Halaman

Rabu, 02 Mei 2012

KANIBAL KAPITALIS DI GUBUK REYOT


          Sesekali cobalah arahkan pandanganmu kearah sebuah gubuk reyot ditengah ladang kering itu. Sepanjang waktu mata kita sudah terlalu sering disuguhi pemandangan kemewahan yang membuat hati iri. Indera yang kita gunakan untuk melihat dunia kerapkali ditembusi debu-debu yang membuat perih, hingga mata kita terus terpejam sebelum segala keinginan kita terkabulkan. Kita selalu merasa takut melihat keadaan orang lain berada lebih tinggi posisinya dari kita. Kita takut tersaingi dan kita takkan pernah rela terkalahkan. Apalagi oleh orang-orang yang kita anggap tak ada apa-apanya.
         Namun gubuk reyot itu seakan memberikan tawaran lain pada pandangan kita. Sungguh, kita sudah sudah sering melihat pemandangan semacam ini di kota. Kita melihat rumah-rumah kardus dibangun dilahan-lahan kosong yang entah siapa pemiliknya. Kita sering melihat orang-orang menggelar tikar dan nonton tv dibawah jembatan saat melintas diatas jalan layang. Ketika terjebak kemacetan, kita seringpula melihat orang-orang---tua, muda, dewasa, anak-anak, laki-laki, dan perempuan----berlari-lari dijalanan sambil mengulurkan tangan. Kita hanya melihat mereka, namun tak pernah memperhatikan mereka barang sekedipan matapun.
         Pemandangan semacam itu memang tak enak ditatap mata kita yang terawat ini. Bahkan mungkin tak layak mata kita mengabadikannya dalam lensanya yang tipis. Mereka telah mengotori lingkungan sekitar kita, membuatnya kumuh dan semrawut tak beraturan. Namun kita seringkali bertukar cerita dan perasaan bahwa kita bosan pada orang-orang yang memperlihatkan kekayaannya, kebanggaannya pada kita. Sementara kita mulai putus asa untuk menandinginya.
        Karena bangkrut dan tak kuat dengan cibiran orang-orang, kita pun pindah ke sebuah perkampungan terpencil yang jauh dari hingar bingar metropolitan. Kita yakin tinggal disini barangkali lebih bisa menenteramkan jiwa dan menjernihkan pikiran, namun aku dan kau sama-sama tahu kita masih menyimpan dendam pada orang-orang itu.
          Untuk mengenal seluk beluk perkampungan ini, kita berjalan-jalan keliling. Kita mencoba beramah tamah dengan masyarakat sekitar dengan tersenyum , menyapa, dan melambaikan tangan. Kita mencoba mempublikasikan wajah metropolitan kita pada orang-orang yang tak mengerti berdandan. Tiba-tiba langkah kita kehilangan arah pulang. Kita tersesat. Terpaksa, mata kita yang selama ini terpelihara dari hal-hal kumuh, kini malah harus bersinggungan dengan apa yang kita benci itu.
          Kita dekati gubuk reyot itu, namun kau begitu enggan. Aku tahu kau jijik, namun aku memberitahu kau harus terbiasa. Kau tetap tak mau. Tapi akupun tak mau menghadapinya sendirian. Maka kutarik saja lenganmu sampai langkah kakimu terseret-seret.
        Gubuk itu seperti terasing dari perkampungan penduduk yang kita lewati tadi. Dinding-dinding luar gubuk tersebut terbuat dari kayu-kayu lapuk yang disusun sedemikian rupa,  sebagai pembatas dari alam luar, penghalau dari hembusan angin atau ancaman hewan liar. Atapnya yang terbuat dari jerami takkan sanggup menahan kebocoran saat hujan turun. Disekelilingnya berupa lahan kering yang ditanami pohon singkong. Tak ada tetangga disekitarnya. Orang-orang seakan sengaja menjauhi bangunan paling rapuh tersebut. Terkecuali, sinar matahari musim kemarau yang serasa hidup diatas sana, menjadi bola mata yang paling menyorot menatap gubuk itu seakan pelan-pelan berusaha menghancurkan gubuk itu dengan gelombang panasnya. Namun, kelihatannya angin saja yang seringkali bertiup kearah gubuk itu sama sekali tak mampu memporak porandakannya.
          Aku tak tahu. Barangkali pernah satu dua kali hembusan angin yang cukup kencang merubuhkan bangunan rapuh tersebut. Namun setiap kali runtuh setiap kali itu pula segera diperbaiki seperti rumah-rumah kardus dan lapak-lapak liar yang kerap kena gusur aparat.
          Dari letaknya yang jauh dari kehidupan sosial dan kondisi bangunannya yang memprihatinkan, gubuk ini sungguh tak layak dijadikan tempat tinggal. Tak pantas pula aku mengatakan gubuk ini adalah kandang hewan. Barangkali gubuk ini dibangun oleh petani setempat sebagai tempat istirahat setelah lelah mencangkul tanah. Tapi sejauh kita melemparkan pandangan tak ada tanda-tanda petani tengah sibuk mengolah tanah kering disini. Aku jadi khawatir. Lebih-lebih dirimu yang terlihat ketakutan, merasa kita akan mengalami hal paling mengerikan disepanjang hidup kita.
        Sekalipun ada penghuninya, kira-kira orang semacam apa yang bersedia tinggal ditempat yang memprihatihkan begini. Keajaiban apabila gubuk reyot ini ada yang meninggalinya. Bangunan ini begitu sederhana, bahkan jauh dibawah sederhana. Takkan sanggup ia melindungi penghuninya dengan memadai dari segala ancaman disegala waktu dan disegala kondisi. Apalagi di tempat seterpencil ini, sewaktu-waktu bahaya kerap datang tak terduga menyelinap masuk dan tak ada orang yang mendengar segala jerit pertolongan. Terpujilah manusia---apapun jenisnya----yang bertahan ditempat ini.
       Tak perlulah dibandingkan dengan warga kota yang tercecer dipinggiran jalan dan berteduh dibawah jembatan, mereka adalah korban kehidupan. Barangkali sudah nasib mereka menyandarkan hidup berdasarkan belas kasihan orang. Dan itu bukanlah keajaiban yang memiliki nilai mukzizat. Sementara gubuk ini, seburuk-buruknya bentuk dan keadaan, aku merasa, tetaplah menyimpan kebesaran.
          Sebelum-sebelumnya, adalah kemustahilan aku mau mengetuk pintu tempat tinggal manusia yang jauh dari kesan mewah. Tapi kini aku harus memaksa diri mengangkat tangan dan mengetuk pintu yang mungkin saja dengan sekali ketuk pintu itu akan langsung terlepas dari engselnya. Percayalah, yang aku lakukan ini bukan karena kita butuh pertolongan. Sudah aku bilang aku merasa gubuk ini menyimpan sebuah kebesaran. Apabila aku sampai terpaksa mengetuk pintu ini-----kuharap kalian dapat maklum----itu aku pikir hanyalah sedikit sisa dari kesombongan kami.
          Namun ketika aku hendak mengetuk, kau segera menepisnya. Aku tak tahu harus bagaimana bersikap; apakah harus lega dan mempersembahkan sujud syukur karena tangan yang terpelihara ini terhindar dari segala bakteri dan virus yang berkembang biak dimuka pintu? Yang pasti kau mengeluakan suara desisan dari mulutmu yang mungil. Telingaku pun ikut bergetar, mendengar suara seorang lelaki dengan nada tinggi dan suara isakan lemah seorang wanita bersama anak-anaknya. Kentara sekali mereka tengah bertengkar. Dalam situasi seperti ini  tak selayaknya kita datang bertamu. Kehadiran kita dapat mengganggu mereka, dan mereka terpaksa harus memendam amarah. Tak baik kiranya amarah dipendam. Karena seperti kita, banyak-banyak memendam amarah justru menabung dengki dijiwa. Kecuali maksud kedatangan kita untuk melerai.
         Kau menyeretku ke samping gubuk. Aku dapat mendengar detakan jantung yang menghantam rongga dadamu. Aku tahu pasti raut mukamu saat ketakutan. Dan pancaran itu semakin akrab pada pandanganku. Kita yang selalu bermuka angkuh harus merendahkan diri karena nasib hidup, menuruti perputaran roda takdir yang tak pernah kehabisan pelumas. Kau selalu terlihat trauma saat melihat orang-orang berani memamerkan taring dan kukunya pada kita, bahkan sekalipun itu tidak ditujukan sama sekali pada kita. Barangkali mulai pada saat itulah segala indera yang terpasang dalam ragawi kita mulai tercemar limbah kemiskinan.
      Kini, aku mulai menyesali posisiku sebagai kekasihmu. Aku sudah tak sanggup lagi memberikanmu segala keindahan dan kepentingan duniawi. Telapak tangan ini sudah terlihat suram untuk dibaca. Tapi akupun tak mau bilang cepat-cepat akhirat adalah harapan kita satu-satunya yang paling mungkin. Kita tahu, kau dan aku harus sama-sama keras melawannya.
         Sekeras-kerasnya kita bersusah payah, tinggallah mata kita yang dapat dipergunakan untuk menelisik ada apa didalam gubuk. Aku mulai bertindak. Kau masih ketakutan. Terpaksa, mataku yang seringkali terbuka lebar saat menatap kali ini harus memicingkannya, menyesuaikannya dengan celah-celah sempit dinding kayu gubuk ini. Aku melihatnya, diantara keremangan cahaya didalam gubuk, seorang wanita berwajah kusam sambil memeluk keempat anaknya. Usia wanita itu dapat diperkirakan seumuran denganmu. Bedanya, kau tampak terawat. Sementara wanita itu terlihat keriput sebelum waktunya. Barangkali tak punya waktu barang sedetikpun untuk mematut dan memikirkan diri. Ketika seorang wanita mulai beranak pinak, maka yang selalu didahulukan adalah kepentingan anak-anaknya. Dan, kita telah bertahun-tahun menantikan anugerah Tuhan tersebut, berusaha susah payah dan mengikuti segala anjuran para ahli, namun tangisan seorang bayi tak pernah mengusik bising telinga kita.
         Keempat anak itu masih kecil, bahkan terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan dengan dunia imajinasi mereka. Aku pikir wanita berwajah kusam itu melahirkan seorang bayi setahun sekali. Tubuh mereka yang rapuh nan kurus sungguh membutuhkan perlindungan yang mendalam. Mereka menangis dan tersedu sedan bersama-sama. Namun, wanita berwajah kusam itu berusaha menenangkan anak-anaknya itu. Pemandangan yang begitu nelangsa dan butuh perhatian lebih dari sang penguasa.
          Melalui tontonanku dibalik celah dinding gubuk reyot ini aku bertanya, mengapa ditempat yang jauh dari kehangatan dan kesejahteraan seseorang dapat mudah menghasilkan anak dari dalam tubuhnya sendiri? Sementara aku yang sering direpotkan dengan segala obat-obatan dan terapi kesuburan masih saja kewalahan.
          Keherananku semakin bertambah-tambah. Tak kulihat raut wajah seorang lelaki yang telah mengeluarkan suara dengan nada tinggi yang membuatmu tiba-tiba berdesis ketakutan. Pada saat aku mencari-cari sosok itu tiba-tiba suara yang terdengar serupa menjelma dibelakang punggungku, menggebrak ketenangan dadaku. Wajahmu sendiri terlihat seperti orang tercekik melihat sosok itu. Lelaki itu, memiliki kulit yang alot dan keras. Sepasang matanya hendak keluar memelototi kami.
     “Sedang apa kalian disini!”, bentaknya pada kami bukan dengan tanya.
Selanjutnya, kami digiringnya masuk kedalam gubuk reyot itu, dijadikan sandera. Didetik-detik berikutnya kami hanya tahu bahwa kami tengah bernafas dalam ancaman.
***&&***



