalui kerongkongan dibalik leherku. Kandungan kafein dalam kopi tersebut dapat membantuku terjaga sepanjang malam ini, mengoptimalkan jalan pikiranku yang aku tumpahkan kedalam bentuk tulisan.
    Jari jemariku bergerak teratur diatas tombol-tombol mesin tik sederhana tersebut. Setiapkali aku menekankan jari tanganku pada tombol-tombol tersebut terdengar bunyi-bunyi yang dapat menggerahkan telinga siapapun yang terjaga malam ini. Tapi, didalam kamar yang sumpek nan pengap hanya ada aku seorang diri. Bunyi-bunyi berisik mesin tik itu menjadi satu-satunya sumber keramaian dalam kesendirianku.
    Ku ketikkan kata per katanya penuh khidmat, berusaha menciptakan kesakralan dalam serangkaian kalimat yang kubuat. Dibalik maknanya aku sisipkan perasaan, berharap isi pedalaman jiwa dan pikir yang telah kujelajahi sanggup menyentuh naluri para insan yang membaca karya-karyaku nanti.
    Aku ingat-ingat peristiwa yang telah  kubaca dan kulihat dalam berbagai media. Aku ingat-ingat pula segala kejadian yang pernah menimpaku. Juga tragedi yang pernah menerpa pribadi diluar diriku sendiri. Lalu, kuracik dan kukembangkan sedemikian rupa kisah-kisah nyata tersebut kedalam dunia dongengan hasil rekaanku sendiri. Kubayangkan segala peristiwa baru itu kedalam pikiranku dan kupikirkan jalan ceritanya agar runtut dan teratur. Namun, ilham yang menghampiriku malam ini seolah enggan menyerahkan jiwanya begitu saja. Aku tak bisa asal-asalan menuliskan sebuah karya. Saat aku mulai menjentikkan jemariku diatas tombol-tombol huruf tersebut, tiba-tiba keleluasaanku seakan menghilang. Entah berapa kali aku melakukan kesalahan, menghapus kata atau kalimat yang kurasa tak padan. Bahkan sudah berlembar-lembar kertas yang nasibnya berakhir di tong sampah.
    Banyaknya penolakan yang sering kuterima, barangkali, telah mengambil sedikit peran pada kepercayaan diriku, memaksaku harus lebih teliti dan seksama. Mengerjakan satu kalimat saja seperti menyelesaikan satu rumusan matematika yang teramat sulit. Karya-karyaku bersaing dengan penulis yang sudah punya nama. Hal itu membuatku meragu pada hasil tulisanku sendiri; apakah layak untuk dibaca umum atau tidak.
    Seluruh tulisan dari penulis ternama yang dimuat aku pelajari dan pahami. Aku baca seteliti mungkin sampai otakku mampu meresapinya. Tak hanya kuperhatikan dari segi tata bahasa dan alurnya saja, bahkan aku sampai memperkirakan bagaimana sang penulis ternama tersebut menggerakan jari jemarinya saat menulis atau mengetik. Kadang, ada beberapa tulisan yang kutemui lebih kering dari apa yang kutulis. Aku heran mengapa tulisanku sampai kalah bersaing dengan tulisan picisan begini. Nama, yang seharusnya tak layak dijadikan satu-satunya sumber jaminan telah menjadi patokan mutu dalam membandingkan kualitas dengan penulis pemula.
    Barangkali juga persangkaanku itu salah. Kurang dari seminggu saja, beratus-ratus judul kisah fiktif telah tertumpuk dimeja redaksi. Jika dikalkulasikan, maka dalam setahun akan ada ribuan judul yang terkirim. Tak mungkin sang redaktur, dalam keterbatasan waktu deadline, membaca satu per satu tulisan-tulisan itu. Sementara itupula, kolom yang disediakan dan waktu pemuatannya pun sangat dibatasi. Alhasil namalah yang menjadi acuannya. Tak peduli isi karya tersebut berkualitas atau tidak.
    Lama-lama, memikirkan tentang nama tersebut memberikan jalur batas yang tak bisa ditembus pikiranku lagi. Sebuah dinding tebal tiba-tiba tumbuh menghalangi laju daya imajinasiku. Semuanya tertutup. Lenyap. Tanganku berhenti bergerak diatas tombol-tombol mesin tik tersebut. Sementara pikiranku masih bersusah payah membobol dinding tebal tersebut.
    Buntu.
    Aku sandarkan punggungku diatas kursi yang kududuki. Aku tatap langit-langit kamarku yang rendah. Bidang diatas kepalaku itu tak memberikan bacaan apapun. Kulirik kanan kiri. Kamar yang sempit dan berantakan. Empat sisi dinding kamar ini seakan diam-diam hendak menjepitku. Aku sudah lelah memeras ide-ide diotakku. Aku butuh relaksasi. Semua sisi-sisi yang membentuk kamar ini terasa membatasi daya kreatifitasku.
    Kuatur nafas baik-baik, berusaha menahan ledakan yang mungkin bakal muncul dari kekalutan jiwaku. Kalau sudah meledak, aku tahu, aku takkan segan-segan mengacaukan seluruh isi kamar ini. Bahkan aku akan melemparkan tubuhku sendiri berkali-kali keatas dinding dan menggetok-getok isi kepalaku sendiri, seakan dengan cara seperti itu seluruh ide yang terpasung dalam otakku dapat mencair.
    Aku ambil sebatang rokok disaku celanaku. Aku nyalakan ujungnya sambil menghisapnya. Kepulan asap putih berhamburan keluar dari lubang mulut dan hidungku seiring kuhembuskan nafas ke udara. Bumbungan asap yang keluar dari dua lubang pernafasanku itu melayang gelisah di udara bagai mencari arah tepat hingga akhirnya pecah terbawa angin malam. Aku tak peduli lagi pada batuk-batuk kecil yang kuderita sebagai pertanda penyakit paru-paru mulai menjangkiti organ pernafasanku. Rokok, adalah satu-satunya hiburan terbaik yang kumiliki.
    Saat kupandangi kepulan asap rokok, selalu timbul rasa cemburuku. Aku mulai memikirkan banyak pengandaian. Betapa asap rokok itu begitu ringan, terangkat ke udara, melayang bebas kemanapun ia ingin menuju, menemui kebebasannya. Aku ingin begitu----menjalani kehidupan tanpa banyak beban, mendapatkan semua apa yang diinginkan tanpa harus lelah putar-putar isi kepala dan memeras keringat.