          Gubuk ini telah dibangun bertahun-tahun lalu. Beberapa kali dipugar seperlunya. Inilah naungan kami satu-satunya, harta warisan leluhur yang dengan setia meneduhi keluargaku dari hujan dan terik panas diatas sana. Entah sudah berapa lama kami tinggal didalam gubuk reyot ini. Disetiap detiknya selalu dipenuhi kepengapan hidup. Tak ada hal lain apapun yang dapat kami tuju selain mencari makan. Sesekali, dalam kesenggangan waktu, kulepaskan bebanku dengan melayangkan diri dalam lamunan. Saat itupula aku seperti lupa memiliki tanggungan. Namun tak lama kemudian, suara-suara berisik mengingatkanku kembali pada kenyataan; semua anak dan istriku bertahan hidup dengan perut keroncongan.
         Aku memiliki empat orang anak yang kesemuanya masih terlalu dini untuk mengerti hidup dan kehidupannya. Aku dan istriku sendiri tak mengerti bagaimana mendidik anak yang baik. Bahkan, kami sampai tak habis pikir mengapa selalu anak yang dirizkikan pada kami. Mereka begitu mudah tumbuh dalam perut istriku. Hanya ada empat anak yang mampu bertahan. Selebihnya, anak-anakku meninggal dalam kesengsaraan duniawi; kelaparan.
          Sungguh, kami tak memiliki hiburan apapun yang dapat menyuguhkan kebahagiaan pada kami. Setiap kali pulang dari ladang tandus aku hanya terpaku duduk menunggu istri menyediakan makan. Tapi, aku tahu beras masih mewah untuk kami santap. Ketika itu, timbullan rasa frustasiku. Kutatap wajah lesu istriku yang menanggung segala nasib buruk dari suami dan anak-anaknya. Walau lesu aku selalu tergoda. Bukan karena berahi telah merajai nafsu, melainkan karena hanya inilah hiburan satu-satunya yang dapat bantu lepaskan beban penat pikiran barang sebentar. Setelah itu aku yakin, beberapa bulan kemudian, akan ada tangis baru di gubuk ini sebagai rezeki buat kami.
          Setiap hari, sepagi mungkin, aku pergi berladang seorang diri. Gubuk reyot sebagai tempatku kembali pulang ku tinggalkan, berharap bangunan rapuh itu tak runtuh menimpa keluargaku sepeninggalanku mencari penghidupan.
          Ladang ini bertanah tandus dan kering, namun aku masih bersikeras untuk mengolahnya karena tak ada lahan lain yang dapat aku olah. Segala sesuatu yang aku dapatkan dari kehidupan ini hanyalah hasil dari keterpaksaan. Maka terpaksa pula, aku dan keluargaku setiap harinya hanya makan dari umbi-umbi singkong sebesar jari kaki yang tumbuh disekitar ladang kering ini.
          Sungguh sulit hidup terpencil dari masyarakat diluar sana. Tapi aku tak mampu berbuat apa. Semua serba dilakukan sendiri, dan tentu saja kami terjauhkan dari rasa iba yang sepatut diterima oleh orang-orang seperti kami.
         Apakah kami sekeluarga harus mengharapkan iba dan belas kasihan orang-orang? Apakah itu wajar?
          Setiap saban, disetiap detiknya, waktu-waktuku telah dilumat rasa lelah. Sekian ribu tetesan keringat telah keluar menghujani ladang tandus itu. Kulit tubuh ini sudah terlalu legam dan kering digarang bara panas matahari. Apabila kami ditempatkan kedalam orang-orang yang pantas menerima iba, kami tegaskan itu adalah sebentuk pelecehan atas usaha keras hidup kami. Disatu sisi kami pun tak bisa menyimpulkan ini adalah ketidakadilan hidup yang datangnya dari Tuhan. Dalam pandangan kamipun, sebenarnya, kami masih kesulitan memahami apa yang telah dikehendaki Tuhan terhadap kami. Padahal segala proses bersusah payah demi mendapatkan yang lebih baik telah usaha kujalani. Dalam pesimisku aku pernah berujar, barangkali hidup kami dicipta sebagai tumbal. Aku tahu dalam hidup ini mesti ada keseimbangan yang memiliki nilai,status, posisi, dan watak yang saling berseberangan. Kami hanya harus rela apabila kelahiran kami ditempatkan pada keadaan yang terendah dalam kasta maupun strata manusia. Aku meyakini kami telah dijadikan contoh korban agar manusia-manusia lain bersedia berpikir dan memahami bagaimana bersikap yang baik dalam takdir yang telah diatur. Sayangnya, kebanyakan orang tak mau repot-repot belajar memahami. Mereka sudah cukup dengan merasakan kenyang, dan tak pernah cukup ketika hal itu belum berlebihan. Maka, tiba-tiba kehidupan kamipun seperti sebuah kesia-siaan,
          Oleh karena itu keluar dari persoalan ini adalah berani bersikap lain, mengambil keputusan yang tak pernah terduga-duga. Tak peduli itu menerobos norma. Bahkan kalau perlu sampai hilang kewarasan diri.
           Suatu kali pernah terbersit meninggalkan tempat gersang ini, mengajak serta istri dan semua anak. Lalu, kami berjalan melewati batas-batas, melepaskan pandang kesegala arah melihat kehijauan alam, memupuki otak dalam pikiran dengan kesegaran-kesegaran baru. Namun semua itu ada tuntutannya. Tak bisa lekas mendapatkan semua yang kami harapkan. Setiap langkah yang diambil mestilah dihitung dengan berbagai pertimbangan dan perencanaan. Apabila kurang matang, tetap sajalah binasa diri ini.
          Dari desas-desus orang-orang yang sesekali melewati gubuk kami, aku pernah mendengar mereka membicarakan tentang demokrasi. Aku sendiri tak tahu arti kata itu, bahkan lebih banyak kata yang mereka obrolkan yang begitu asing ditelinga. “Demokrasi yang dianut oleh bangsa ini terlalu kebarat-baratan, mengusung bahkan mendewakan kapitalisme dan liberalisme. Orang-orang saling bersaing demi mendapatkan kebesaran dan kebanggaannya. Sementara peraturan mainnya mudah diotak-atik dengan kemampuan modal, hanya memiliki keberpihakkan pada kubu tertentu saja. Akhirnya, saking ketatnya persaingan malah melahirkan orang-orang yang berbuat curang dan saling sikut. Hukum kapitalis dan liberal tak memandang kaum yang lemah dan kalah, bahkan orang yang bersih sekalipun karena kecurangan telah dianggapnya semacam bentuk kebebasan demi meraih kesuksesan. Orang-orang seperti kita akan selalu kekurangan. Maka dari itu, telah kuikhlaskan istri dan anak perempuanku bekerja sampai malam demi mencukupi kebutuhan hidup”.
          Kini, tiba-tiba saja ada sepasang manusia, laki-laki dan perempuan, datang ke gubuk kami yang terpencil ini. Penampilan mereka tak sama dengan orang-orang yang terkadang melewati tempat tinggal kami. Mereka begitu terawat dan rapi. Pastinya apa-apa yang melekat ditubuh mereka adalah barang-barang bermutu tinggi. Juga pastinya mereka bukan berasal dari kampung sekitar. Namun raut wajah mereka terlihat begitu ketakutan. Mereka seakan telah terperangkap dialam yang tak pernah mereka kenal. Lekas saja kusuruh istriku untuk menyuguhkan segelas air putih kepada mereka. Hanya air putih. Tak ada persediaan lain di gubuk ini selain yang dapat diminum tersebut.
          Setelah kami persilahkan minum, wajah mereka terlihat lebih tenang. lantas saja mereka bertanya, “Bisakah Anda menunjukkan kami jalan pulang untuk keluar dari tempat ini?”
      “Kalian tersesat?”
Dua-duanya mengangguk bersamaan. Aku tahu kekompakkan itu menandakan mereka tak nyaman berada ditempat seperti ini, disebuah gebuk reyot yang pengap yang diliari anak-anak kecoa. Kiranya, kehidupan mereka diluar sana penuh dengan kemewahan. Tak terbiasa dengan keadaan yang serba menjijikan begini.