    Waktu terus merambat. Jam dinding telah menunjukkan waktu dini hari. Tapi tak ada niat menutup mata barang sebentarpun. Aku bangkit dari dudukku. Sedikit meregangkan otot-otot pinggangku yang pegal. Aku menuju jendela kecil disebelahnya dan membukanya. Lekas saja angin malam mendorong wajahku dan merndinginkan lubang pori-pori disekujur tubuhku. Sepasang mataku memandang luas permukaan langit dan bumi, hingga akhirnya tertumpu pada satu titik pandang terjauh yang dapat dijangkau penglihatan mataku. Gelap telah meredam hingar bingar kesibukan kota, namun dikejauhan kelihatannya keramaian masih berlangsung. Disekitarku, satu-satunya partikel yang masih berani mengeluarkan suaranya adalah udara yang  bergemerisik ringan ditelingaku sebagai angin. Lampu-lampu menyala kelap-kelip mereplikakan taburan bintang dilangit.
    Dititik terjauh pandanganku itu, kucoba mencari-cari sebentuk ilham yang mungkin bersembunyi diantara tembok-tembok beton gedung pencakar langit. Aku ingin melepaskan segala beban yang selalu menggelayuti nafas didadaku. Memandang panorama malam di kota begini dapat membuat pikiranku sedikit tercerahkan kembali. Aku yakin banyak ilham yang dapat dijadikan sumber ide dibalik rahasia malam yang dapat kutumpahkan dalam bentuk tulisan. Yang paling patut kusayangkan hanya satu; langit kota sepi dari taburan bintang. Polusi telah menutupi kemegahan gemerlap bintang-bintang.
    Alam telah sekian lama membantu mengakrabkanku dengan pena. Sayang, tidak dengan kedua orangtuaku. Mereka melarang anaknya habis-habisan berkecimpung didunia sastra. Bagi mereka itu sangat diluar rasionalitas. Fokus mereka hanya terpaku pada kebutuhan materi saja. Apabila aku kedapatan tengah asyik menulis, segera kobaran api akan menyala diwajah mereka. Mereka takkan tanggung-tanggung membakar semua karya yang telah kuselesaikan.
“Apa yang dapat kau harapkan dari menulis? Lihat saja Chairil Anwar! Apakah dia orang kaya! Lihat saja Van Gogh! Apakah dia orang berbahagia! Yang namanya seniman, entah itu penulis atau pelukis, hidupnya pasti sengsara. Masa depannya suram. Kau mau seperti itu? Ingat, Nak, tak ada keturunan moyang kita yang jadi penulis. Menulis itu pekerjaan pengecut!”.
    Kata-kata yang dibumbui oleh amarah itu terasa benar menusuk pedalaman kalbuku. Namun, aku tahu itu sebentuk perhatian kedua orangtuaku demi kebaikan buah hatinya. Walaupun demikian, aku tetap bersikeras pada prinsipku. Pandangan orangtuaku terhadap seni terlalu kolot. Ini lebih sekedar dari uang. Ini adalah tentang sebuah jalan hidup yang mesti  kutempuh dalam mengenali kesejatian diri.
    Akhirnya, pertentangan dengan orangtuaku itu membangkitkan semangat kemandirianku. Aku kabur. Diatas meja didalam kamarku, kutinggalkan selembar surat. Aku berharap orangtuaku tak mengkhawatirkan kepergianku dan tak perlu repot-repot mencariku. Yang paling penting dari itu semua, aku berharap orangtuaku dapat mengerti makna dibalik keminggatan diriku ini.
    Aku akui kata-kata terakhir orangtuaku yang menyebutkan kepengecutan seorang penulis sangat menyakitkan hatiku. Aku merasa rendah dengan talentaku ini. Salah satu maksud aku minggat dari rumah ini adalah ingin membuktikan pada dunia dan orangtuaku bahwa apa yang kulakukan dan kuusahakan ini adalah memang sebuah kepantasan yang layak. Huruf-huruf merupakan simbol dari peradaban, maka aku yakin menulis dapat menjadikanku selalu hidup dalam sejarah diberbagai masa.
    Seorang Chairil memang bukan orang yang dianugerahkan limpahan harta benda, tapi melalui kekuatan penanya, meskipun setelah matinya, ia berhasil melewati keadaan berbagai zaman dan kaya dalam ingatan para generasi selanjutnya. Begitupula seorang Van Gogh. Karya-karyanya yang tergores indah dalam kanvas masih begitu dipuja-puja dalam daya inspirasi generasi kini. Meskipun dalam menjalani kegalauan hidup, aku sendiri takkan melakukan hal tragis seekstrim Van Gogh memotong telinganya.
    Maka akhirnya, langkah kaki ini membawaku pada  tempat dan suasana baru. Disudut kota, terjauhkan dari glamornya kehidupan metropolis, diantara gang-gang sempit yang berkelok-kelok, aku menyewa sebuah kamar. Disinilah kini aku bertempat tinggal, berteduh dari terik panas dan hujan.
    Awalnya cukup sulit menyesuaikan diri dilingkungan padat dengan luas lahan yang tak sesuai dengan jumlah penduduknya. Setidaknya kondisi sempit dan sesak disini justru membuatku dapat sedikit bernafas lega. Aku tak perlu lagi mendengar komentar buruk, keluhan, atau amarah orangtuaku sendiri. Aku merasa bebas dan leluasa mengembangkan ambisiku ini.
    Memang tinggal diantara gang-gang sempit sangat menyesakkan. Saking sempitnya, apabila terjadi kebakaran atau banjir akan sulit menyelamatkan diri, apalagi menyelamatkan harta benda. Tata ruangnya sangat memprihatinkan. Rumah-rumah dibangun diatas lahan yang sangat terbatas, saling berdempetan dan berdesakan. Untuk menyiasati kekurangan lahan tersebut, biasanya warga meninggikan bangunan rumahnya. Salah satunya menyulap loteng menjadi kamar.
    Dikamar loteng ini pulalah aku kini tengah berdiri memandang keluar menikmati semilir angin malam. Hidup ditengah-tengah masyarakat baru memberikan sedikit ruang dalam pikiranku. Aku merasa semakin didekatkan pada dimensi kehidupan urban yang berbeda, yang sesungguhnya. Ide-ide segar kerapkali menghampiri diriku, meski terkadang, seperti saat ini, tiba-tiba semuanya buntu. Memang sampai saat ini, aku belum berhasil menelurkan karya satupun. Sudah dikatakan tadi aku terganjal nama.
    Biasanya nama seseorang dapat besar karena prestasinya. Sementara aku justru dihadapkan pada kondisi sebaliknya.  Sebenarnya ada satu cara yang dapat membuat namaku dikenal banyak orang; menjadi artis. Barangkali dengan nama keartisanku nanti aku akan mudah mempublikasikan karya-karyaku nanti. Jalan pintas dari semua ini adalah ikut casting.