         Kendati begitu, ada baiknya juga aku menahan mereka disini untuk beberapa lama. Seyakinnya aku percaya sepasang manusia ini mungkin diutus Tuhan untuk menolong kami. Terutama membantuku memecahkan kata-kata misteri yang seringkali kudengar dari obrolan orang-orang  yang lalu lalang. Akan kukorek dari mereka bagaimana kehidupan diluar sana. Dengan segala pengetahuan yang kuperoleh dari mereka nanti, aku berharap dapat menentukan langkah yang tepat untuk berjalan kedepan, biar keluargaku tak semakin tersesat dalam keterpurukan hidup di dunia.
      “Biarlah kalian tinggal dulu di gubuk kami ini”, ucapku beralasan. “Matahari sudah mulai tenggelam. Selalu ada yang bersembunyi dibalik gelap. Entah itu orang kelaparan ataupun lubang tempua. Tak baik kiranya berjalan ditengah kelam. Bisa-bisa kalian semakin kehilangan arah, bahkan mungkin kehilangan nyawa”.
     “Tapi….”
Aku menempelkan telunjukku diatas bibirku, berdesis memberikan peringatan terakhir pada mereka. Tatapan mereka semakin awas memandang, dan seluruh anggota keluargaku memandang mereka penuh kekosongan dengan mulut menganga.
      “Disini daerah tertutup. Takkan ada yang mencium bau busuk meskipun bangkai tergeletak ditengah jalan”.
          Suasana kembali menghening. Suara-suara seperti menyurutkan diri kedalam lubang-lubang semut. Namun tatkala seekor nyamuk terbang didekat kepala, suara itu seakan mulai berani berdengung ditelinga. Disusul kemudian oleh suara-suara jangkrik dan tokek yang mencari makan. Keheninganpun berubah mencekam, melahirkan kekahwatiran dalam jiwa. Semua pandangan yang ada dalam gubuk ini tertuju pada pelita kecil yang menerangi ruangan.
           Aku berdehem. Aku mulai mempertanyakan arti kata-kata yang kudengar dari obrolan orang-orang lalu lalang tersebut. Tiba-tiba saja raut muka mereka bak tersengat listrik. Terkejut sampai menimbulkan keheranan. Barangkali mereka merasa mustahil ada orang yang hidup terpencil menyebutkan kata-kata yang lazim digunakan dikota besar. Namun mereka secara terpaksa memberitahuku. Kedengaranya arti kata-kata itu penuh dengan semangat dan kegemilangan, namun aku dapat menangkap kata-kata tersebut menyimpan sebentuk kekejian. Aku merasa kekejian itu sebisa mungkin tersimpan ditempat yang terkunci dalam makna kata, biar tak keluar sembarangan. Apabila  kekejian itu tetap tersimpan ditempat rahasianya, pastilah orang-orang kecil bakal menunduk sesedia mungkin bahkan sampai leher mereka terbelit.
        “Lantas apa yang kami perlukan agar dapat bergabung dan bertahan dalam tata cara hidup seperti itu?”, lanjutku bertanya.
         “Cuma modal”
Aku kerutkan sedikit keningku tanda belum paham benar. “Modal apa?”
        “Kalian harus memiliki uang sebanyak mungkin”
Tak pernah tanganku ini mengenggam uang, tapi aku pernah melihatnya. Uang hanyalah lembaran-lembaran kertas bergambar seperti mainan anak-anak. Mudah robek, rusak, bahkan terbakar. Kini aku tahu ternyata benda itulah yang justru teramat berharga diluar sana. Pantas saja orang-orang diluar sana begitu rela menukarkan bahan makanan dengan lembaran kertas bergambar tersebut. Harusnya sedari dulu aku mencari uang bukan mengolah ladang tandus, keluargaku pasti takkan pernah kekurangan. Ini sungguh menarik. Lekas saja aku kembali dengarkan kata-kata orang kota tersebut. “Dengan uang kalian dapat membeli kejujuran, singgasana, topeng, berahi, dan atau hewan qurban. Namun ketika semua yang kau miliki tak mampu melindungimu lagi dari berbagai masalah dan kekurangan, maka belilah hewan qurban sebanyak mungkin”.
       “Kalau butuh banyak lebih baik beternak daripada membeli”, sergahku.
       “Hewan qurban ini tak bisa diternak, karena memang tak ada ilmu untuk membudidayakannya”.
          Aku mengangguk. Bukan karena mengerti melainkan menuruti saja apa kata mereka.
         “ Biasanya orang-orang lebih suka kambing dengan warna hitam pekat sebagai qurban. Karena hewan tersebut lebih mudah disembelih”.
Segera saja, dengan cepat, aku kembali bertanya, “Bagaimana cara mendapatkan uang itu?”
         Kedua orang kota itu malah saling bertukar pandang. Diantara kebingungan mereka, kudengar suara keroncongan perut mereka. Telingaku memang sudah peka menangkap nada-nada suara begini. Dalam keadaan lapar begini memang selalu membuat pikiran kacau dan enggan untuk bergerak. Mulut sekalipun lebih baik tertutup rapat kecuali untuk mengunyah. Sedari pagi tadi, barangkali mereka belum makan apapun. Tapi digubuk ini tak ada apapun lagi yang dapat dimakan, bahkan sekedar untuk mengganjal perut. Keluargaku saja sudah cukup lama menahan lapar begini.
          Kendati begitu, kedua orang kota ini adalah tamuku. Sebagai tuan rumah, sudah sepatutnya kami melayani mereka dengan baik. Apalagi mereka telah memberikan banyak berita penting buat kami.
         Ada sebuah ide yang tiba-tiba terlintas dalam kepalaku. Kutatapi satu per satu wajah anakku yang muram. Keremangan cahaya didalam gubuk ini semakin menambah kemuraman mereka. Kudekati istriku dan kubisikkan ide itu  ditelinganya. Ia tetap membisu. Tak menyetujui atau menolak ideku itu. Wajahnya seperti kehabisan darah dan syaraf-syaraf disekujur tubuhnya seperti kehilangan berkah.
        Kugendong anak terkecil kami keluar. Anak inipun menurut saja, pasrah saja apapun yang akan dilakukan oleh bapaknya.
          Aku tahu ini ide konyol. Tapi anggap saja ini sebagai latihan dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan diluar sana. Kentara sekali dan begitu jelas sekali apabila ingin sukses diluar sana. Aku harus melakukan keputusan tak terduga-duga. Tak peduli itu menerobos norma-norma, bahkan sampai kehilangan waras diri.
           Aku memang harus berani bertindak gila-gilaan. Pilihanku jatuh pada anak terkecilku. Aku tahu yang namanya anak adalah rizki bagi orangtuanya. Setahuku juga, rezeki adalah hal-hal yang mampu mengenyangkan perut. Maka dari itu, tak ada salahnya juga aku menjadikan anak terkecilku sebagai ambisi gila pertamaku. Toh, seberapapun berharganya anak ini tumbuh takkan ada yang peduli betul dengan kehidupannya hingga kematiannya pun, kapanpun itu terjadi, pasti dengan perut kelaparan. Maka seberapapun kejamnya tindakanku terhadap anak kecilku, takkan ada orang yang mengungkitnya bahkan mengurai kasusnya.
         Kuambil parang yang telah terasah halus. Kuletakkan lehernya diatas batu besar. Anakku itu tetap terdiam. Benar-benar patuh. Rela serela-relanya dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Namuan raut wajahnya begitu hampa. Tak ada lagi sinar redup dalam bola matanya. Dibawah sinar rembulan purnama yang seredup senja, aku sembelih anakku itu. Darah segar memancar memberikan ketakjuban pada diri ini. Tak ada jeritan. Hanya suara lenguhan kecil tanda kepasrahan.
***##***