Senin, 26 Maret 2012

KEMANUSIAAN DITENGAH SENSUALITAS TUBUH dan SPIONASE

Judul buku : Namaku Matahari
Penulis       : REMY SYLADO
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 560 hal.
ISBN          : 978-979-22-6281-0


         Remy Sylado, penulis yang satu in kerapkali namanya disandingkan dan dikait-kaitkan dengan nama besar Pramoedya Ananta Toer karena kelihaiannya meramu sebuah  cerita dengan sejarah. Kali in ia hadir dengan novel barunya yang diangkat dari kisah nyata pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20----dimana sebelumnya telah dimuat diharian KOMPAS sebagai cerita bersambung. Tak heran gambar sampul yang digunakannya pun serupa dengan gambar sewaktu dimuat diharian tersebut.
          Adalah Margaretha Geertruida yang menjadi tokoh utama dalam novel in. seorang wanita Indo Belanda yang dilahirkan dan dibesarkan ditanah Eropa. Karena mengikuti tugas suaminya, akhirnya ia tiba di bumi Hindia----sebuah negeri dibawah kekuasaan colonial yang selama in dibanggakan dan dikaguminya sebagai tanah leluhur nenek moyangnya. Hingga nama Eropanya pun ia ubah menjadi nama Melayu, Matahari, mengikuti pandangan filosofinya yang selalu ingin bersinar dan membara.
         Karena kebanggannya pada tanah leluhur dan kecintaannya pada dunia seni, Matahari mulai belajar menari Jawa pada seorang seniman pribumi. Selain itu dibumi Hindia inipun ia dapat melihat jelas kesenjangan sisi kemanusiaan antara bangsa pribumi dengan Eropa. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil lagi, dalam rumah tangganya sendiri, sang suami begitu mudahnya mengutarakan maksud hati in gin menjadikan pembantunya sebagai seorang ‘nyai’
          Memang pada masa itu nilai kemanusiaan seseorang dimaknai begitu sempit, hanya dipandang dari keturunan bangsa apa ia dilahirkan. Masalah serupa pun telah Pramoedya ketengahkan dalam novel fenomenalnya Bumi Manusia. Maka boleh dikata Matahari memiliki watak dan karakter yang persis sama dengan tokoh Nyai Ontosoroh dalamnovel Pram tersebut. Namun karena kekerasan hidup yang hares dijalani, mereka sama-sama memiliki dendam yang justru membawa mereka pada kesalahan kemanusiaan. Seperti halnya Matahari yang terjebak dalam dunia prostitusi. Hingga akhirnya profesi kepelacurannya itu, dengan sendirinya, menjadikannya mata-mata ganda bagi Prancis dan Jerman
          Dari segi tata bahasa novel in ditulis sangat terkesan filmis sehingga lebih ringan dibaca dan dimengerti. Didukung pula dengan sudut pandang ‘aku’, novel inipun menjadi lebih memiliki nilai emosi membuat para pembacanya merasa tak sabar melihat versi visualnya.
        Menurut Remy sendiri novelnya in memang  siap untuk difilmkan. Kalau begitu kita tunggu saja filmnya. Ikut castingnya, yuk!!!!!

NB : Novel yang menceritakan kehidupan Margaretha Geertruida alias Matahari ini sebenarnya pernah ditulis berkali-kali oleh beberapa penulis dari luar, bahkah oleh seorang penulis local bernama Ukat S ( lupa nama panjangnya siapa dan nama itupun kalau benar ). Kisahnya pun sebenarnya sudah beberapa kali difilmkan oleh sineas dari luar sana. Film versi pribumi sendiri pernah dibuat dengan tokoh utama Tamara Blenzsky.

Rabu, 14 Maret 2012

BENGKONG AMBISIUSME


    
       Ia seorang lelaki pemberani. Barangkali juga ia lelaki paling sadis. Tapi ia bukan seorang koruptor. Meskipun urusan potong memotong adalah keahliannya, ia bukanlah seorang algojo ataupun mutilator. Itupun yang dipotongnya hanya berupa sebagian kecil dari tubuh manusia---seonggok daging yang tak semestinya tumbuh dalam raga manusia. Namun,  meskipun daging yang dipotongnya sedikit, pangaruhnya sangat besar pada kelangsungan hidup umat manusia. Karena itulah, diusianya yang semakin beranjak tua ia tetap bersinar dan makin tenar.
       Dia adalah Pak Muchtar. Kendati kegagahannya telah digantikan oleh wujud fisiknya yang telah usang, keahlian potong memotong tetaplah menjadi kebanggaan dan kebesarannya. Boleh dibilang ketenarannya melebihi lurah dan camat setempat. Saking terkenalnya plus usianya yang memang lumayan sepuh, iapun begitu disegani dan dihormati oleh masyarakat.
       Tapi, segala bentuk penghormatan dan penghargaan yang dimilikinya dapat menjadi sumber ketakutan bagi anak laki-laki. Kehadiran Pak Muchtar dihadapan mereka bagaikan menebar keangkeran yang teramat nyata. Pada saat itu, satu-satunya keinginan yang tertinggal dibenak mereka adalah berlari dan sembunyi, takut-takut naluri ke-bengkong-an Pak Muchtar kambuh mengancam lambang kejantanan mereka. Sebaliknya, anak-anak perempuan saat itu justru tertawa lepas melihat makhluk yang suka berkelahi dan jorok kehilangan dominasinya.
     Pak Muchtar sendiri tak terlalu ambil pusing pada persoalan-persoalan semacam itu. Waktu telah dengan baik membuktikan segalanya. Ketika para anak laki-laki itu beranjak dewasa dan mendapatkan keakilannya, mereka justru akan menganggap Pak Muchtar sebagai pahlawan. Mereka akan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena merasa telah berhutang budi. Pak Muchtar  telah membebaskan mereka dari segala aib dan kekotoran di dunia ini, karena kelihaian tangan Pak Muchtar telah menyelamatkan kehidupan dewasa mereka dari masalah kebersihan yang paling intim hingga urusan paling vital dalam rumah tangga.
       Sebenarnya pokok masalah satu-satunya yang dihadapi Pak Muchtar serupa urusan watak kemanusiaan belaka; rasa ketidakpuasan. Meskipun ia telah mendapatkan gelar dan namanya dengan limpahan puja-puji, betapa ia tetap masih merasa ada yang kurang. Dibalik sanubarinya masih ada bagian yang belum tergenapi. Segala sikap hormat yang dipersembahkan orang-orang kepadanya dan segala julukan yang tersemat dalam dirinya tidaklah terlalu memberikan sensasi yang luar biasa. Apa yang diabdikannya kepada masyarakat sejauh ini barulah seujung kuku jari. Ia ingin menantang nyalinya, mengerahkan seluruh kemampuannya agar dapat memperlihatkan kepada dunia siapa ia sebenarnya. Tak hanya mendapatkan ketenaran semata, tapi layak pula dikenang sepanjang masa. Ia berkehendak menguji adrenalinnya demi melepaskan segala jenuh, benci, dan geramnya. Didalam benaknya tersimpan sebuah ambisi yang dapat membuatnya menjelma raksasa kebanggaan, dan akan lebih banyak mulut lagi yang memperbincangkannya.
       Sejauh ini, Pak Muchtar merasa kehidupan yang dijalaninya adalah sebentuk pergaulan hidup yang terus menerus terjadi secara seragam. Tiada gerak ataupun kehendak untuk melawan riak. Sekedar secuil penambahan dan pengurangan adegan yang tidak terlalu penting. Semuanya terasa hambar dan datar. Kesan-kesan indah yang didapatkannya selama ini seperti sebuah persinggahan sementara yang membuatnya terbuai sesaat, lena terbawa angin sanjungan yang mampu membawanya terbang sejauh  ia mau. Lantas, secara tiba-tiba ia menyadarinya bahwa ia belum berada di puncak segala puncak.
      Seringkali ia menjadi tamu istimewa diacara-acara khitanan, mendapatkan senyuman ramah dan jabat tangan mesra seakan-akan acara khitanan tanpa kehadirannya dapat menjadi momen yang kurang mengesankan. Saat itupula ia dihadapkan pada seorang anak laki-laki yang telah bersembunyi menghindarinya. Anak itu dituntun keluar. Seraya semua pandang mata tertuju kearahnya, menjadi satu-satunya perhatian sekian banyak orang bagaikan makhluk terupawan dimuka bumi ini. Semua orang memberikannya semangat dan dukungan, namun ada sedikit keprihatinan dibalik suara mereka yang membuat anak itu tak lagi merasa sebagai  pangeran tampan melainkan tumbal yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan  bagi banyak orang.
       Dibalik bola mata anak itupun selalu terlihat jelas kecemasan yang membuncah. Pak Muchtar juga dapat melihat kedua kaki anak itu bergemetar hebat, bahkan Pak Muchtar seakan dapat mendengar dengan pekak debaran jantung anak itu yang tak terkendali bak mengalirkan rasa takut keseluruh syaraf tubuhnya. Jauh-jauh hari sebelum khitanan, pasti anak itu telah diwanti-wanti oleh orangtuanya. Seluruh kebiasaan yang sering dilakukannya terpaksa ditinggalkan sementara. Begitu banyak pantangan-pantangan yang mesti dijalaninya. Dilarang ini dan dilarang itu.
     “Kamu jangan main terlalu capek dan berkeringat, Nak! Jangan lari-lari karena dapat membuat darah yang keluar nanti banyak dan sulit dihentikan”.
       Menjelang akan dikhitan pun, seorang anak laki-laki mesti melakukan satu ritual lagi yang dapat membuat tubuhnya menggigil dan mati rasa. Mereka harus berendam didalam air dingin disaat matahari belum benar-benar menampakkan wujud utuhnya. “Selama kamu berendam, air ini akan cukup berguna membuat tubuhmu bebal. Cukup ampuh mengurangi rasa sakit saat kau menerima tebasan terpenting dalam hidupmu. Walau dingin, cobalah kamu tahan, Nak!”