          Aku kira kitalah orang kota pertama yang menginjakkan kaki di gubuk reyot ini. Sebelum-sebelumnya pasti tak ada, karena takkan pernah terpikirkan seorang bermartabat tinggi sudi memasuki tempat tinggal serupa sarang kuntilanak. Sungguh memalukan nan menyakitkan ketika kita tanpa segan menyapa dan melepaskan senyum pada mereka. Entah apa yang bakal didesas-desuskan dunia tentang kita nanti. Para pesaing kita pasti akan semakin terdengar keras bahaknya, semantara kita semakin tersuruk ke pojok dunia.
       Disamping itu, sungguh luar biasa, kita yang telah terbiasa dimanja santapan berkolesterol dan berlemak, tiba-tiba hanya disuguhi segelas air putih. Warna airnya pun tak bening benar. Ada titik-titik kecil yang melayang-layang didalam air. Kau dan aku melihatnya saja sudah bergidik. Bagaimana ceritanya kalau gelas itu menempel dibibir kita dan kita mereguk airnya dalam-dalam?
         Saat tuan rumah mempersilahkan kita minum, terpaksa kita pura-pura meminumnya. Tak lebih. Setelahnya kita mendesah melepas sedikit beban. Sungguh, meskipun disekeliling kita hanya dibatasi bilik, namun rasanya seperti terperangkap dibalik tembok beton. Apalagi saat mereka tak bersedia menunjukkan jalan keluar dari sini karena malam, kita benar-benar sulit bergerak selain bulu kuduk yang leluasa meremang gigil.
        Mereka mengajak kita mengobrol, mencoba mendekatkan dan mengakrabkan diri pada kita. Namun, itu semakin menambah bayangan seram kita. Banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan. Tak terkira mereka bertanya tentang politik dan sistem kehidupan diluar sana. Setidaknya, hal itu, mampu melunakkan tegangnya suasana. Kita pun menjawabnya sehati-hati mungkin.
          Saat mereka mempertanyakan cara mendapatkan uang kita terdiam. Pertanyaan itu seperti memiliki rumus khusus sebagai jawabannya. Untuk saat ini, apapun yang berkaitan dengan uang, belum bisa kita pecahkan. Kita saling tatap. Kita tahu kita tengah krisis. Persaingan diluar sana telah berhasil memporak-porandakan selurus asset kita. Namun tiba-tiba perut kita berbunyi kelaparan seakan ingin ikut memberikan jawaban.
         Lalu lelaki berkulit alot itu mendekati istrinya. Ia berbisik ditelinga istrinya dan menuntun anak terkecilnya keluar rumah. Wajah istrinya yang muram berubah penuh kepucatan seakan bisikan suaminya telah mencerabut nyawannya keras-keras. Kembali kita saling tatap, menukar cahaya pandangan mata kita. Lantas, mengikuti arah kemana bapak dan anak itu pergi.
          Lekas saja kita dibuatnya terkejut. Dibawah sinar purnama yang muram semuram wajah penghuni gubuk reot ini, sang ayah menyembelih kepala anaknya. Darah yang memancar dari leher sang anak itu menggambarkan rasa nyeri yang tak terkira. Saat lenguhan anak kecil itu melayang-layang diudara seperti tak tahu arah, sang ibu sendiri mendesah lemah dan jatuh pingsan. Saudara-saudaranya menangis lirih selirih suara perut yang jarang terisi, sambil memeluk tubuh ibunya. Sementara kau, istriku sendiri, menatapku. Aku melihat dibalik sinar bola matamu ada hikmah yang tak terkira jumlahnya. Kau begitu terpukau menyaksikan peristiwa pemenggalan itu. Bibirmu bergetar mengucap, “Inilah neo liberalisme! Inilah neo kapitalisme!”.
     Akupun menjawab parau, “Benarlah rasaku tadi. Tempat ini memang menyimpan kebesaran”.
        Cukup lama kita membisu setelah melihat peristiwa pemenggalan itu, akhirnya kami disuguhi makanan. Tentunya hasil dari penyembelihan tadi. Namun entah kenapa, tiba-tiba rasa lapar hilang. Perut ini seperti malu telah memberontak dan meminta tuntutan untuk segera terisi.
        “Apa kalian sering melakukan aksi-aksi semacam ini?”, tanyaku dengan bibir gemetar ketakutan. Dia, sama anaknya saja berani memenggal kepalanya apalagi pada orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Kita waspada. Tak boleh saat tubuh kita keluar dari sini hanya tinggal nama yang tersisa.
     “Sekali ini saja”, katanya. “Untuk menghormati kalian. Tamu kami”.
        Aku menatap kau kembali, istriku. Ketakutan yang sedari tadi kita rasakan seakan menemukan celah untuk keluar dari jiwa dan pikiran, berubah menjadi peluang langka untuk kita. Peluang untuk melampiaskan dendam kita. Peluang untuk menyingkirkan para pesaing kita yang berani-beraninya memojokkan kita. Sikap hati-hati kita longgarkan mesti tetap awas.
       “Anda pernah bertanya bagaimana cara mencari uang itu, bukan?”
       “Ya”
       “Maukah Anda menjadi pembunuhan bayaran? Kami akan sewa Anda?”.