       Tak heran, para anak laki-laki pun bertingkah seperti dendam pada Pak Muchtar.
       Ketika mereka berada diatas pangkuan bapak mereka dan Pak Muchtar menyibakkan kain sarungnya keatas, tak jarang, mereka tak segan-segan langsung mengencingi wajah Pak Muchtar. Mereka akan menjerit dan menangis sekeras mungkin. Mereka sadar setelah disunat pasti akan lebih banyak lagi pantangan yang harus mereka lalui sambil menahan nyeri sebelum luka sunat itu mengering. Sementara, Pak Muchtar hanya dapat mengelap wajahnya saja sambil memendam geram dalam hati dan meyakinkan pada semua orang dengan senyum bahwa ini hal yang normal-normal saja.
       Walaupun demikian, suatu saat nanti para anak laki-laki pasti menyadari hari ia dikhitan dapat menjadi peristiwa yang paling bersejarah, hari teristimewa sekaligus hari tersulit dalam hidup mereka. Kejantanan mereka diuji. Keperkasaan mereka dipertaruhkan. Mereka tak boleh takut apalagi gentar. Semuanya pasti akan segera terlunaskan. Orang-orang pasti akan sibuk membakar seekor ayam khusus untuknya dan memberikannya amplop-amplop. Peristiwa ini selalu mengajari dan mengingatkan Pak Muchtar tentang makna kehidupan; sebelum seseorang mendapatkan kebesaran dan kesuksesannya, maka terlebih dahulu mesti dapat menerima dengan lapang dada segala bentuk panghinaan dan pelecehan. Hukum ini berlaku semata demi umat manusia dapat selalu bersikap rendah hati.
      Kini, Pak Muchtar  hanya mampu menghela nafas dan mengelus dada, seiring waktu bergulir memenuhi takdirnya, iapun akhirnya merasa prihatin terhadap nasib yang telah terlalui. Kemonotonan membuatnya terjebak dalam lingkaran waktu.
       Barangkali, ia dapat beralih menjadi tukang jagal. Sekedar memberikan warna baru ditengah kemonotonan hidupnya. Setidaknya  ia telah membuat hiburan sedarhana dikehidupannya. Tapi iapun enggan keluar dari jalur yang digelutinya sekarang ini. Meskipun menjadi seorang tukang jagalpun masih termasuk kedalam kode etik yang sejenis, tetap saja diperlukan latihan khusus kembali. Ia harus mampu memegang senjata tajam dengan ukuran yang lebih besar dan harus tahu titik-titik yang tepat dimana ia dapat menggoreskan senjata tajam tersebut agar tak menimbulkan rasa nyeri berlebihan pada hewan yang hendak disembelih.
      Iapun semakin bertambah bingung. Akhirnya, pada malam-malam yang sunyi ia keluar rumah. Tak peduli usianya telah uzur, langkah kakinya tergopoh-gopoh, dan matanya rabun. Angin malam mungkin dapat membantu menyejukkan dan menjernihkan pikirannya. Ia berharap suasana kelam malam dapat memberikannya inspirasi dan ilham-ilham, mengembangkan segala pemikiran dan pemahamannya. Dalam benaknya saat ini hanya tersisip arti kata semoga.
     Ternyata, berlama-lama ditengah gelapnya malam membuatnya semakin tak karuan. Kepalanya berputar-putar dan menyesakkan dada. Semua ini bukan karena ia telah berusia, keropos, ataupun rabun. Tapi betapa terpukulnya ia ketika melihat deretan warung remang-remang yang dilaluinya. Awalnya ia mengira ini mungkin disebabkan pandangan matanya yang tak sempurna lagi. Namun saat ia memakai kacamatanya semua justru terlihat lebih jelas lagi. Dibalik redupnya cahaya lampu, orang-orang yang berlainan muhrim saling bersentuhan tanpa sungkan-sungkan lagi. Hubungan sakral antara pria dan wanita seolah-olah tak memiliki jarak dan aturan lagi. Dengan leluasanya, mereka memamerkan aurat pada sembarang tempat dan sembarang kelamin, lantas melepaskan gelora gairah bersama-sama. Dengan begitu mereka justru merasa bangga, gembira, dan terpuaskan. Yang lebih membuat Pak Muchtar terpukul ternyata sebagian lelaki yang berlaku hewani tersebut adalah anak laki-laki yang dulu dikhitannya.
       Apakah semua ini juga ada kaitannya dengan dikhitan sehingga mereka merasa bebas berlaku seperti hewan----merasa resiko tertular penyakit semakin rendah?
       Melihat tingkah laku manusia pada malam hari seperti ini membuat Pak Muchtar merasa dikelabui. Segala gelar dan nama yang diberikan oleh mereka tak ubahnya seperti topeng untuk mengecohnya. Ketenaran dan penghormatan yang selama ini didapatnya seperti sebuah alat yang dapat membuatnya lena dan lupa. Semacam tipuan. Tak berarti apa-apa. pada kenyataannya,  semua yang dilakukannya seperti sebuah kesia-siaan. Orang-orang diluar sana telah curang terhadap keahlian dan jasa-jasanya. Apalagi zaman sekarang telah dikenal alat-alat kontrasepsi sebagai bentuk pencegahan penuran penyakit-penyakit kelamin.
       Kalau begitu mungkin lebih baik ia pensiun dari tugas-tugas ke-bengkong-annya. Dengan kelamin yang lebih dari utuh, mungkin para lelaki dapat lebih menahan diri untuk berlaku seronok dan kotor terhadap syahwatnya sendiri. Tapi tak mungkin juga. Tanpa seorang bengkong pasti tidak akan ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga dan semakin mudah ditemui orang-orang yang tertular penyakit kelamin. Kalau sudah begitu mungkin kaum wanita akan menjadi kumpulan makhluk anti lelaki. Bukankah ia sendiripin masih membutuhkan dinamika agar membuat hidupnya tak berkesan seragam lagi dari hari ke hari?
       Jadi, apa yang harus dilakukan oleh tangan dingin ini yang telah terlatih memotong untuk membasmi kebinalan dan kejalangan hidup manusia-manusia malam?
***###***