Sabtu, 07 April 2012

SENSASI AKU DAN PENA


 Diatas meja telah terseduh secangkir kopi panas. Uapnya bergoyang-goyang naik ke udara, menghantarkan aroma manis dan pekat ke indera penciuman. Aku seruput kopi itu sedikit, meresapi rasa dan aroma kopi tersebut dalam pikiran. Aku  mendesah tenang seiring kopi itu menggaruk permukaan lidahku yang kasar dan mengalir tenang melalui kerongkongan dibalik leherku. Kandungan kafein dalam kopi tersebut dapat membantuku terjaga sepanjang malam ini, mengoptimalkan jalan pikiranku yang aku tumpahkan kedalam bentuk tulisan.
    Jari jemariku bergerak teratur diatas tombol-tombol mesin tik sederhana tersebut. Setiapkali aku menekankan jari tanganku pada tombol-tombol tersebut terdengar bunyi-bunyi yang dapat menggerahkan telinga siapapun yang terjaga malam ini. Tapi, didalam kamar yang sumpek nan pengap hanya ada aku seorang diri. Bunyi-bunyi berisik mesin tik itu menjadi satu-satunya sumber keramaian dalam kesendirianku.
    Ku ketikkan kata per katanya penuh khidmat, berusaha menciptakan kesakralan dalam serangkaian kalimat yang kubuat. Dibalik maknanya aku sisipkan perasaan, berharap isi pedalaman jiwa dan pikir yang telah kujelajahi sanggup menyentuh naluri para insan yang membaca karya-karyaku nanti.
    Aku ingat-ingat peristiwa yang telah  kubaca dan kulihat dalam berbagai media. Aku ingat-ingat pula segala kejadian yang pernah menimpaku. Juga tragedi yang pernah menerpa pribadi diluar diriku sendiri. Lalu, kuracik dan kukembangkan sedemikian rupa kisah-kisah nyata tersebut kedalam dunia dongengan hasil rekaanku sendiri. Kubayangkan segala peristiwa baru itu kedalam pikiranku dan kupikirkan jalan ceritanya agar runtut dan teratur. Namun, ilham yang menghampiriku malam ini seolah enggan menyerahkan jiwanya begitu saja. Aku tak bisa asal-asalan menuliskan sebuah karya. Saat aku mulai menjentikkan jemariku diatas tombol-tombol huruf tersebut, tiba-tiba keleluasaanku seakan menghilang. Entah berapa kali aku melakukan kesalahan, menghapus kata atau kalimat yang kurasa tak padan. Bahkan sudah berlembar-lembar kertas yang nasibnya berakhir di tong sampah.
    Banyaknya penolakan yang sering kuterima, barangkali, telah mengambil sedikit peran pada kepercayaan diriku, memaksaku harus lebih teliti dan seksama. Mengerjakan satu kalimat saja seperti menyelesaikan satu rumusan matematika yang teramat sulit. Karya-karyaku bersaing dengan penulis yang sudah punya nama. Hal itu membuatku meragu pada hasil tulisanku sendiri; apakah layak untuk dibaca umum atau tidak.
    Seluruh tulisan dari penulis ternama yang dimuat aku pelajari dan pahami. Aku baca seteliti mungkin sampai otakku mampu meresapinya. Tak hanya kuperhatikan dari segi tata bahasa dan alurnya saja, bahkan aku sampai memperkirakan bagaimana sang penulis ternama tersebut menggerakan jari jemarinya saat menulis atau mengetik. Kadang, ada beberapa tulisan yang kutemui lebih kering dari apa yang kutulis. Aku heran mengapa tulisanku sampai kalah bersaing dengan tulisan picisan begini. Nama, yang seharusnya tak layak dijadikan satu-satunya sumber jaminan telah menjadi patokan mutu dalam membandingkan kualitas dengan penulis pemula.
    Barangkali juga persangkaanku itu salah. Kurang dari seminggu saja, beratus-ratus judul kisah fiktif telah tertumpuk dimeja redaksi. Jika dikalkulasikan, maka dalam setahun akan ada ribuan judul yang terkirim. Tak mungkin sang redaktur, dalam keterbatasan waktu deadline, membaca satu per satu tulisan-tulisan itu. Sementara itupula, kolom yang disediakan dan waktu pemuatannya pun sangat dibatasi. Alhasil namalah yang menjadi acuannya. Tak peduli isi karya tersebut berkualitas atau tidak.
    Lama-lama, memikirkan tentang nama tersebut memberikan jalur batas yang tak bisa ditembus pikiranku lagi. Sebuah dinding tebal tiba-tiba tumbuh menghalangi laju daya imajinasiku. Semuanya tertutup. Lenyap. Tanganku berhenti bergerak diatas tombol-tombol mesin tik tersebut. Sementara pikiranku masih bersusah payah membobol dinding tebal tersebut.
    Buntu.
    Aku sandarkan punggungku diatas kursi yang kududuki. Aku tatap langit-langit kamarku yang rendah. Bidang diatas kepalaku itu tak memberikan bacaan apapun. Kulirik kanan kiri. Kamar yang sempit dan berantakan. Empat sisi dinding kamar ini seakan diam-diam hendak menjepitku. Aku sudah lelah memeras ide-ide diotakku. Aku butuh relaksasi. Semua sisi-sisi yang membentuk kamar ini terasa membatasi daya kreatifitasku.
    Kuatur nafas baik-baik, berusaha menahan ledakan yang mungkin bakal muncul dari kekalutan jiwaku. Kalau sudah meledak, aku tahu, aku takkan segan-segan mengacaukan seluruh isi kamar ini. Bahkan aku akan melemparkan tubuhku sendiri berkali-kali keatas dinding dan menggetok-getok isi kepalaku sendiri, seakan dengan cara seperti itu seluruh ide yang terpasung dalam otakku dapat mencair.
    Aku ambil sebatang rokok disaku celanaku. Aku nyalakan ujungnya sambil menghisapnya. Kepulan asap putih berhamburan keluar dari lubang mulut dan hidungku seiring kuhembuskan nafas ke udara. Bumbungan asap yang keluar dari dua lubang pernafasanku itu melayang gelisah di udara bagai mencari arah tepat hingga akhirnya pecah terbawa angin malam. Aku tak peduli lagi pada batuk-batuk kecil yang kuderita sebagai pertanda penyakit paru-paru mulai menjangkiti organ pernafasanku. Rokok, adalah satu-satunya hiburan terbaik yang kumiliki.
    Saat kupandangi kepulan asap rokok, selalu timbul rasa cemburuku. Aku mulai memikirkan banyak pengandaian. Betapa asap rokok itu begitu ringan, terangkat ke udara, melayang bebas kemanapun ia ingin menuju, menemui kebebasannya. Aku ingin begitu----menjalani kehidupan tanpa banyak beban, mendapatkan semua apa yang diinginkan tanpa harus lelah putar-putar isi kepala dan memeras keringat.
    Waktu terus merambat. Jam dinding telah menunjukkan waktu dini hari. Tapi tak ada niat menutup mata barang sebentarpun. Aku bangkit dari dudukku. Sedikit meregangkan otot-otot pinggangku yang pegal. Aku menuju jendela kecil disebelahnya dan membukanya. Lekas saja angin malam mendorong wajahku dan merndinginkan lubang pori-pori disekujur tubuhku. Sepasang mataku memandang luas permukaan langit dan bumi, hingga akhirnya tertumpu pada satu titik pandang terjauh yang dapat dijangkau penglihatan mataku. Gelap telah meredam hingar bingar kesibukan kota, namun dikejauhan kelihatannya keramaian masih berlangsung. Disekitarku, satu-satunya partikel yang masih berani mengeluarkan suaranya adalah udara yang  bergemerisik ringan ditelingaku sebagai angin. Lampu-lampu menyala kelap-kelip mereplikakan taburan bintang dilangit.
    Dititik terjauh pandanganku itu, kucoba mencari-cari sebentuk ilham yang mungkin bersembunyi diantara tembok-tembok beton gedung pencakar langit. Aku ingin melepaskan segala beban yang selalu menggelayuti nafas didadaku. Memandang panorama malam di kota begini dapat membuat pikiranku sedikit tercerahkan kembali. Aku yakin banyak ilham yang dapat dijadikan sumber ide dibalik rahasia malam yang dapat kutumpahkan dalam bentuk tulisan. Yang paling patut kusayangkan hanya satu; langit kota sepi dari taburan bintang. Polusi telah menutupi kemegahan gemerlap bintang-bintang.
    Alam telah sekian lama membantu mengakrabkanku dengan pena. Sayang, tidak dengan kedua orangtuaku. Mereka melarang anaknya habis-habisan berkecimpung didunia sastra. Bagi mereka itu sangat diluar rasionalitas. Fokus mereka hanya terpaku pada kebutuhan materi saja. Apabila aku kedapatan tengah asyik menulis, segera kobaran api akan menyala diwajah mereka. Mereka takkan tanggung-tanggung membakar semua karya yang telah kuselesaikan.
“Apa yang dapat kau harapkan dari menulis? Lihat saja Chairil Anwar! Apakah dia orang kaya! Lihat saja Van Gogh! Apakah dia orang berbahagia! Yang namanya seniman, entah itu penulis atau pelukis, hidupnya pasti sengsara. Masa depannya suram. Kau mau seperti itu? Ingat, Nak, tak ada keturunan moyang kita yang jadi penulis. Menulis itu pekerjaan pengecut!”.
    Kata-kata yang dibumbui oleh amarah itu terasa benar menusuk pedalaman kalbuku. Namun, aku tahu itu sebentuk perhatian kedua orangtuaku demi kebaikan buah hatinya. Walaupun demikian, aku tetap bersikeras pada prinsipku. Pandangan orangtuaku terhadap seni terlalu kolot. Ini lebih sekedar dari uang. Ini adalah tentang sebuah jalan hidup yang mesti  kutempuh dalam mengenali kesejatian diri.
    Akhirnya, pertentangan dengan orangtuaku itu membangkitkan semangat kemandirianku. Aku kabur. Diatas meja didalam kamarku, kutinggalkan selembar surat. Aku berharap orangtuaku tak mengkhawatirkan kepergianku dan tak perlu repot-repot mencariku. Yang paling penting dari itu semua, aku berharap orangtuaku dapat mengerti makna dibalik keminggatan diriku ini.
    Aku akui kata-kata terakhir orangtuaku yang menyebutkan kepengecutan seorang penulis sangat menyakitkan hatiku. Aku merasa rendah dengan talentaku ini. Salah satu maksud aku minggat dari rumah ini adalah ingin membuktikan pada dunia dan orangtuaku bahwa apa yang kulakukan dan kuusahakan ini adalah memang sebuah kepantasan yang layak. Huruf-huruf merupakan simbol dari peradaban, maka aku yakin menulis dapat menjadikanku selalu hidup dalam sejarah diberbagai masa.
    Seorang Chairil memang bukan orang yang dianugerahkan limpahan harta benda, tapi melalui kekuatan penanya, meskipun setelah matinya, ia berhasil melewati keadaan berbagai zaman dan kaya dalam ingatan para generasi selanjutnya. Begitupula seorang Van Gogh. Karya-karyanya yang tergores indah dalam kanvas masih begitu dipuja-puja dalam daya inspirasi generasi kini. Meskipun dalam menjalani kegalauan hidup, aku sendiri takkan melakukan hal tragis seekstrim Van Gogh memotong telinganya.
    Maka akhirnya, langkah kaki ini membawaku pada  tempat dan suasana baru. Disudut kota, terjauhkan dari glamornya kehidupan metropolis, diantara gang-gang sempit yang berkelok-kelok, aku menyewa sebuah kamar. Disinilah kini aku bertempat tinggal, berteduh dari terik panas dan hujan.
    Awalnya cukup sulit menyesuaikan diri dilingkungan padat dengan luas lahan yang tak sesuai dengan jumlah penduduknya. Setidaknya kondisi sempit dan sesak disini justru membuatku dapat sedikit bernafas lega. Aku tak perlu lagi mendengar komentar buruk, keluhan, atau amarah orangtuaku sendiri. Aku merasa bebas dan leluasa mengembangkan ambisiku ini.
    Memang tinggal diantara gang-gang sempit sangat menyesakkan. Saking sempitnya, apabila terjadi kebakaran atau banjir akan sulit menyelamatkan diri, apalagi menyelamatkan harta benda. Tata ruangnya sangat memprihatinkan. Rumah-rumah dibangun diatas lahan yang sangat terbatas, saling berdempetan dan berdesakan. Untuk menyiasati kekurangan lahan tersebut, biasanya warga meninggikan bangunan rumahnya. Salah satunya menyulap loteng menjadi kamar.
    Dikamar loteng ini pulalah aku kini tengah berdiri memandang keluar menikmati semilir angin malam. Hidup ditengah-tengah masyarakat baru memberikan sedikit ruang dalam pikiranku. Aku merasa semakin didekatkan pada dimensi kehidupan urban yang berbeda, yang sesungguhnya. Ide-ide segar kerapkali menghampiri diriku, meski terkadang, seperti saat ini, tiba-tiba semuanya buntu. Memang sampai saat ini, aku belum berhasil menelurkan karya satupun. Sudah dikatakan tadi aku terganjal nama.
    Biasanya nama seseorang dapat besar karena prestasinya. Sementara aku justru dihadapkan pada kondisi sebaliknya.  Sebenarnya ada satu cara yang dapat membuat namaku dikenal banyak orang; menjadi artis. Barangkali dengan nama keartisanku nanti aku akan mudah mempublikasikan karya-karyaku nanti. Jalan pintas dari semua ini adalah ikut casting.

Senin, 26 Maret 2012

KEMANUSIAAN DITENGAH SENSUALITAS TUBUH dan SPIONASE

Judul buku : Namaku Matahari
Penulis       : REMY SYLADO
Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 560 hal.
ISBN          : 978-979-22-6281-0


         Remy Sylado, penulis yang satu in kerapkali namanya disandingkan dan dikait-kaitkan dengan nama besar Pramoedya Ananta Toer karena kelihaiannya meramu sebuah  cerita dengan sejarah. Kali in ia hadir dengan novel barunya yang diangkat dari kisah nyata pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20----dimana sebelumnya telah dimuat diharian KOMPAS sebagai cerita bersambung. Tak heran gambar sampul yang digunakannya pun serupa dengan gambar sewaktu dimuat diharian tersebut.
          Adalah Margaretha Geertruida yang menjadi tokoh utama dalam novel in. seorang wanita Indo Belanda yang dilahirkan dan dibesarkan ditanah Eropa. Karena mengikuti tugas suaminya, akhirnya ia tiba di bumi Hindia----sebuah negeri dibawah kekuasaan colonial yang selama in dibanggakan dan dikaguminya sebagai tanah leluhur nenek moyangnya. Hingga nama Eropanya pun ia ubah menjadi nama Melayu, Matahari, mengikuti pandangan filosofinya yang selalu ingin bersinar dan membara.
         Karena kebanggannya pada tanah leluhur dan kecintaannya pada dunia seni, Matahari mulai belajar menari Jawa pada seorang seniman pribumi. Selain itu dibumi Hindia inipun ia dapat melihat jelas kesenjangan sisi kemanusiaan antara bangsa pribumi dengan Eropa. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil lagi, dalam rumah tangganya sendiri, sang suami begitu mudahnya mengutarakan maksud hati in gin menjadikan pembantunya sebagai seorang ‘nyai’
          Memang pada masa itu nilai kemanusiaan seseorang dimaknai begitu sempit, hanya dipandang dari keturunan bangsa apa ia dilahirkan. Masalah serupa pun telah Pramoedya ketengahkan dalam novel fenomenalnya Bumi Manusia. Maka boleh dikata Matahari memiliki watak dan karakter yang persis sama dengan tokoh Nyai Ontosoroh dalamnovel Pram tersebut. Namun karena kekerasan hidup yang hares dijalani, mereka sama-sama memiliki dendam yang justru membawa mereka pada kesalahan kemanusiaan. Seperti halnya Matahari yang terjebak dalam dunia prostitusi. Hingga akhirnya profesi kepelacurannya itu, dengan sendirinya, menjadikannya mata-mata ganda bagi Prancis dan Jerman
          Dari segi tata bahasa novel in ditulis sangat terkesan filmis sehingga lebih ringan dibaca dan dimengerti. Didukung pula dengan sudut pandang ‘aku’, novel inipun menjadi lebih memiliki nilai emosi membuat para pembacanya merasa tak sabar melihat versi visualnya.
        Menurut Remy sendiri novelnya in memang  siap untuk difilmkan. Kalau begitu kita tunggu saja filmnya. Ikut castingnya, yuk!!!!!

NB : Novel yang menceritakan kehidupan Margaretha Geertruida alias Matahari ini sebenarnya pernah ditulis berkali-kali oleh beberapa penulis dari luar, bahkah oleh seorang penulis local bernama Ukat S ( lupa nama panjangnya siapa dan nama itupun kalau benar ). Kisahnya pun sebenarnya sudah beberapa kali difilmkan oleh sineas dari luar sana. Film versi pribumi sendiri pernah dibuat dengan tokoh utama Tamara Blenzsky.