      Disuatu pagi yang hening seorang pemuda mendatangi rumahnya. Ia tampan dan putih. Melihat keseluruhan postur tubuh pemuda ini membuat Pak Muchtar merasa bercermin dengan masa mudanya. Namun sinar dibalik bola mata pemuda itu menyiratkan kegelisahan. Ia terlihat ragu-ragu dan malu-malu berdiri dihadapannya. Sepanjang percakapan ia terus menunduk, berusaha  menyembunyikan wajah tampannya dari tatapan Pak Muchtar. Pak Muchtar mengira maksud kedatangan pemuda ini ke rumahnya pasti hendak mengundangnya pada acara khitanan anak atau keponakannya, tapi pemuda itu justru berbisik-bisik pelan padanya.
     “Saya kesini mau minta bantuan Pak Muchtar. Saya mohon Bapak berkenan membantu saya”.
Merasa pemuda itu akan berkata bertele-tele, Pak Muchtar segera menyergapnya. “Langsung saja kau katakan. Tak perlu malu. Disini tak ada siapa-siapa. Meskipun itu bersifat rahasia, hanya bapak dan kamu saja yang tahu”.
“Ini memang sangat rahasia. Saya tak mau orang-orang di luarsana sampai tahu. Ini adalah aib”.
  “Kalau begitu cepat kau katakan”, Pak Muchtar sudah tak sabar lagi. “Percayalah, Bapak orang yang paling bisa dipercaya memegang rahasia”.
“Tidak lama lagi saya akan segera menikah”, kata pemuda itu. “Saya tak mau malam pertama nanti menjadi malapetaka seumur hidup saya. Saya ingin bahagia sampai mati dengan pernikahan ini”.
“Lantas, apa rahasia yang membuatmu sampai takut dan malu begitu?”
“Saya belum disunat”.
      Pak Muchtar terbengong-bengong. Pada saat bersamaan, iapun ingin tertawa sekeras-kerasnya. Ini benar-benar mengherankan sekaligus menggelikan. Seorang pria yang telah mencapai akilnya dengan kelamin yang belum disunat adalah sesuatu yang mengerikan. Memang saat akan disunat, ia seringkali mendapati seorang anak yang kabur. Namun semua itu dapat dikendalikan dan berjalan sesuai dengan mestinya. Tapi, entah bagaimana ceritanya sudah sedewasa ini pemuda ini belum disunat.
      Ups!!
         Seharusnya ia tak perlu mempersoalkan ini terlalu jauh. Seharusnya ia bisa menjaga kerahasiaan aib ini seperti yang telah dijanjikan. Bukankah kejadian diluar sana lebih banyak lagi yang menggemparkan, yang tak bisa ditangkap oleh akal sehatnya sendiri dan tak terduga-duga?
        Ditengah kegelian dan keheranannya tiba-tiba Pak Muchtar memperoleh ide besar. Pikirannya terbuka luas. Setiap malam ia pergi jauh-jauh, namun kini justru ilham-ilham itulah yang menyergapnya didepan pintu rumahnya sendri. Kedatangan pemuda ini bersama masalah yang dihadapinya dapat membawa suasana baru kepada hidupnya yang sudah tak terkondisikan. Dengan ide besarnya ini, ia dapat membuat sensasi yang lebih dari heboh. Nyalinya akan teruji. Ia dapat membuktikan pada dunia sebagai manusia yang memiliki dendam terhadap segala tipuan, muslihat, ataupun pengelabuan. Takkan ada lagi pelacuran. Takkan ada lagi kejalangan. Malam akan kembali berdamai dengan batas-batas seharusnya----kesetiaan, keharmonisan, dan kebahagiaan.
       Segera ia ambil sebilah pisau. Dengan gerakan yang teratur dan penuh toleransi, ia mengerak-gerakkan benda tajam tersebut diatas batu asah. Hingga pikiran sadarnya hanyut terbawa daya imajinasinya yang selama ini dicita-citakannya. Kali ini ia benar-benar dapat menikmati pekerjaannya. Begitu bersemangat. Seluruh hasrat yang selama ini terpendam seperti tersalurkan melalui desah nafas dan keringatnya.
       Selesai mengasah, ia picingkan kedua matanya memeriksa seteliti mungkin setiap inci dari ketajaman pisau tersebut. Ia tahu daging pemuda itu pasti lebih liat daripada anak laki-laki yang pernah disunatnya,. Lalu, pisau itupun mengkilat seperti mengedipkan cahaya kepada matanya.
       Pemuda itu telah menunggunya didalam ruangan. Ia telah mengenakan sarunganya. Selama menunggu Pak Muchtar masuk, pikirannya tak karuan, berkelebat berbagai bayangan yang mungkin akan menimpanya. Namun pernikahan itu menjadi satu-satunya penyemangat.
       Pak Muchtar masuk. Tangan kanannya menenteng sebilah pisau yang berkilat-kilat. Pemuda itu segera berbaring diatas dipan dan menekuk kedua lututnya keatas. Debaran jantungnya menegang. Begitupula tatapannya menjadi awas memandangi Pak Muchtar seakan lelaki tua itu adalah algojo yang hendak memancungnya. Hawa dingin yang merasuki perasaannya  sebisa mungkin ia tahan.
      Pak Muchtar menyibakkan kain sarung itu keatas. Dengan ragu-ragu dan sedikit jiik, ia memegang kelamin pemuda itu. Pemuda itu merasa geli dan malu. Lantas, dengan cepat pisau menggores. Darapun mengucur deras keluar. Pak Muchtar tertawa keras-keras memperlihatkan hasil potongannya. Ia merasa bangga. Ia merasa puas. Sementara, pemuda itu justru menjerit sekeras-kerasnya sampai suaranya habis. Mungkin rasa nyeri dan perih yang ia rasakan dapat ia tahan. Tapi, ini benar-benar membuatnya kehilangan jati diri sebagai lelaki yang sesungguhnya. Ia telah menjadi betina, karena kelaminnya bukan lagi disunat tapi dikebiri.


CATATAN: Bengkong= dukun sunat dalam masyarakat Sunda.

Minggu, 12 Februari 2012

MALAIKAT CEROBOH



          Peristiwa ini aku alami sekitar setahun yang lalu. Sabtu itu aku berencana pergi ke kampus IPB di Dermaga. Jujur, aku tak tahu ada kampus IPB di Dermaga. Setahuku kampus IPB itu berada dekat terminal Baranang Siang. Apalagi, aku sama sekali belum pernah ke daerah bernama Dermaga tersebut, meskipun nama kabupaten itu cukup akrab ditelingaku.
       Tujuanku ke IPB bukanlah untuk mendaftar kuliah atau hal apapun yang ada kaitannya dengan perkuliahan ditempat tersebut, melainkan ada pertemuan perdana atas perekrutan anggota baru FLP Bogor. Pertemuan itu tepatnya dilaksanakan di masjid Al-Hurriyah yang berada di kawasan kampus tersebut.
        Sebagai orang yang belum mengenal daerah tersebut, tentunya aku tanya sana-sini kepada orang yang kupikir mengetahuinya. Terutama pada sopir angkot yang lebih tahu jalan dan pastinya juga yang mengantarku sampai tempat tujuan. Aku tak menyangka ternyata jarak tempuh kampus IPB Dermaga dari terminal Baranang Siang cukup menguras emosi dan tenaga. Aku mesti turun di dua terminal dan mengganti sopir tiga kali----sekali naik bis dan dua kali naik angkot. Barangkali ini kali pertamanya aku kesana aku merasa jaraknya sangat jauh----atau benar memang jauh. Apalagi aku diburu-buru waktu.
         Sesampainya di kawasan kampus IPB aku kebingungan. Tapi, menurut SMS yang kuterima sehari sebelumnya, aku disarankan untuk naik ojeg. Karena sudah jauh terlambat, kuturuti saja saran tersebut. Dengan naik ojeg aku tak perlu lagi tanya sana-sini seperti orang tersesat. Akhirnya, aku tiba juga di masjid Al-Huriyyah.
         Tapi justru didalam masjid ini aku baru benar-benar merasakan apa yang namanya tersesat. Aku bertanya pada salah seorang pemuda yang tengah sibuk membuka-buka bukunya. Sialnya ia pun tak tahu dimana ruang Abu Bakar itu, tempat pertemuan perdana berlangsung disana. Jadilah, aku sisir masjid itu, berkeliling dengan langkah yang gak jelas mau kemana.
       Tiba-tiba seorang perempuan berkerudung memanggilku dengan sebutan Mas. Barangkali karena ia heran melihatku bolak-balik atau mencurigaiku sebagai teroris, ia pun merasa harus bertindak dan menegurku. Aku menceritakan tujuanku kemari apa adanya. “Oh, ruang Abu Bakar itu ada di lantai atas”, tunjuknya. Atas petunjuknya itu aku berterima kasih dan langsung naik ke lantai atas.
        Tapi ruang Abu Bakar tak segera kutemui. Aku baru sadar bangunan masjid ini begitu besar. Tak ada masjid sebesar ini dikampungku dan sekitarnya. Pada beberapa orang aku kembali bertanya. Orang terakhir yang kutanyai langsung mengacungkan telunjuknya pada sebuah bilik yang terletak dibalik mimbar masjid. Langsung saja aku dihadapkan pada sebuah koridor yang gelap dan sunyi. Kususuri koridor tersebut dan kulihat jejeran ruang-ruang yang bertuliskan nama-nama Khulafur Rasyidin. Akhirnya kutemukan juga ruang Abu Bakar itu.
         Namun pintunya tertutup rapat. Sementara aku tak berani mengetuk. Aku terlambat  cukup lama dan orang-orang sudah mulai berkumpul didalam sana sambil menghadap pada satu titik, pada seorang perempuan berkerudung dengan kacamatanya yang tebal. Mungkin ia tengah memberikan pengarahan atau sejarah awal berdirinya FLP itu.
         Walaupun demikian, aku tak mau perjuanganku kesini berakhir sia-sia dan kekecewaan. Aku sudah lama mengenal nama FLP itu. Sejak aku masih duduk dibangku SMA. Aku tahu FLP itu dari sebuah artikel di surat kabar yang mengangkat sebuah tokoh Muhammad Irfan Hidayatullah yang kala itu baru diangkat menjadi ketua FLP pusat. Karena aku hobi menulis dan ingin mengenal banyak orang dengan kesukaan yang sama, maka kucari-cari alamat markas dari FLP tersebut dan bagaimana cara bergabung menjadi anggotanya.
          Kebetulan aku tak sengaja beli buku kumpulan cerpen “Lelaki paling romantis Sedunia” karya Nurfahmi El Sha’b alias Kang Topik Mulyana. Ia adalah salah seorang dari FLP Bandung. Dari dia aku disarankan untuk masuk FLP daerah dimana aku bertempat tinggal ( namun setelah aku menjadi anggota FLP Bogor angkatan keempat, ternyata aku baru tahu saat aku disarankan ikut FLP didaerah sendiri, justru FLP Bogor belumlah lahir ).
        Saat di warnet pula aku mencari info tentang FLP Bogor, akhirnya aku temui juga nomor-nomor orang FLP yang biasa aku hubungi. Jadilah, aku SMS-an dengan Zaki Fathurohman, Haris Wahid, dan Bu Erna. Hingga akhirnya membawaku ke masjid Al-Huriyyah yang berada ditengah-tengah kawasan kampus IPB Dermaga. Tapi aku terlambat. Apabila aku tak masuk FLP sekarang berarti aku harus menunggu tahun depan lagi.
          Kupencet saja nomor telepon Zaki Fathurohman---yang kelak nanti kuketahui dialah ketua dari FLP Bogor tersebut. Ternyata dia pun belum datang, dan pastinya lebih terlamabat dari saya. Aku sampaikan keluhanku pada dia, meskipun kami belum pernah sekalipun bertatap muka.
     “Gak apa-apa, Jri”, kata Kak Zaki dibalik telepon.
    “Memangnya Kak Zaki ada dimana? Sudah ada didalam, ya”, kataku sambil mengintip ke dalam ruang Abu Bakar tersebut, sementara aku tak melihat ada seorang pria yang tengah menggenggam hp-nya. Hanya ada beberapa anak laki-laki saja yang kira-kira seumuran denganku, dengan wajah terkonsenterasi kedepan.
       “Saya juga belum nyampe. Kejebak macet”.
    “Ooh”, aku menutup hp dan akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Saat aku mengucapkan salam, mereka semua yang ada didalam hanya menyambutku dengan senyum. Tak ada kejadian apapun sampai aku duduk dan acara berakhir. Namun, Kak Zaki yang kuharap akan datang pada pertemuan perdana itu sama sekali tak terlihat.
***###***