Rabu, 14 Maret 2012

BENGKONG AMBISIUSME


    
       Ia seorang lelaki pemberani. Barangkali juga ia lelaki paling sadis. Tapi ia bukan seorang koruptor. Meskipun urusan potong memotong adalah keahliannya, ia bukanlah seorang algojo ataupun mutilator. Itupun yang dipotongnya hanya berupa sebagian kecil dari tubuh manusia---seonggok daging yang tak semestinya tumbuh dalam raga manusia. Namun,  meskipun daging yang dipotongnya sedikit, pangaruhnya sangat besar pada kelangsungan hidup umat manusia. Karena itulah, diusianya yang semakin beranjak tua ia tetap bersinar dan makin tenar.
       Dia adalah Pak Muchtar. Kendati kegagahannya telah digantikan oleh wujud fisiknya yang telah usang, keahlian potong memotong tetaplah menjadi kebanggaan dan kebesarannya. Boleh dibilang ketenarannya melebihi lurah dan camat setempat. Saking terkenalnya plus usianya yang memang lumayan sepuh, iapun begitu disegani dan dihormati oleh masyarakat.
       Tapi, segala bentuk penghormatan dan penghargaan yang dimilikinya dapat menjadi sumber ketakutan bagi anak laki-laki. Kehadiran Pak Muchtar dihadapan mereka bagaikan menebar keangkeran yang teramat nyata. Pada saat itu, satu-satunya keinginan yang tertinggal dibenak mereka adalah berlari dan sembunyi, takut-takut naluri ke-bengkong-an Pak Muchtar kambuh mengancam lambang kejantanan mereka. Sebaliknya, anak-anak perempuan saat itu justru tertawa lepas melihat makhluk yang suka berkelahi dan jorok kehilangan dominasinya.
     Pak Muchtar sendiri tak terlalu ambil pusing pada persoalan-persoalan semacam itu. Waktu telah dengan baik membuktikan segalanya. Ketika para anak laki-laki itu beranjak dewasa dan mendapatkan keakilannya, mereka justru akan menganggap Pak Muchtar sebagai pahlawan. Mereka akan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena merasa telah berhutang budi. Pak Muchtar  telah membebaskan mereka dari segala aib dan kekotoran di dunia ini, karena kelihaian tangan Pak Muchtar telah menyelamatkan kehidupan dewasa mereka dari masalah kebersihan yang paling intim hingga urusan paling vital dalam rumah tangga.
       Sebenarnya pokok masalah satu-satunya yang dihadapi Pak Muchtar serupa urusan watak kemanusiaan belaka; rasa ketidakpuasan. Meskipun ia telah mendapatkan gelar dan namanya dengan limpahan puja-puji, betapa ia tetap masih merasa ada yang kurang. Dibalik sanubarinya masih ada bagian yang belum tergenapi. Segala sikap hormat yang dipersembahkan orang-orang kepadanya dan segala julukan yang tersemat dalam dirinya tidaklah terlalu memberikan sensasi yang luar biasa. Apa yang diabdikannya kepada masyarakat sejauh ini barulah seujung kuku jari. Ia ingin menantang nyalinya, mengerahkan seluruh kemampuannya agar dapat memperlihatkan kepada dunia siapa ia sebenarnya. Tak hanya mendapatkan ketenaran semata, tapi layak pula dikenang sepanjang masa. Ia berkehendak menguji adrenalinnya demi melepaskan segala jenuh, benci, dan geramnya. Didalam benaknya tersimpan sebuah ambisi yang dapat membuatnya menjelma raksasa kebanggaan, dan akan lebih banyak mulut lagi yang memperbincangkannya.
       Sejauh ini, Pak Muchtar merasa kehidupan yang dijalaninya adalah sebentuk pergaulan hidup yang terus menerus terjadi secara seragam. Tiada gerak ataupun kehendak untuk melawan riak. Sekedar secuil penambahan dan pengurangan adegan yang tidak terlalu penting. Semuanya terasa hambar dan datar. Kesan-kesan indah yang didapatkannya selama ini seperti sebuah persinggahan sementara yang membuatnya terbuai sesaat, lena terbawa angin sanjungan yang mampu membawanya terbang sejauh  ia mau. Lantas, secara tiba-tiba ia menyadarinya bahwa ia belum berada di puncak segala puncak.
      Seringkali ia menjadi tamu istimewa diacara-acara khitanan, mendapatkan senyuman ramah dan jabat tangan mesra seakan-akan acara khitanan tanpa kehadirannya dapat menjadi momen yang kurang mengesankan. Saat itupula ia dihadapkan pada seorang anak laki-laki yang telah bersembunyi menghindarinya. Anak itu dituntun keluar. Seraya semua pandang mata tertuju kearahnya, menjadi satu-satunya perhatian sekian banyak orang bagaikan makhluk terupawan dimuka bumi ini. Semua orang memberikannya semangat dan dukungan, namun ada sedikit keprihatinan dibalik suara mereka yang membuat anak itu tak lagi merasa sebagai  pangeran tampan melainkan tumbal yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan  bagi banyak orang.
       Dibalik bola mata anak itupun selalu terlihat jelas kecemasan yang membuncah. Pak Muchtar juga dapat melihat kedua kaki anak itu bergemetar hebat, bahkan Pak Muchtar seakan dapat mendengar dengan pekak debaran jantung anak itu yang tak terkendali bak mengalirkan rasa takut keseluruh syaraf tubuhnya. Jauh-jauh hari sebelum khitanan, pasti anak itu telah diwanti-wanti oleh orangtuanya. Seluruh kebiasaan yang sering dilakukannya terpaksa ditinggalkan sementara. Begitu banyak pantangan-pantangan yang mesti dijalaninya. Dilarang ini dan dilarang itu.
     “Kamu jangan main terlalu capek dan berkeringat, Nak! Jangan lari-lari karena dapat membuat darah yang keluar nanti banyak dan sulit dihentikan”.
       Menjelang akan dikhitan pun, seorang anak laki-laki mesti melakukan satu ritual lagi yang dapat membuat tubuhnya menggigil dan mati rasa. Mereka harus berendam didalam air dingin disaat matahari belum benar-benar menampakkan wujud utuhnya. “Selama kamu berendam, air ini akan cukup berguna membuat tubuhmu bebal. Cukup ampuh mengurangi rasa sakit saat kau menerima tebasan terpenting dalam hidupmu. Walau dingin, cobalah kamu tahan, Nak!”
       Tak heran, para anak laki-laki pun bertingkah seperti dendam pada Pak Muchtar.
       Ketika mereka berada diatas pangkuan bapak mereka dan Pak Muchtar menyibakkan kain sarungnya keatas, tak jarang, mereka tak segan-segan langsung mengencingi wajah Pak Muchtar. Mereka akan menjerit dan menangis sekeras mungkin. Mereka sadar setelah disunat pasti akan lebih banyak lagi pantangan yang harus mereka lalui sambil menahan nyeri sebelum luka sunat itu mengering. Sementara, Pak Muchtar hanya dapat mengelap wajahnya saja sambil memendam geram dalam hati dan meyakinkan pada semua orang dengan senyum bahwa ini hal yang normal-normal saja.
       Walaupun demikian, suatu saat nanti para anak laki-laki pasti menyadari hari ia dikhitan dapat menjadi peristiwa yang paling bersejarah, hari teristimewa sekaligus hari tersulit dalam hidup mereka. Kejantanan mereka diuji. Keperkasaan mereka dipertaruhkan. Mereka tak boleh takut apalagi gentar. Semuanya pasti akan segera terlunaskan. Orang-orang pasti akan sibuk membakar seekor ayam khusus untuknya dan memberikannya amplop-amplop. Peristiwa ini selalu mengajari dan mengingatkan Pak Muchtar tentang makna kehidupan; sebelum seseorang mendapatkan kebesaran dan kesuksesannya, maka terlebih dahulu mesti dapat menerima dengan lapang dada segala bentuk panghinaan dan pelecehan. Hukum ini berlaku semata demi umat manusia dapat selalu bersikap rendah hati.
      Kini, Pak Muchtar  hanya mampu menghela nafas dan mengelus dada, seiring waktu bergulir memenuhi takdirnya, iapun akhirnya merasa prihatin terhadap nasib yang telah terlalui. Kemonotonan membuatnya terjebak dalam lingkaran waktu.
       Barangkali, ia dapat beralih menjadi tukang jagal. Sekedar memberikan warna baru ditengah kemonotonan hidupnya. Setidaknya  ia telah membuat hiburan sedarhana dikehidupannya. Tapi iapun enggan keluar dari jalur yang digelutinya sekarang ini. Meskipun menjadi seorang tukang jagalpun masih termasuk kedalam kode etik yang sejenis, tetap saja diperlukan latihan khusus kembali. Ia harus mampu memegang senjata tajam dengan ukuran yang lebih besar dan harus tahu titik-titik yang tepat dimana ia dapat menggoreskan senjata tajam tersebut agar tak menimbulkan rasa nyeri berlebihan pada hewan yang hendak disembelih.
      Iapun semakin bertambah bingung. Akhirnya, pada malam-malam yang sunyi ia keluar rumah. Tak peduli usianya telah uzur, langkah kakinya tergopoh-gopoh, dan matanya rabun. Angin malam mungkin dapat membantu menyejukkan dan menjernihkan pikirannya. Ia berharap suasana kelam malam dapat memberikannya inspirasi dan ilham-ilham, mengembangkan segala pemikiran dan pemahamannya. Dalam benaknya saat ini hanya tersisip arti kata semoga.
     Ternyata, berlama-lama ditengah gelapnya malam membuatnya semakin tak karuan. Kepalanya berputar-putar dan menyesakkan dada. Semua ini bukan karena ia telah berusia, keropos, ataupun rabun. Tapi betapa terpukulnya ia ketika melihat deretan warung remang-remang yang dilaluinya. Awalnya ia mengira ini mungkin disebabkan pandangan matanya yang tak sempurna lagi. Namun saat ia memakai kacamatanya semua justru terlihat lebih jelas lagi. Dibalik redupnya cahaya lampu, orang-orang yang berlainan muhrim saling bersentuhan tanpa sungkan-sungkan lagi. Hubungan sakral antara pria dan wanita seolah-olah tak memiliki jarak dan aturan lagi. Dengan leluasanya, mereka memamerkan aurat pada sembarang tempat dan sembarang kelamin, lantas melepaskan gelora gairah bersama-sama. Dengan begitu mereka justru merasa bangga, gembira, dan terpuaskan. Yang lebih membuat Pak Muchtar terpukul ternyata sebagian lelaki yang berlaku hewani tersebut adalah anak laki-laki yang dulu dikhitannya.
       Apakah semua ini juga ada kaitannya dengan dikhitan sehingga mereka merasa bebas berlaku seperti hewan----merasa resiko tertular penyakit semakin rendah?
       Melihat tingkah laku manusia pada malam hari seperti ini membuat Pak Muchtar merasa dikelabui. Segala gelar dan nama yang diberikan oleh mereka tak ubahnya seperti topeng untuk mengecohnya. Ketenaran dan penghormatan yang selama ini didapatnya seperti sebuah alat yang dapat membuatnya lena dan lupa. Semacam tipuan. Tak berarti apa-apa. pada kenyataannya,  semua yang dilakukannya seperti sebuah kesia-siaan. Orang-orang diluar sana telah curang terhadap keahlian dan jasa-jasanya. Apalagi zaman sekarang telah dikenal alat-alat kontrasepsi sebagai bentuk pencegahan penuran penyakit-penyakit kelamin.
       Kalau begitu mungkin lebih baik ia pensiun dari tugas-tugas ke-bengkong-annya. Dengan kelamin yang lebih dari utuh, mungkin para lelaki dapat lebih menahan diri untuk berlaku seronok dan kotor terhadap syahwatnya sendiri. Tapi tak mungkin juga. Tanpa seorang bengkong pasti tidak akan ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga dan semakin mudah ditemui orang-orang yang tertular penyakit kelamin. Kalau sudah begitu mungkin kaum wanita akan menjadi kumpulan makhluk anti lelaki. Bukankah ia sendiripin masih membutuhkan dinamika agar membuat hidupnya tak berkesan seragam lagi dari hari ke hari?
       Jadi, apa yang harus dilakukan oleh tangan dingin ini yang telah terlatih memotong untuk membasmi kebinalan dan kejalangan hidup manusia-manusia malam?
***###***

      Disuatu pagi yang hening seorang pemuda mendatangi rumahnya. Ia tampan dan putih. Melihat keseluruhan postur tubuh pemuda ini membuat Pak Muchtar merasa bercermin dengan masa mudanya. Namun sinar dibalik bola mata pemuda itu menyiratkan kegelisahan. Ia terlihat ragu-ragu dan malu-malu berdiri dihadapannya. Sepanjang percakapan ia terus menunduk, berusaha  menyembunyikan wajah tampannya dari tatapan Pak Muchtar. Pak Muchtar mengira maksud kedatangan pemuda ini ke rumahnya pasti hendak mengundangnya pada acara khitanan anak atau keponakannya, tapi pemuda itu justru berbisik-bisik pelan padanya.
     “Saya kesini mau minta bantuan Pak Muchtar. Saya mohon Bapak berkenan membantu saya”.
Merasa pemuda itu akan berkata bertele-tele, Pak Muchtar segera menyergapnya. “Langsung saja kau katakan. Tak perlu malu. Disini tak ada siapa-siapa. Meskipun itu bersifat rahasia, hanya bapak dan kamu saja yang tahu”.
“Ini memang sangat rahasia. Saya tak mau orang-orang di luarsana sampai tahu. Ini adalah aib”.
  “Kalau begitu cepat kau katakan”, Pak Muchtar sudah tak sabar lagi. “Percayalah, Bapak orang yang paling bisa dipercaya memegang rahasia”.
“Tidak lama lagi saya akan segera menikah”, kata pemuda itu. “Saya tak mau malam pertama nanti menjadi malapetaka seumur hidup saya. Saya ingin bahagia sampai mati dengan pernikahan ini”.
“Lantas, apa rahasia yang membuatmu sampai takut dan malu begitu?”
“Saya belum disunat”.
      Pak Muchtar terbengong-bengong. Pada saat bersamaan, iapun ingin tertawa sekeras-kerasnya. Ini benar-benar mengherankan sekaligus menggelikan. Seorang pria yang telah mencapai akilnya dengan kelamin yang belum disunat adalah sesuatu yang mengerikan. Memang saat akan disunat, ia seringkali mendapati seorang anak yang kabur. Namun semua itu dapat dikendalikan dan berjalan sesuai dengan mestinya. Tapi, entah bagaimana ceritanya sudah sedewasa ini pemuda ini belum disunat.
      Ups!!
         Seharusnya ia tak perlu mempersoalkan ini terlalu jauh. Seharusnya ia bisa menjaga kerahasiaan aib ini seperti yang telah dijanjikan. Bukankah kejadian diluar sana lebih banyak lagi yang menggemparkan, yang tak bisa ditangkap oleh akal sehatnya sendiri dan tak terduga-duga?
        Ditengah kegelian dan keheranannya tiba-tiba Pak Muchtar memperoleh ide besar. Pikirannya terbuka luas. Setiap malam ia pergi jauh-jauh, namun kini justru ilham-ilham itulah yang menyergapnya didepan pintu rumahnya sendri. Kedatangan pemuda ini bersama masalah yang dihadapinya dapat membawa suasana baru kepada hidupnya yang sudah tak terkondisikan. Dengan ide besarnya ini, ia dapat membuat sensasi yang lebih dari heboh. Nyalinya akan teruji. Ia dapat membuktikan pada dunia sebagai manusia yang memiliki dendam terhadap segala tipuan, muslihat, ataupun pengelabuan. Takkan ada lagi pelacuran. Takkan ada lagi kejalangan. Malam akan kembali berdamai dengan batas-batas seharusnya----kesetiaan, keharmonisan, dan kebahagiaan.
       Segera ia ambil sebilah pisau. Dengan gerakan yang teratur dan penuh toleransi, ia mengerak-gerakkan benda tajam tersebut diatas batu asah. Hingga pikiran sadarnya hanyut terbawa daya imajinasinya yang selama ini dicita-citakannya. Kali ini ia benar-benar dapat menikmati pekerjaannya. Begitu bersemangat. Seluruh hasrat yang selama ini terpendam seperti tersalurkan melalui desah nafas dan keringatnya.
       Selesai mengasah, ia picingkan kedua matanya memeriksa seteliti mungkin setiap inci dari ketajaman pisau tersebut. Ia tahu daging pemuda itu pasti lebih liat daripada anak laki-laki yang pernah disunatnya,. Lalu, pisau itupun mengkilat seperti mengedipkan cahaya kepada matanya.
       Pemuda itu telah menunggunya didalam ruangan. Ia telah mengenakan sarunganya. Selama menunggu Pak Muchtar masuk, pikirannya tak karuan, berkelebat berbagai bayangan yang mungkin akan menimpanya. Namun pernikahan itu menjadi satu-satunya penyemangat.
       Pak Muchtar masuk. Tangan kanannya menenteng sebilah pisau yang berkilat-kilat. Pemuda itu segera berbaring diatas dipan dan menekuk kedua lututnya keatas. Debaran jantungnya menegang. Begitupula tatapannya menjadi awas memandangi Pak Muchtar seakan lelaki tua itu adalah algojo yang hendak memancungnya. Hawa dingin yang merasuki perasaannya  sebisa mungkin ia tahan.
      Pak Muchtar menyibakkan kain sarung itu keatas. Dengan ragu-ragu dan sedikit jiik, ia memegang kelamin pemuda itu. Pemuda itu merasa geli dan malu. Lantas, dengan cepat pisau menggores. Darapun mengucur deras keluar. Pak Muchtar tertawa keras-keras memperlihatkan hasil potongannya. Ia merasa bangga. Ia merasa puas. Sementara, pemuda itu justru menjerit sekeras-kerasnya sampai suaranya habis. Mungkin rasa nyeri dan perih yang ia rasakan dapat ia tahan. Tapi, ini benar-benar membuatnya kehilangan jati diri sebagai lelaki yang sesungguhnya. Ia telah menjadi betina, karena kelaminnya bukan lagi disunat tapi dikebiri.


CATATAN: Bengkong= dukun sunat dalam masyarakat Sunda.