       Orang yang pertama kali aku kenal dipertemuan FLP itu adalah Erwin. Saat itupula kita pulang bareng. Sedikit banyak kita bertukar cerita tentang pribadi masing-masing. Tentu saja, aku masih berusaha menjaga jarak dengannya.
***###***

       Mungkin kalian membaca kisahku ini bertele-tele. Gak nyambung dengan judulnya. Aku sendiri gak tahu bagaimana menyambungkannya, karena aku bukanlah ahli dunia pesinetronan yang meskipun gak nyambung tetap disambung-sambungkan.
        Tapi justru aku merasa mesti menceritakannya dari awal, karena kecerobohanku berasal dari rasa capek. Dan rasa capek itu, yang aku yakini, karena dari perjalanan penuh perjuangan ke IPB Dermaga ini.
       Saat aku berada di terminal Baranang Siang lagi untuk pulang, aku langsung naik bus jurusan Bekasi-Bogor. Tanpa bertanya-tanya aku langsung duduk dibangku bagian belakang. Saat aku melihat kedepan ternyata tepat diatas kepala sopir dipasang sebuah tv. Aku heran sekaligus curiga. Biasanya bis jurusan Bekasi-Bogor itu pasti jelek, terlihat seperti bis rongsokan yang sebenarnya tak layak operasi lagi. Sebaliknya, bis yang aku tumpangi ini lebih bagus bahkan ada tv-nya. Setelah masuk tol dan sopir menagih ongkos barulah aku tahu ternyata aku salah bis meskipun jurusannya benar.
     “Aduh Mas, bis ini tidak lewat Gunung Putri apalagi Cileungsi”,
    “Tapi ini jurusan Bekasi-Bogor, kan?”
    “Iya. Tapi bis ini langsung melaju kearah Bekasi Timur. Jadi gak pake acara jalan lewat Gunung Putri atau Cileungsi”.
         Untungnya aku tak sendirian. Didepan sang kondektur mendapati kembali salah seorang yang senasib denganku. Dia adalah seorang ibu-ibu dengan pakaian dan kerudung berwarna merah. Kami berduapun diturunkan didekat pintu keluar tol Citeureup. Kuakui nasib ibu itu lebih parah daripada saya.
      “Kenek itu sialan”, umpat ibu itu padaku. “Ia tidak mau lagi mengembalikan ongkos ibu. Padahal ibu sudah tidak punya uang lagi. Untung masih ada orang yang baik hati. Ia memberikan ibu lima ribu buat ongkos pulang. Kira-kira ongkos segini cukup gak, ya, untuk sampai rumah?”.
    “Memangnya rumah ibu dimana?”
    “Di Cicadas”
    “Cukup. Cuma sekali naik angkot saja dari sini”
     “Dimana ada angkot. Kita sekarang ada ditengah-tengah jalan tol”.
     “Tenang saja, Bu. Kita jalan kesana”, tunjukku sambil berjalan menuju pintu keluar tol Citeureup. Aku yakin kecerobohanku ini adalah cara Tuhan untuk menolong seorang ibu yang salah naik bis. Tapi bisa juga sebaliknya. Si Ibu itu diutus untukku agar tak terlalu merasa malu dan sendirian saat para penumpang bis memandangiku waktu turun dari bis tersebut. Lantas, siapa yang jadi malaikat ceroboh itu?